Kabarwarga.com – Ada yang aneh dengan republik ini. Sebuah acara televisi berjudul Xpose Uncensored di Trans7 menayangkan “investigasi” yang, entah kenapa, berakhir menghina pesantren, santri, dan para kiai. Lucunya, yang marah bukan hanya kalangan pesantren. Dunia maya pun langsung panas. Netizen bereaksi lebih cepat dari KPI, lebih tajam dari wartawan investigasi, dan tentu saja—lebih emosional dari fakta itu sendiri.
NU pun jadi bulan-bulanan. Seolah-olah pesantren yang diserang itu bukan lembaga pendidikan, tapi partai politik yang sedang kampanye. Ada yang menuduh NU baper, ada yang menuduh balik: “itu cuma konten hiburan, kok serius amat?” Tapi anehnya, tak satu pun dari mereka yang paham apa rasanya jadi santri. Mereka tidak tahu aroma kasur asrama yang lembap, nasi liwet seadanya, dan kitab kuning yang baunya khas karena sering kena asap lampu teplok.
Saya jadi teringat satu hal: setiap kali pesantren diserang, selalu ada dua kubu yang muncul. Kubu pertama, mereka yang benar-benar tersinggung karena tahu pesantren bukan hanya tempat belajar agama, tapi juga tempat menempa karakter. Kubu kedua, mereka yang merasa paling rasional tapi tidak tahu perbedaan antara satire dan pelecehan. Mereka ini biasanya punya hobi baru: mencemooh atas nama kebebasan berekspresi, sambil duduk di kafe yang wifinya kencang.
Padahal, kalau mau jujur, pesantren adalah salah satu benteng terakhir moral bangsa. Tanpa pesantren, mungkin negeri ini sudah lama kehilangan sabarnya. Tapi aneh, ketika dunia hiburan mulai kehabisan ide, pesantren malah dijadikan bahan lelucon. Yang diserang bukan cuma lembaga, tapi simbol – kiai, sarung, dan tradisi. Semua dikuliti seperti mereka tak punya kehormatan.
Reaksi NU kali ini terbilang wajar. Bahkan bisa dibilang terlalu sopan untuk ukuran zaman yang gemar menghina atas nama konten. Coba bayangkan, jika yang dihina itu kelompok lain, mungkin sudah viral tagar #laporkanpolisi dan debat kusir tentang intoleransi. Tapi karena ini pesantren, banyak yang malah bilang, “ah biasa aja, cuma bercanda.”
Trans7 sudah minta maaf. Bagus. Tapi maaf, dalam dunia pesantren, minta maaf itu bukan sekadar formalitas pers. Ada tanggung jawab moral di situ. Santri diajarkan, kalau salah, jangan cuma bilang “maaf” di depan kamera, tapi juga datang ke yang disakiti. Maka ketika Dirut Trans7 berencana sowan ke Lirboyo, itu langkah yang lebih berarti daripada seribu rilis pers.
Namun, yang paling menarik bukan peristiwa itu sendiri, melainkan refleksi sosial di baliknya. Betapa mudahnya publik kita terbelah: antara mereka yang marah karena iman, dan mereka yang marah karena algoritma. Media sosial sudah seperti medan jihad baru — bukan untuk menegakkan kebenaran, tapi untuk menegakkan engagement rate.
Mungkin, ini saatnya kita belajar dari para kiai: ketika dihina, mereka tidak balas menghina. Mereka justru mengajarkan adab. Dalam dunia yang semakin berisik ini, adab memang terasa paling sunyi. Tapi justru dari kesunyian itu, bangsa ini pernah berdiri tegak.
Jadi, bagi yang masih menganggap pesantren itu kuno, mungkin Anda perlu reality check. Di sanalah lahir orang-orang sabar yang tidak ikut memaki di kolom komentar. Sementara di dunia maya, banyak yang mengaku cerdas tapi tak tahu cara meminta maaf dengan benar.
Dan ya, mungkin benar kata pepatah lama pesantren: “Yang paling bahaya bukan orang bodoh yang tak tahu, tapi orang pintar yang merasa tahu segalanya.”
Hari-hari ini, barangkali, mereka sedang ramai di Twitter, X, Tiktok, Facebook dan kawan-kawan. (webMin)





Comments are closed.