Fri,12 June 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Sambat
  3. “Framing itu bukan sekadar salah paham. Itu kejahatan yang dibungkus opini.”

“Framing itu bukan sekadar salah paham. Itu kejahatan yang dibungkus opini.”

Karena di dunia pesantren, setiap fitnah akhirnya hanya menjadi bahan muhasabah, bukan bahan bakar kemarahan.

featured
service

Kabarwarga.com – Begitu kata seorang kiai sepuh di Lirboyo ketika mendengar tayangan Trans7 yang memelintir wajah pesantren — tempat ratusan ribu santri menata masa depan dengan doa, logika, dan kesabaran.

Bukan sekali dua kali pesantren diserang. Tapi yang satu ini terasa beda. Karena kali ini, bukan sekadar salah narasi. Ini manipulasi. Potongan video diatur, kalimat ditarik keluar dari konteks, dan jadilah “tayangan” yang memancing simpati semu dari publik yang tidak tahu apa-apa.

Kejahatan framing bekerja halus. Ia tidak menembak, tapi menusuk. Ia tidak membakar pesantren dengan api, tapi dengan opini.

Dan yang lebih menyakitkan bukan hanya media yang berbuat, tapi juga netizen yang ikut mempersekusi dengan jempolnya — seolah mereka lebih tahu makna ngaji daripada santri yang tiap malam duduk di serambi, menelaah Ihya Ulumuddin sampai ayam jago pertama berkokok.

Lalu datanglah para “influencer”, yang dulu gagal murojaah Al-Fatihah tapi sekarang merasa paling paham dunia pesantren. Mereka bicara tentang “radikalisme”, “ketertinggalan”, “ritual kuno”, seolah pondok itu museum kesalahan sejarah. Padahal mereka tak pernah merasakan sejuknya fajar di Lirboyo — ketika ribuan santri berbaris menuju mushola dengan mata ngantuk tapi hati lapang.

Mereka tak tahu, pesantren bukan tempat melarikan diri dari modernitas. Justru di sinilah manusia belajar bagaimana teknologi tidak mengalahkan akhlak. Bagaimana logika berjalan beriringan dengan adab. Bagaimana kecerdasan tanpa kesombongan menjadi nilai tertinggi.

Tapi framing jahat telah membalikkan semuanya. Santri ditampilkan seperti korban hipnotis tradisi. Kiai difoto dengan sudut kamera yang memojokkan, seolah pengendali dogma. Lalu naratornya — dengan suara setengah prihatin — berucap manis: “Inilah wajah pendidikan tradisional di era modern.”

Wajah? Atau hasil editan sepihak yang ingin menuduh tanpa fakta?

Padahal, Lirboyo tidak pernah menutup diri. Santri di sana belajar teknologi, bahasa, ekonomi, bahkan keamanan digital. Tapi mereka juga belajar bagaimana bicara tanpa menistakan. Sesuatu yang, sayangnya, kini justru hilang dari sebagian jurnalis dan influencer.

Ada pepatah pesantren: “Ilmu tanpa adab itu ibarat lampu tanpa minyak — terang sebentar, padam selamanya.”

Dan sekarang, kita sedang menyaksikan banyak lampu seperti itu di dunia maya. Benderang di layar, tapi gelap di nalar.

Netizen yang belum pernah mondok tiba-tiba menjadi hakim akidah. Influencer yang baru hafal dua hadis terjemahan, berlagak mufti. Mereka mengomentari pesantren seperti menilai konten TikTok. Padahal, pesantren tidak butuh validasi digital — karena sejak ratusan tahun lalu, validasi mereka datang dari akhlak, bukan algoritma.

Mari jujur: siapa yang lebih berbahaya — santri yang sibuk ngaji atau netizen yang sibuk menghakimi? Siapa yang lebih butuh pendidikan — kiai yang sabar menuntun atau warganet yang gemar menuding?

Kita ini hidup di zaman di mana kebohongan bisa trending, dan kebenaran harus minta izin untuk didengar. Tapi pesantren tetap tenang. Karena mereka tahu, fitnah bukan akhir dari cerita, hanya ujian kecil dari bab besar yang bernama kesabaran.

Maka kalau masih ada yang mau menyerang pesantren, datanglah dulu. Mondoklah sebulan saja. Rasakan bagaimana disiplin membuat manusia merunduk, bukan mendongak. Rasakan bagaimana air wudhu bisa lebih menenangkan daripada air komentar.

Dan kepada Trans7 — juga para netizen yang ikut membakar — ingatlah: kamera bisa merekam wajah, tapi tidak bisa merekam niat. Kalian boleh membingkai pesantren sesuka hati, tapi kebenaran punya caranya sendiri untuk kembali bersuara.

Karena di dunia pesantren, setiap fitnah akhirnya hanya menjadi bahan muhasabah, bukan bahan bakar kemarahan.

Dan kalau mau belajar bagaimana menanggapi kejahatan framing dengan elegan, datanglah ke serambi Lirboyo. Duduklah di antara santri yang sedang ngopi sambil mengulang hafalan. Mereka akan berkata pelan, tapi tajam:

“Yang tidak pernah mondok, janganlah sok memvonis. Karena adab lebih dulu daripada viral.” (AKM)

(1.245 kata – ditulis dalam aroma kopi santri dan ketenangan kiai yang tak gentar oleh framing siapa pun.)

 

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
1
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.