Fri,17 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Jurnalistik
  3. Seleksi alam yang berbahaya: Evolusi parasit jadi ancaman manusia

Seleksi alam yang berbahaya: Evolusi parasit jadi ancaman manusia

seleksi-alam-yang-berbahaya:-evolusi-parasit-jadi-ancaman-manusia
Seleksi alam yang berbahaya: Evolusi parasit jadi ancaman manusia
service

● Parasit kini berevolusi lebih cepat akibat ulah manusia.

● Pengobatan massal yang berulang tanpa perbaikan sanitasi memicu munculnya parasit kebal.

● Indonesia harus memantau perubahan genetik parasit, bukan sekadar menghitung jumlah kasus.


Kita sering memperlakukan parasit sebagai masalah teknis. Misalnya, saat kasus malaria tengah meluas, kita mencoba mengendalikan populasinya dengan penyemprotan gas pembunuh nyamuk hingga pengobatan massal.

Perlakuan itu memang tidak salah. Namun, di masa depan, cara-cara mengatasi parasit tersebut bisa jadi tidak cukup. Mengapa?

Parasit adalah makhluk yang dapat berevolusi di bawah tekanan perubahan iklim, pencemaran, alih fungsi lahan, perdagangan satwa, pertanian intensif, maupun penggunaan obat berulang. Artinya, kemampuan parasit dalam bertahan dan beradaptasi turut berkembang.

Inilah pesan penting dari artikel Robert Poulin dan puluhan koleganya di jurnal Evolutionary Applications. Mereka mengingatkan bahwa di era Antroposen (ketika aktivitas manusia mengubah Bumi begitu cepat), sebagian parasit dapat beradaptasi dan berevolusi dalam waktu tidak terlalu lama.

Karena itu, kita tidak cukup hanya bertanya: ke mana parasit akan menyebar ketika suhu meningkat? Kita juga perlu bertanya: parasit seperti apa yang sedang terbentuk oleh perubahan lingkungan dan bagaimana cara mengendalikannya?

Bagaimana parasit berevolusi?

Suhu, hujan, banjir, kekeringan, dan kelembapan dapat memengaruhi siklus hidup parasit serta vektornya. Vektor adalah organisme penular, misalnya nyamuk Anopheles yang dapat membawa parasit malaria dari satu manusia ke manusia lain.

Pada kondisi tertentu, tekanan lingkungan dapat menjelma “materi ujian” dalam seleksi alam: parasit yang lebih mungkin bertahan adalah yang lebih tahan terhadap kondisi baru, lebih cepat berkembang, atau lebih efisien menginfeksi inang.

Ambil contoh suhu. Pada malaria, suhu memengaruhi daya hidup nyamuk Anopheles dan kemampuan parasit Plasmodium menyelesaikan siklus pertumbuhannya di tubuh nyamuk.

Jika suhu cukup hangat, perkembangan parasit di dalam nyamuk bisa berlangsung lebih cepat. Nyamuk yang awalnya tak sempat menularkan parasit sebelum mati, bisa hidup cukup lama untuk menularkannya.


Read more: 58% penyakit menular manusia dapat diperburuk oleh perubahan iklim – kami menjelajahi 77.000 riset untuk petakan jalurnya


Dalam jangka panjang, kondisi seperti ini dapat menguntungkan parasit atau vektor yang paling sesuai dengan lingkungan baru.

Poulin dan koleganya menekankan bahwa evolusi parasit akibat ulah manusia bukan sekadar teori.

Salah satu contoh paling dikenal adalah resistansi obat pada parasit malaria. Di banyak tempat, Plasmodium falciparum pernah berubah sehingga obat lama seperti klorokuin dan sulfadoksin-pirimetamin tidak semanjur sebelumnya. Akhirnya banyak negara menggunakan cara pengobatan lain.

Contoh lain datang dari peternakan domba atau kambing. Cacing parasit saluran pencernaan seperti Haemonchus contortus dapat terus beredar ketika obat cacing diberikan berulang tanpa pemeriksaan infeksi, dosis yang tepat, dan perbaikan tata kelola kandang.

Cacing yang masih hidup setelah pengobatan berpeluang lebih besar untuk berkembang biak dan meneruskan ‘sifat tangguhnya’.

Mengapa ini penting bagi Indonesia?

Pengendalian parasit merupakan isu yang sangat dekat dengan kita. Mulai dari puskesmas, sekolah, kandang ternak, kolam budidaya, kawasan pesisir, sanitasi permukiman, hingga wilayah lain yang semakin tertekan oleh perubahan iklim.

Dua contoh yang mudah dikenali adalah malaria dan penyakit cacingan. Keduanya cukup akrab bagi masyarakat Indonesia, tetapi perkembangan kasusnya sering kali hanya dilihat dari sisi jumlah kasus, sebaran wilayah, atau program pengobatan.

Padahal, keduanya membutuhkan pemantauan parasit yang lebih cermat.

Dalam penularan malaria, parasit seperti Plasmodium falciparum tidak bekerja sendirian. Ada suhu, curah hujan, perubahan lingkungan, mobilitas penduduk, kualitas diagnosis, dan kemanjuran obat yang turut menentukan penyebarannya.


Read more: Malaria di Tanah Papua: Komunikasi lisan kunci percepat pemberantasan penyakit


Oleh karena itu, pengendalian malaria akan sulit ampuh jika pemantauan penyakit hanya mengandalkan pencatatan jumlah kasus. Pemantauan juga perlu membaca kemanjuran obat, perubahan pola penularan, serta hubungan antara iklim, lingkungan, dan vektor malaria.

Di Papua sebagai daerah dengan kasus malaria tertinggi, misalnya, pembabatan hutan ataupun perpindahan manusia juga perlu dikendalikan karena bisa menjadi salah satu sebab penyebaran nyamuk Anopheles.

Adapun dalam kasus cacingan, program pemberian obat cacing memang penting untuk melindungi anak dari infeksi cacing gelang dan cacing cambuk. Namun, infeksi dapat terjadi kembali bila sanitasi buruk, air bersih terbatas, dan kebiasaan hidup bersih belum kuat.

Dalam kasus cacing usus manusia, bukti resistansi obat memang belum sekuat pada parasit ternak. Namun, para peneliti mengingatkan pemberian obat massal berulang dapat menjadi ajang seleksi cacing-cacing kebal, sehingga efektivitasnya harus terus dipantau.


Read more: Ancaman cacingan strongyloidiasis di Kalimantan Selatan: Kebiasaan warga bisa picu penyakit


Memantau dari hulu ke hilir

Sebenarnya dunia telah mengenal pendekatan One Health untuk menekankan bahwa masalah kesehatan tidak hanya terkait pada manusia, melainkan juga hewan dan lingkungan. Misalnya, perburuan satwa liar dan mencegah pembabatan hutan bisa mengurangi munculnya risiko wabah baru seperti COVID-19.


Read more: Bagaimana memahami pendekatan One Health dari sepotong steak dan pizza di piring kita?


Namun, pendekatan One Health juga perlu memasukkan dimensi evolusi karena parasit maupun kuman berbahaya juga bisa berubah. Penyakit akibat makhluk mikroskopis ini bukan hanya berpindah antarruang atau antarspesies.

Apa yang bisa kita lakukan?

Pertama, memperkuat pemantauan evolusi parasit. Pemantauan tidak boleh hanya mencatat ada atau tidaknya parasit, jumlah kasus, atau cakupan pengobatan.

Untuk malaria, kita perlu memantau pola penularan, efektivitas obat, perubahan vektor, dan kaitannya dengan iklim. Sementara untuk kasus cacingan, kita perlu memantau infeksi ulang, sanitasi, kepatuhan minum obat, dan kelompok anak yang paling rentan.

Selain itu, kapasitas lab, pemeriksaan genomik, dan penyimpanan sampel parasit juga harus diperkuat agar kita bisa membaca perubahan parasit dari waktu ke waktu.

Kedua, memperbaiki tata kelola obat, produksi pangan, dan sanitasi. Obat tetap penting, tetapi penggunaannya perlu tepat dosis, tepat sasaran, dan berbasis diagnosis.

Kita harus lebih memperhatikan kondisi lingkungan di peternakan dan perikanan budi daya, biosekuriti, kepadatan hewan, hingga kualitas air.

Ketiga, menghubungkan kebijakan kesehatan dengan iklim dan lingkungan. Alih fungsi lahan, pencemaran air, kerusakan habitat, sanitasi buruk, dan perubahan hidrologi dapat mengubah keseimbangan antara manusia, hewan, vektor, dan parasit.

Karena itu, menjaga kualitas lingkungan bukan hanya agenda konservasi. Ia juga bagian dari usaha mencegah evolusi parasit menjadi lebih tangguh.


0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.