1
“Rokok?” Kawanku Rodrigo menyodorkan Marlboro ice burst. Satu batang sudah mencuat dari bungkus, tinggal ambil dan hisap. Aku menatapnya nanar. Kemudian muncul malaikat di sisi kanan dan iblis di sisi kiri seperti yang sering kau temukan di kartun-kartun. Satu batang tak membuatmu kanker, kata si iblis. Ohh Alwi, rokok akan merusak paru-parumu, si putih menimpali. Ayolah ambil. Jangan, Alwi. Ambil. Jangan. Ambil. Jangan. Aku mengambil sebatang. Tembakau terbakar perlahan beriringan dengan satu hisap panjang. Inilah rokok pertamaku setelah pensiun 5 tahun. Seminggu setelahnya aku menjadi kereta api. Setelah makan, sebat. Di antara secangkir kopi, sebat. Dan aku mulai paham kenapa banyak putung rokok ditemukan di lubang jamban. Karena boker sambil nyebat adalah kegiatan paling filsafat yang bisa dilakukan umat manusia modern. Di minggu kedua aku mulai memilih rokok yang sesuai dengan lidahku, seperti memilih menu warteg saja, jika tak suka, esok tak usah memesannya lagi. Pilihanku jatuh kepada Sampoerna Splash warna ungu: tak terlalu berat, tak cepat habis, dan aku suka sensasi memecahkan bulatan dalam filter yang membuat rasa tembakau tak begitu menyengat. Jika tujuan diciptakannya rokok pop/klik/rasa adalah untuk merekrut non-perokok menjadi perokok pemula, maka sialan, mereka berhasil merekrutku. Beberapa minggu nongkrong bareng Rodrigo, sambil merokok tentu saja, aku mulai tahu tipe-tipe orang berdasar rokoknya, tak bisa digeneralisir, tapi kurang lebih seperti ini:
Gudang Garam: Kuli dan mahasiswa tanggal muda
Marlboro Merah: Petinggi perusahaan yang mengisap rokok di tengah-tengah meeting
Sampoerna Mild: Mereka yang tidak mampu beli Marlboro Merah
Djarum Super: Satpam kompleks, bapak-bapak paruh baya, atau pensiunan tentara
Sukun kretek: Kuli dan mahasiswa tanggal tua atau budayawan yang hidup dari seni secara kaffah
Dji Sam Soe: Kyai NU
Rokok klobot: Eyang buyut yang ikut berperang bersama Jenderal Soedirman
Esse: Perempuan yang baru pertama nyoba rokok atau homo.
Sampoerna ungu: Penulis yang ingin menjadi seperti Steinbeck atau Bukowski, tapi nggak jadi.
2
“Kalo gue lagi buntu di tengah kalimat,” tulis Dani Saphiro dalam artikelnya di Majalah Vogue “gue selalu ambil Marlboro Merah di saku celana dan mengisapnya”. Banyak penulis lain yang keranjingan rokok, entah rokok filter seperti Oscar Wilder, pipa seperti Tolkien (kecintaannya akan pipa ia selebrasikan di serial Lord of The Rings), atau cerutu seperti Mark Twain, yang bilang, “kalau di surga nggak ada cerutu, mending gue nggak usah ke sana”. Jika penulis-penulis hebat itu merokok, kenapa aku nggak? Alasan konyol untuk merokok, tapi begitulah. Aku yang biasanya nulis di ruangan ac, kini pindah di bagian luar. Melakukan dua hal bersamaan: menulis dan merokok. Wah aku merasa jadi Sartre ketika lagi duduk di sudut cafe di paris saat nulis Being and Nothingness. Ketika pikirku buntu, aku biarkan tulisan berhenti di tengah kalimat, lalu aku sebat. Suntikan nikotin membuatku seperti mendapat power-up, ide-ide di otak bermunculan dan abrakadabra! Paragraf yang tadinya ruwet jadi terurai.
Lalu pertanyaannya: apakah rokok membuat tulisanku semakin bagus? Aku harap ya, tapi ternyata tidak. Apapun yang berasal dari luar: rokok, cimeng, ciu (atau mungkin kata-kata semangat dari gebetan) tidak membuat karya kita semakin aduhai. Latihan dan disiplinlah yang membuatnya demikian. Aku paling suka kisah pelopor gonzo journalism, Hunter S. Thompson. Gaya tulisan jurnalis itu: subjektif, berantakan, dan lompat-lompat dari kisah satu ke kisah lain, seolah mengacungkan jari tengah pada aturan dasar jurnalisme yang harus runtut dan mengandung 5W+1H. Banyak orang mengira kalau alkohol dan narkoba yang membentuk gaya tulisannya. Padahal, dia adalah orang yang menulis ulang karya Fitzgerald untuk pemanasan sebelum menulis. Disiplin menulisnya sekeras pendekar Shaolin. “Masalah dalam diri, kagak bisa diselesaikan dengan barang dari luar”. Konsepnya sama seperti whey protein tak bikin kau langsung jadi kekar macam Ade Rai, jika kau tak pernah main ke gym sama sekali. Sepatu pelat karbon tak serta merta membuat larimu sekencang Eliud Kipchoge, jika latihan saja kau tak pernah. Membaca Psychology of Money tak membuatmu kaya mendadak, jika duit investasi kamu habiskan di warung kopi. Minum teh hijau juga tak membuatmu kurus dalam sehari, jika kau masih makan BicMac 5 kali sehari. Sama: Rokok tak membuatmu jadi penulis luhur, jika tiap hari jemarimu tak pernah dipakai buat menari.
3
Sekolah dasar kelas dua, adalah waktu pertama kali aku mengisap tembakau. Rasanya pahit di mulut seperti mengunyah lumpur. “Ngerokok yang bener tuh gini” Solihin, abang-abangan di kampungku mengisap satu batang Gudang Garam, lalu memasukkan asapnya ke paru-paru seolah asap itu oksiden, baru setelahnya ia embuskan dalam bentuk bulatan. “Sekarang kamu coba”. Aku telan asap rokok pertamaku itu, dan anjing, aku terbatuk-batuk, sementara dia terbahak-bahak. Waktu itu aku anggap Solihin adalah cowok paling keren sedunia: merokok, potongan rambut emo, dan tiap malam Jumat ia bersama kawan-kawannya (yang berbusana sama) suka menelan cairan biru beraroma kuat. Kelak aku tahu itu adalah ciu yang secara serampangan ia oplos dengan bensin premium. Aku menirunya dengan parasetamol yang diminum bersamaan dengan Frenta, menurut salah seorang kawan Solihin, kombinasi maut itu bisa bikin oleng, “Dan salatmu masih diterima Gusti Allah”. Setelah dewasa aku tahu sebutan untuk orang semacam Solihin: jamet. Jika kata jamet kurang menjelaskan, aku bisa menambah daftarnya: pengangguran, madesu, badung, nakal, keparat, kriminal, bedebah, hama, pemabuk, pemberi contoh buruk pada generasi muda desa, dan mungkin kalau pakai jargon pemerintah, penyebab gagalnya Indonesia emas 2045.
“Jangan coba ini,” kata Pak Puji, pelatih lariku sambil menunjukkan rokok di tangannya “Bikin larimu jadi lambat”. Seperti Ancelotti, ia bisa menghabiskan satu bungkus rokok tiap satu sesi latihan. Aku patuh, selama SMP sampai SMA, rokok sama sekali tak aku sentuh. Beberapa tahun lalu, Pak Puji meninggal dunia, salah satu yang mempercepat kematiannya adalah kebiasaannya merokok. Semenjak itu aku semakin ogah menyentuh rokok, ia memperlambat lari, mempercepat mati.
Barulah di masa kuliah, ketika aku sudah bebas dari pantauan orangtua, aku mulai mencoba rokok lagi. Kali ini motifnya supaya dapat diterima di sebuah lingkar pertemanan. Aku hisap rokok dengan jari telunjuk dan jempol, aku kira itu cara merokok keren seperti Robert DeNiro di Goodfellas. Tapi lingkaran pertemanaku bilang kalau caraku merokok benar-benar fals. Aku ganti cara memegang rokok dan sekarang aku hisap ke paru, seperti yang diajarkan Solihin kepadaku. Meski rasanya seperti menelan asap hitam dari truk tronton, aku tetap melakukannya. Semuanya demi dapat diterima dalam pertemanan. Saat itulah aku menjadi social smoker: merokok kalau pas lagi ngumpul. Aku sadar sepenuhnya kalau rokok adalah pemantik komunikasi yang paling efektif, banyak orang menjadi sohib dapat proyek, atau bahkan jodoh hanya dari kalimat sederhana, “Bawa korek, kak?”. Tapi, setelah dipikir-pikir, ternyata merokok untuk mendapatkan validasi adalah sebuah kebodohan, mengutip Rocky Gerung, itu dungkhhuu namanya. Kenapa harus pakai topeng untuk bisa diterima di sebuah sirkel? Kenapa tidak menjadi diri sendiri? Sadar akan itu, aku tak lagi menyentuh tembakau di semester tiga, sebelum kemarin Rodrigo menawariku “Rokok?”.
4
Abangku menjadi perokok setelah ia bekerja di kilang di tengah Laut Jawa. Rokok membuatnya akrab dengan koleganya. Ia berhenti merokok setelah si istri melarang, ia ganti vape. Ketika anak pertamanya lahir, ia jadi pembenci rokok, vape, atau apa pun yang mengeluarkan asap selain konro bakar atau sate madura. Apa yang terjadi setelah ia berhenti bakar tembakau? Yang ia takutkan tak terjadi. Koleganya cukup dewasa untuk tidak mengucilkan seorang hanya karena orang itu berhenti merokok. Malah sebaliknya. Para kolega dan bahkan atasan malah semakin fren. “Bagaimana kabar anakmu?”; “Nggak usah ambil lembur, pulang aja ketemu anak”; “Sekarang tahu kan kenapa kami selalu menunggu tanggal 25?”.
Lain kisah, Komarudin kawanku, ia merokok minimal dua bungkus tiap hari, bisa lebih jika mepet deadline. Abu rokok, putung kretek, atau remahan tembakau tercecer di setiap sudut rumahnya, sebab yang tidak merokok di rumahnya cuma bundanya dan Si Lena, nama kucing peliharaannya. Kalau Komarudin lagi pusing mikir kerjaan, merokok pula dia di mana saja dan sambil ngapain saja, termasuk sambil naik motor. Tapi kalau dikasih tau baik-baik, abunya bisa membahayakan orang, ia malah ngamuk. Anjing memang. Perokok memang salah satu spesies manusia yang paling susah dikasih tau sehingga mudah tua. Suatu hari ayah Komarudin sakaratul maut. Permintaan terakhirnya sebelum mati bukan, “Aku ingin bersedekah” atau “aku ingin salat” tapi “Aku ingin rokok”. Malaikat maut menarik nyawa ayahnya cepat sebelum ia sempat mendapat apa yang ia inginkan. Entah siapa yang memberi bumbu, cerita itu bertambah kalau kata-kata terakhir ayahnya bukan “Allah”, tapi “Surya”. Semenjak itu Komarudin berhenti merokok, ia tak mau mati seperti ayahnya, dan setahuku, kerjaannya masih selalu tepat waktu.
Merokok memang membantu banyak penulis dari Tolkien sampai Twain, dari Sontag sampai de Beauvoir. Aku sendiri merasakan khasiatnya. Nikotin dari rokok membuat pikirku tenang dan asap yang menyembul dari mulut membuatku kelihatan seniman. Tapi jika dengan itu aku harus mengorbankan lari, lebih baik aku tidak menyentuhnya sama sekali. Aku mencintai olahraga ini sebesar kasih cintaku pada ibu, bahkan jika suatu saat sebuah rezim melarang warganya berlari, aku akan tetap melakukannya meski hukumannya kakiku bakal dipotong satu. Aku masih bisa berlari dengan satu kaki. Jika karena itu kaki sebelahnya kena jagal juga, aku masih bisa berlari dengan kursi roda. Aku mencintai lari lebih dari apa pun di dunia ini.
Ternyata cinta, kawan, yang mampu mengalahkan keras kepalanya para perokok. Entah cinta pada istri, lari, atau diri sendiri.
Temanggung, 20 Januari 2026





Comments are closed.