Aku punya kebiasaan unik setelah selesai membaca buku. Aku akan mengurangi tahun pertama buku itu terbit dengan tahun lahir penulis, dari situ akan ketemu usia penulis saat menerbitkan buku itu. Katakanlah angka itu 35, maka aku akan bernapas lega seperti berhasil lolos sidang pantukhir masuk polisi. “Aku masih punya 10 tahun untuk mencapai mutu penulis itu”.
Tapi seringkali angka-angka itu malah membuatku grusa-grusu sendiri. Bagaimana tidak? Di usiaku sekarang (25), Eka Kurniawan sudah menerbitkan Corat-Coret di Toilet dan dua tahun kemudian, Cantik Itu Luka. Jarak usiaku dengan usia Eka Kurniawan saat dia mencipta Cantik Itu Luka hanya 2 tahun, tapi bagiku itu seperti jarak dari Waduk Kedungombo ke pangkalan roket NASA. Sekalipun menjual diri pada iblis, aku tidak akan mencapai kualitas tulisannya.
Belum lagi jika kita bicara penulis luar, Mary Shelley menulis Frankestein saat dia berusia 18, di usia itu aku masih sibuk cari sontekan ujian kimia. Jika menurutmu contoh itu terlalu purba, lihat RF Kuang, ia menulis buku babon The Popy War (yang kini telah diterjemahkan dalam lebih dari 15 bahasa) saat usianya 21 tahun. Sekarang dia belum genap 30 tahun dan sudah melahirkan Babel, Yellowface, dan Katabasis— jenis buku bermutu tinggi, bukan buku terbitan sendiri.
Hitung-hitungan usia yang awalnya bertujuan untuk membuatku lega, malah jadi senjata makan tuan. Seringkali aku misuh dengan aneka umpatan dari seluruh penjuru mata angin. Dari: kimak, pantek, jancok, asu, bangsat, cukimai, bodok, jalang, sudal, sundala, ngentot, setan, kontol, meki, ndlogok, bajingan, lonte, sikak, jembut, anying, bodat, sampai: damn, fuck, bitch, shit, asshole, dumbass, brainless, pig, cunt, bastard, faggot, idiot, cocksucker, scumbag, shitload, son of a bitch, lalu: puta, merde, cazzo, scheiße, 他妈的, クソ野郎, बहनचोद, ไอ้สัตว์, ابن الكلب, су́ка блядь, 내 사랑, 재스민 꽃.
Yang menjadi hiburanku di saat-saat yang cukimai itu hanya membaca buku-buku ‘penulis’ tiktok yang bisa terbit haya karena pengikutnya 300 ribu. Kadang, aku juga baca buku-buku pejabat yang bisa terbit karena jika tidak, izin percetakannya bisa dicabut. Setelah selesai baca buku-buku itu, aku baru merasa lega,
Kalau buku kaya gitu aja terbit, aku juga bisa dong,
Cuma, pikiran itu nggak akan bertahan lama. Memangnya kamu mau bikin buku yang mutunya rata-rata air kaya gitu?
Tidak. Aku mau menulis buku baik yang tidak hanya laris di pasaran lalu terlupakan, tapi buku yang mampu membuat orang lain bergerak setelah membacanya. Tapi jemariku tidak sampai untuk mencipta itu.
Aku mau, tapi tidak mampu.
Padahal kalau melacak masa laluku, aku punya segala privilese untuk menjadi penulis hebat di usia muda. Begini:
Di taman kanak-kanak, ketika bocil seusiaku main gundu, aku sudah membaca buku. Aku menulis blog pertamaku di usia 15 tahun. Masuk SMA aku sudah menjadi juara lomba menulis, berkesempatan salim langsung dengan Pak Prie GS. Di bangku kuliah, ketika kawan lain mengoplos anggur dengan intisari, aku jadi mahasiswa berprestasi.
Setelah lulus 7 semester dengan ijazah asli, harusnya aku bisa mendapati bukuku nangkring di rak Bestseller Gramedia dengan judul “Kiat Menjadi Penulis Sukses Sebelum usia 20”. Tapi cukimai betul kegiatan menulis ini, semakin aku tahu ilmunya, semakin aku tahu kalau aku nggak tahu apa-apa. Anjing.
Mengutip Sukarno, aku hanya “riak kecil dalam samudra”. Atau kalau memelintir Jokowi Pinurbo, aku hanya “remah rengginan di dasar kaleng khong guan”.
–
Ada momen ketika selesai menulis esai atau tulisan apapun, aku akan bilang pada diriku sendiri “Anjing! Dostoevsky pasti bakal nyembah gue abis baca ini”. Namun kesombongan itu tidak akan bertahan lama, paling beberapa menit sebelum aku membaca ulang. “Ini mah sekotoran kuku-nya Dostoevsky juga nggak ada”. Bahkan di esai ini aku menyebut nama Dostoevsky hanya karena itu terdengar keren dan sangat filsafat.
Suatu sore di bulan Desember 2025, aku bertemu Mas Wisnu Ikhsantama, arsitek di balik .Feast, Hindia, dan Lomba Sihir (dan masih banyak lagi).
Aku bertanya “Apa rahasia Baskara bisa sebesar sekarang?”
Sambil mengisap Tani Madjoe, ia bilang,
“Karena Baskara sudah mempersiapkan diri buat terkenal”.
Artinya, Baskara menulis lirik tiap hari, mengulik nada sampai ketemu momen eureka, dan berlatih vokal sampai tenggorokan kering kerontang. “Dari jaman dia masih utang sebat, gue udah tau dia bakal gede”
“Masa dia bokek sih?”
“Nggak percaya? Nih gue liatin bonnya”
Mas Tama memperlihatkan utangan Baskara dan aku percaya kalau lord Baskara ternyata sama seperti kita-kita, pernah ngutang.
At least, nggak utang buat bikin kereta cepat. CTASSSS!
Mempersiapkan diri. Dua kalimat itu terus bergentayangan di kepalaku seperti jin yang nempel ke bocah setelah ia pipis sembarangan di bawah beringin tua.
Apa jangan-jangan aku belum siap untuk jadi penulis?
–
Lampu-lampu raksasa menyala di Empire XXI seolah ada pasarmalam di sana. Artis-artis berjalan di atas karpet merah dengan busana yang menawan. “Itu… Ariel Tatum!” seorang penggemar berteriak mengundang gerombolan lain untuk merekam bintang itu dada-dada. Lalu datang pula Jarome Kurnia dan Chicco Jerikho yang sambutannya tak kalah meriah.
Di lobi sebelum masuk studio, ratusan orang menunggu film Perang Kota tayang untuk pertama kalinya. Banyak wajah-wajah familiar yang biasanya aku lihat di layar, kini kulihat langsung mukanya. Dari banyak orang-orang terkenal itu, aku lihat satu pria mengikat rambut gondrongnya ke belakang, dia menyalami setiap orang seolah sudah mengenalnya lama. Aku kenal orang itu.
Aku berjalan mendekatinya, namun matanya lebih dahulu melihatku.
“WOI ALWIJO!”
“Abangku!”.
Orang itu adalah JS Khairen.
“Gue mau keluar dulu, sebat” katanya “Ikut?”.
Aku mengekornya seperti ajudan bupati belum dapat jatah nasi. Kami duduk undakan tangga, tempat kru dan artis mengembuskan asap dari mulutnya. “Nih” dia menyodorkan sebungkus rokok kepadaku.
Aku menggeleng.
Ini saatnya aku mengorek informasi bagaimana ia bisa mencipta buku (dan laris).
“Aku mau jadi penulis, bang” kataku antusias “Apa langkah pertama apa yang harus aku ambil?”.
“Lo mau jadi penulis?” jawabnya, sedikit menahan tawa.
Aku mengangguk.
“Mana, gue lihat naskah lo?”
Aku menggeleng, dan, seperti bocah ketahuan maling jambu tetangga, aku cengengesan “Belum punya, bang”.
Tak seperti rokoknya, mulutnya bicara tanpa filter. Tipikal urang awak.
“Kalau nggak punya naskah, mending jangan mimpi jadi penulis deh”.
Sakit iya, tapi pantek, omongan dia benar adanya.
Mungkin ia mau bilang gini: jangan jadi penulis, sebelum kamu siap jadi penulis. Artinya, jangan jadi penulis sebelum mentalitas dan rutinitas kamu mencerminkan diri sebagai penulis.
Kasusnya sama seperti Michael Carroll, bocah 19 tahun yang memenangkan lotre sebesar 223 miliar rupiah. Ia habiskan (menghamburkan lebih tepatnya) duitnya untuk beli mobil, alkohol, ganja, narkoba, dan tentu saja, seks, ketiganya dilakukan secara ugal-ugalan dan kadang, dalam waktu yang bersamaan. Hanya butuh 8 tahun sebelum hartanya ludes dan ia alihprofesi menjadi pemungut sampah.
Ada juga kisah Ade Londok yang mendadak terkenal setelah ia mempromosikan odading “rasa iron man”. Ia tampil di banyak stasiun teve, tapi karena ia bercandanya berlebihan— menarik kursi yang akan diduduki pelawak senior Haji Malih— karirnya redup perlahan, bahkan kontan. Setelah itu dia kembali ke Bandung, menjadi tukang jahit.
Dalam kasus ini, Michael tidak mempersiapkan dirinya untuk kaya.
Dan Ade Londok tidak mempersiapkan dirinya untuk terkenal.
Melihat diriku sendiri yang masih ogah-ogahan menulis, aku rasa aku belum siap menjadi penulis.
Oh ya, belakangan ini aku jarang melakukan kebiasaan unikku setelah selesai membaca buku. Kurasa, tiap orang punya jalannya masing-masing. Ada yang usia 19 sudah kaya, ada yang baru usia 55. Ada yang baru brojol sudah terkenal, ada yang usia 62 baru terkenal. Ada yang usia 25 sudah bikin buku, ada yang baru mencipta di usia 35. Yang jelas, membandingkan diri adalah pembunuh kebahagiaan paling instan.
Jikalau rasa iri itu muncul kembali (manusiawi), setidaknya, dengan berhenti membandingkan diri, aku jadi lebih sedikit mencaci, baik dalam p#n*%k, j&*#k, atau c*k#%ai.
Temanggung,
12 Februari 2026.
Ditulis buat tugas kelas menulis Bang Ical (@asro.syid), tapi nggak jadi aku kumpulkan, aku bikin tulisan lain. Sebab rasanya tulisan ini terlalu vulgar, bukan bahasanya, tapi vulgar dalam artian mengekspos diri sendiri.





Comments are closed.