● Perubahan iklim menyebabkan gagal panen dan penurunan produktivitas pertanian di pulau kecil, termasuk wilayah Indonesia Timur.
● Perempuan berperan besar dalam pengelolaan lahan tapi masih minim akses modal, lahan, dan pengambilan keputusan.
● Agroforestri Cerdas Iklim (CSAF) berbasis kearifan lokal dan peka gender penting untuk ketangguhan warga.
Perubahan iklim membuat cuaca ekstrem lebih sering terjadi, tak terkecuali di pulau-pulau kecil. Kondisi ini turut mengganggu produktivitas pertanian. Akibatnya, pendapatan masyarakat yang mayoritas bergantung pada sektor ini pun ikut menurun.
Studi kami tahun 2024–2026 di Sumbawa (NTB), Malaka (NTT), dan Maluku Tengah (Maluku) menemukan bahwa ketiga wilayah tersebut terdampak cukup parah.
Produktivitas tanaman utama turun drastis dibanding sebelumnya. Di Desa Batudulang, Sumbawa, produksi kemiri, kopi dan alpukat menurun karena musim hujan yang tak menentu. Kemudian di Desa Pelat (yang juga bagian dari Sumbawa), produksi kacang mete, padi, jagung, mangga, dan pisang cukup terdampak perubahan iklim.
Di kedua desa di Malaka (Alas dan Alas Utara), jagung yang menjadi sumber pangan utama mengalami gagal panen akibat kekeringan sejak tahun 2019. Di Maluku Tengah, bunga cengkih mudah rontok dan ukuran pala mengecil sehingga masyarakat bergeser ke komunitas pertanian yang harga jualnya lebih tinggi.
Ironisnya, masyarakat, terutama kelompok rentan sering kali tidak memiliki kapasitas dan pengetahuan yang memadai untuk beradaptasi dengan perubahan tersebut. Responden kami di ketiga lokasi rata-rata masuk kategori “sangat miskin” dengan kepemilikan lahan rata-rata kurang dari 2 hektare. Perubahan iklim membuat kondisi mereka semakin rentan.
Read more: Nasib anak-anak dan kaum muda marginal di Indonesia: Rentan terdampak iklim tapi tidak menyadarinya
Adaptasi masih terbatas
Hasil riset kami menemukan responden di Malaka dan Maluku Tengah hanya bisa melakukan upaya adaptasi terbatas.
Dari jumlah total responden 160 orang (100 orang di dua desa di Sumbawa dan Maluku Tengah dan 60 orang di Malaka), hanya sebagian kecil responden di Sumbawa yang telah mencoba beradaptasi perubahan iklim. Namun, kemampuan adaptasi masyarakat ini sangat bergantung pada pemahaman mereka tentang perubahan iklim.
Berdasarkan riset kami, di Sumbawa, responden sudah pernah mendengar dan lebih sadar akan isu perubahan iklim. Di Maluku Tengah, warga lebih mengenal istilah “pancaroba”, sedangkan di Malaka, sebagian besar responden bahkan belum pernah mendengar istilah perubahan iklim.
Karena itu, perlu ada program pelatihan literasi iklim untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat mengenai dampak perubahan iklim. Pelatihan semacam ini akan membuat masyarakat lebih mampu beradaptasi.
Agroforestri Cerdas Iklim (CSAF) bernuansa lokal
Literasi iklim saja tentu tidak cukup. Masyarakat perlu diberikan opsi praktis untuk beradaptasi, dibantu dengan dukungan yang memadai.

Penelitian kami menawarkan strategi integrasi praktik agroforestri cerdas iklim untuk membangun ketangguhan iklim dan penghidupan berkelanjutan.
Agroforestri adalah sistem pengelolaan lahan berkelanjutan yang menggabungkan tanaman hutan dengan tanaman pertanian atau peternakan di lahan yang sama secara bersamaan atau bergantian.
Dalam beberapa dekade terakhir, bukti ilmiah semakin menunjukkan bahwa agroforestri merupakan salah satu opsi paling menjanjikan bagi masyarakat pulau kecil untuk bertahan di tengah dampak negatif perubahan iklim.
Misalnya, tanaman agroforestri bisa terlindung dari kekeringan saat kemarau karena tanaman hutan yang menaunginya bisa mengurangi risiko penguapan. Praktik ini juga meredam ancaman longsor karena akar-akar pohon lebih kuat mencengkeram tanah.
Di Malaka dan Maluku Tengah, masyarakat sebenarnya sudah mengenal sistem agroforestri tradisional.
Di Malaka, mereka mengenal mamar, atau sistem agroforestri tradisional yang memadukan tanaman kehutanan/tahunan dengan tanaman pertanian di sekitar sumber mata air.
Di Maluku tengah, mereka juga mengenal dusung, sistem pertanian tradisional yang menggabungkan tanaman tahunan (pohon rempah/buah) dan tanaman semusim dalam satu lahan secara berkelanjutan.
Namun, pola agroforestri di ketiga lokasi penelitian didominasi oleh campuran acak dengan waktu penanaman yang tidak teratur. Kedua sistem agroforestri tradisional—mamar dan dusung—juga belum dioptimalkan secara ekonomi sehingga belum mampu mengungkit pendapatan masyarakat.
Berdasarkan temuan lapangan tersebut, penelitian kami merekomendasikan beberapa skenario CSAF yang lebih efektif sesuai kondisi lokal:
-
Di Sumbawa, masyarakat bisa menerapkan agroforestri berbasis buah sesuai wilayah. Di daerah hulu (Batudulang), masyarakat bisa menanam pohon hutan seperti alpukat dan durian. Sementara di daerah tengah dan hilir (Pelat), masyarakat bisa memadukan tanaman pangan dan ternak (agrosilvopastura) agar sumber pendapatan lebih beragam.
-
Di Malaka, masyarakat bisa berfokus mempraktikkan agroindustri produk nonkayu (seperti pengolahan minyak kemiri dan keripik pisang) menjadi produk bernilai tinggi. Masyarakat juga bisa memilih komoditas yang lebih tahan cuaca ekstrem seperti jati, mahoni, gamal, alpukat, lontar, dan kelapa.
-
Di Maluku Tengah, integrasi sistem silvopastura (ternak ayam/bebek) dan perikanan (keramba jaring apung) dengan hutan mangrove bisa jadi solusi diversifikasi pendapatan sekaligus memperkuat ketahanan pangan.
CSAF ini perlu diintegrasikan ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) lalu diikuti dengan pelatihan dan penguatan kapasitas penggerak lokal (local champions), serta pembangunan infrastruktur air (seperti embung, waduka, pipa, dan saluran irigasi) untuk menjaga ketersediaan air sepanjang musim.
Read more: Perempuan-perempuan Dayak melawan dampak tambang batu bara dengan kebun cabai
Perempuan perlu lebih dilibatkan
CASF juga harus dipraktikkan dalam semangat memperkuat kesetaraan gender.

Selama ini, laki-laki umumnya mendominasi kegiatan persiapan lahan agroforestri dan produksi. Sementara perempuan lebih banyak berperan dalam pemeliharaan tanaman, pascapanen, dan pemasaran.
Meski berperan penting, kontribusi perempuan sering kali kurang diapresiasi dan tidak dimanfaatkan secara optimal. Perempuan di wilayah-wilayah ini sulit mengakses lahan, kredit perbankan, teknologi pertanian, serta layanan penyuluhan.
Norma gender tradisional juga sering kali membatasi partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan strategis, termasuk saat mengelola lahan. Akhirnya, perempuan yang umumnya menjadi pengelola rumah tangga menjadi kelompok yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim sumber daya dan informasi mereka terbatas.
Agroforestri yang responsif gender bukan hanya soal keadilan, tetapi kunci penting dalam mewujudkan ketangguhan masyarakat dan lingkungan pulau-pulau kecil Indonesia. Kolaborasi masyarakat lokal, pemerintah, dan pemangku kepentingan merupakan kunci utama untuk memperluas upaya ini di berbagai wilayah rentan lainnya.
Artikel ini merupakan hasil kolaborasi diseminasi sains para pakar bersama KONEKSI dan The Conversation Indonesia.



Comments are closed.