Setiap kali sejarah politik Islam dibahas secara jujur, hampir selalu muncul dua reaksi yang berlawanan tetapi sama-sama bermasalah. Yang pertama adalah kelompok yang merasa perlu membela masa lalu dengan menutupi sisi-sisi kelamnya. Yang kedua adalah kelompok yang menjadikan setiap konflik dalam sejarah Islam sebagai bukti bahwa Islam atau peradaban Islam telah gagal sejak awal.
Padahal keduanya sedang melakukan kesalahan yang sama: memperlakukan sejarah sebagai alat propaganda, bukan sebagai sumber pelajaran.
Dalam sebuah tulisan yang diunggah pada platform Facebook, Bambang Prasodjo menulis, “Lalu apa yang membedakan dunia Islam? Bukan ketiadaan kekerasan politiknya. Itu jelas ada dan tidak bisa disangkal. Tapi kejujuran melihat masa lalu agar dijadikan pelajaran di masa depan.”
Saya sepakat bahwa kekerasan politik bukanlah monopoli satu peradaban dan bahwa keberanian menghadapi masa lalu secara jujur merupakan salah satu syarat kedewasaan intelektual.
Namun saya berbeda pandangan ketika argumen tersebut kemudian dibangun melalui perbandingan dengan berbagai peradaban lain untuk menunjukkan bahwa pihak lain lebih brutal. Sebab ukuran kedewasaan sejarah bukanlah membuktikan bahwa orang lain memiliki catatan yang lebih kelam, melainkan keberanian menerima fakta sejarah apa adanya tanpa perlu mencari pembanding untuk mengurangi bobot fakta tersebut. Sekilas argumen ini tampak kuat. Bahkan sebagian besar faktanya benar.
Roma memang dipenuhi intrik dan pembunuhan politik. Bizantium memiliki tradisi mutilasi lawan-lawan politik. Dinasti-dinasti Tiongkok mengenal perang saudara yang memakan korban besar. Kerajaan-kerajaan Eropa berabad-abad lamanya bergelimang konflik dinasti, perebutan takhta, dan pembunuhan keluarga sendiri demi kekuasaan. Tidak ada sejarawan serius yang akan membantah hal itu. Masalahnya, fakta tersebut tidak otomatis menjawab persoalan yang sedang dibahas.
Jika seseorang membicarakan tragedi Karbala, perang antara Ali dan Muawiyah, pembunuhan Utsman, atau konflik-konflik politik dalam sejarah Islam, lalu dijawab dengan mengatakan bahwa Roma juga brutal, maka yang terjadi bukanlah klarifikasi sejarah melainkan pengalihan pembahasan.
Logika semacam ini dikenal sebagai whataboutism. Bayangkan seseorang mengkritik korupsi di sebuah negara, lalu dijawab bahwa negara lain juga korup. Informasi itu mungkin benar, tetapi tidak menjawab substansi persoalan.
Demikian pula dalam sejarah. Bahwa Roma brutal tidak membuat tragedi Karbala menjadi tidak terjadi. Bahwa Bizantium kejam tidak membuat perang saudara dalam dunia Islam menjadi hilang. Bahwa Eropa memiliki sejarah kolonialisme yang berdarah tidak menghapus konflik-konflik internal yang pernah terjadi dalam pemerintahan Islam.
Kebenaran sejarah tidak bekerja seperti timbangan politik yang dapat diseimbangkan dengan menambahkan dosa pihak lain. Yang lebih mengganggu adalah kecenderungan sebagian orang untuk mengubah kajian sejarah menjadi pertarungan identitas antara “Islam” dan “non-Islam”. Padahal sejarah manusia jauh lebih kompleks daripada pembagian hitam-putih semacam itu.
Apa yang dimaksud dengan “non-Muslim”? Apakah Roma Pagan sama dengan Bizantium Kristen? Apakah Tiongkok Dinasti Tang sama dengan kerajaan-kerajaan Eropa abad pertengahan? Apakah Persia Sassaniyah sama dengan Inggris modern?
Menyatukan seluruh pengalaman sejarah tersebut ke dalam satu kategori besar bernama “non-Muslim” lalu menyimpulkan bahwa mereka lebih brutal adalah penyederhanaan yang sulit diterima dalam dunia akademik.Sebaliknya, dunia Islam sendiri juga bukan entitas tunggal.
Pengalaman politik pada masa Khulafaur Rasyidin berbeda dengan Umayyah. Umayyah berbeda dengan Abbasiyah. Abbasiyah berbeda dengan Utsmaniyah. Masing-masing memiliki karakter, keberhasilan, dan kegagalannya sendiri. Karena itu, sejarah tidak boleh dibaca sebagai pertandingan antara dua kubu besar yang saling berlomba menunjukkan siapa yang lebih suci atau siapa yang lebih berdosa. Tulisan tersebut juga memuji tradisi historiografi Islam karena dianggap lebih jujur dalam mencatat kesalahan penguasanya.
Di sini saya setuju sebagian. Memang benar bahwa karya-karya seperti Tarikh al-Umam wal Muluk karya Al-Thabari, Al-Bidayah wan Nihayah karya Ibn Katsir, atau Siyar A’lam an-Nubala karya Adz-Dzahabi menunjukkan keberanian intelektual yang luar biasa. Banyak tragedi politik, penyimpangan penguasa, bahkan konflik internal umat dicatat secara terbuka dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Ini adalah kekayaan intelektual yang layak dibanggakan. Namun kita juga perlu jujur bahwa keberanian intelektual semacam itu bukan monopoli peradaban Islam.
Thucydides di Yunani, Tacitus di Romawi, Sima Qian di Tiongkok, hingga banyak kronikus Eropa juga meninggalkan catatan-catatan yang tidak selalu menyenangkan bagi penguasa.
Sejarah dunia dipenuhi oleh orang-orang yang berani menulis kenyataan meskipun kenyataan itu tidak nyaman. Karena itu, tidak perlu mengklaim bahwa satu peradaban memiliki monopoli atas kejujuran sejarah. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita menyikapi warisan sejarah tersebut. Saya justru melihat keindahan sejarah Islam ketika ia tidak disembunyikan.
Keagungan Islam tidak terletak pada ketiadaan konflik politik di masa lalu. Keagungan Islam justru tampak ketika umatnya berani mengakui bahwa konflik itu pernah terjadi, mempelajarinya dengan jujur, lalu mengambil hikmah darinya.
Kita tidak perlu malu karena sejarah Islam memiliki tragedi.
Tetapi kita juga tidak perlu membela tragedi itu dengan menunjuk tragedi yang dilakukan orang lain. Sejarah bukan arena lomba kebrutalan. Tidak ada medali emas bagi peradaban yang paling sedikit membunuh. Tidak ada trofi bagi bangsa yang paling banyak menumpahkan darah. Dan tidak ada manfaat intelektual dari menghitung dosa satu peradaban untuk menutupi dosa peradaban lainnya.
Tugas sejarah adalah membuat kita lebih bijaksana, bukan lebih fanatik. Jika setelah membaca sejarah kita hanya menjadi pembela buta kelompok sendiri atau pembenci kelompok lain, maka kita telah gagal memahami fungsi paling mendasar dari sejarah itu sendiri.
Karena pada akhirnya, setiap peradaban memiliki pahlawannya, memiliki pencapaiannya, memiliki dosanya, dan memiliki tragedinya. Yang membedakan manusia yang dewasa dari manusia yang fanatik bukanlah kemampuan membela masa lalu, melainkan keberanian melihat masa lalu apa adanya. Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.





Comments are closed.