Buku tercipta melalui proses berdarah. Punya manuskrip saja tak cukup, kau harus menyunting naskahmu sampai layak baca, setelah sempurna, karyamu baru bisa mejeng di Gramedia, itu pun belum tentu laris, bisa jadi cuma nongkrong seminggu, lalu di minggu selanjutnya diobral lima ribuan di bazar, atau lebih menyakitkan, dikilokan. Itu dulu. Sekarang, kau cuma perlu pengikut 10 ribu untuk mencipta buku, penerbit akan khusyuk mengintilmu menanyakan apakah kamu punya naskah atau tidak. Jika ya, selamat! Beberapa bulan kemudian, bukumu sudah nangkring di Gramedia. Jaminan laris-nya tinggi, karena kamu punya pengikut militan di TikTok, yang bersedia melakukan apapun demi dirimu, apalagi cuma membeli buku. Para penulis TikTok, kebanyakan Gen Z (aku juga berasal dari sini), mereka mau dicap sebagai ‘penulis’ secara instan, tanpa mau melewati proses latihan. “Satu-satunya cara engkau jadi penulis adalah” tulis Stephen King dalam bukunya On Writing “menanam bokongmu di kursi dan menulis sampai jemarimu berdarah”. Kami, para Gen Z menyanggah: jika bisa berkarya tanpa berdarah, kenapa tidak? Jika bisa langsung cetak, kenapa tidak? Jika bisa langsung disebut dengan penulis, kenapa tidak? Stephen King menulis cerpen sejak dia usia 12 tahun, dan baru menerbitkan buku pertamanya, Carrie, di usia 27. Rentang waktu dari pertama menulis sampai terbit buku pertama: 15 tahun. Yusi Avianto dan Ahmad Tohari, rutin mengirimkan cerpennya ke media massa sebelum mencipta buku. Ingat, Ronggeng Dukuh Paruk awalnya merupakan cerita bersambung di Kompas dan Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi berasal dari cerpen di Rumah Kopi Singa Tertawa. Berlatih adalah kunci dari semua jenis kesenian, dalam dunia stand-up comedy, seorang komika harus open mic ratusan kali untuk bisa membawakan satu set yang gerrrr. David Coperfield (si pesulap, bukan novelnya Dickens) pernah bilang. “It takes 500 shows to get the trick right, and more than a thousand to make it feel good“. Sementara penulis Gen Z yang besar dari TikTok memiliki kecenderungan melompati proses latihan untuk langsung mencipta sebuah karya. Mereka ingin sukses tanpa mau berjuang. Sebetulnya, arena latihan itu nggak melulu tembus koran Kompas atau Tempo, Raditya Dika, Agus Mulyadi, dan aku, menggunakan blog sebagai media buat mengasah tulisan. Pula Eka Kurniawan, kumpulan tulisan blognya, kebanyakan tentang sastra, bisa dibaca di Senyap yang Lebih Nyaring. Kalau enggan ngeblog karena sudah ketinggalan zaman, kamu juga bisa mengalihwahanakan tulisan melalui konten, misal membedah mengapa paragraf pembuka Merahnya Merah bisa menggaet pembaca secara instan. Kalau kau malu saking introvertnya, sekadar berlatih lewat buku harian sebenarnya sudah cukup untuk melatih jemari agar tidak layu. Aku sengaja membeli dua buku karya penulis TikTok dengan pengikut ratusan ribu (setelah aku amati, buku-buku penulis TikTok ini memiliki tema serupa, perkara cinta (kebanyakan tentang patah hati, HTS, atau cara move on dari mantan), atau buku tentang pengembangan diri yang menjadikan Tuhan sebagai panasea). Abang paket datang membawa pesananku, aku cabik-cabik bungkusnya, aku cium aromanya, kemudian aku baca. Ugh. itu reaksi pertamaku. “Mungkin akan lebih mending di halaman selanjutnya”, itu reaksi kedua. Setelah khatam dalam sekali dudukan (panjangnya tak lebih dari 2000 kata), dahiku langsung mengernyit, “Kok buku kaya gini bisa terbit sih?”. Sumpah, bagian terbaik dari buku itu hanyalah aromanya, selain itu cuma kumpulan kutipan mentah, yang dibikin tanpa proses perenungan, tanpa proses latihan. Aku juga menemukan kutipan yang serupa di satu buku yang sama. Ada paling tidak 7 kalimat “aku merelakanmu”, “semoga kamu bahagia” 9 kali, dan “semenyakitkan itu” dan “serindu itu” sebanyak 97978968 kali. Tapi bagus/jelek-nya tulisan kan tergantung selera, bang? Betul, kau suka nasi goreng Pak Owi bukan berarti aku juga menyukainya. Tapi, bikin nasi goreng kan ada resepnya. Nggak asal masukin bahan aja. Sama halnya dengan tulisan, ia diracik berdasar bahan-bahan berupa: struktur, dramatika, diksi, eksposisi, dan lainnya. Tentu engkau bisa membedakan novel Jokowi sI Tukang Kayu dengan Bumi Manusia, bukan? Beberapa saat lalu, satu penerbit bertanya “Mas Alwi tertarik nulis buku?” Tentu saja aku mau, itu mimpiku sedari masih zigot. Aku ceritakan premisku dan si penerbit mengejar-ngejar, kita ketemu mas, ayo minggu depan, ayo hari ini. Awalnya menggiurkan, tapi setelah kupikir, penerbit itu mengejarku bukan karena mutu tulisanku, tapi karena jumlah pengikut Instagram dan TikTokku. Tunggu, kataku, aku belum layak, aku belum cukup berlatih. Sudah banyak hal dalam hidupku yang aku dapatkan secara instan, setidaknya aku ingin mendapat predikat penulis dengan susah payah dan kalau bisa, berdarah-darah. Kembali ke kalimat pertama.
Temanggung,
13 Januari 2026.





Comments are closed.