Fri,12 June 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Sambat
  3. Jeddah, Di Sini Mimpi Itu Dikubur

Jeddah, Di Sini Mimpi Itu Dikubur

Indonesia kalah 0-1 dari Irak. Sebelumnya, 2-3 dari Arab Saudi. Dua kekalahan, dua luka yang menutup semua pintu ke Piala Dunia 2026. Tak ada lagi hitung-hitungan peluang. Tak ada lagi skenario ajaib. Yang tersisa hanya hening. Di klasemen Grup B, Indonesia terbaring di dasar, tanpa poin, tanpa asa, tanpa puisi kemenangan.

featured
service

Kabarwwarga.com – Saya memang sengaja tak nonton tadi malam. Takut kalah. Eh, akhirnya kalah dan gagal total. Mimpi ke Piala Dunia akhirnya terkubur di Jeddah. Mari kita ungkap tragedi memilukan ini sambil seruput kopi tanpa gula, wak!

Malam itu, 12 Oktober 2025, langit Jeddah seolah ikut berduka. Angin gurun berhembus pelan, seperti sedang mengusap bahu bangsa yang baru kehilangan mimpinya. Di King Abdullah Sports City, stadion megah yang biasanya jadi panggung keajaiban, Timnas tersungkur dalam sunyi. Satu gol dari Zidane Iqbal di menit ke-75 menjadi epitaf atas perjuangan panjang, menjadi pisau kecil yang menusuk dada 280 juta jiwa yang menatap layar dengan dada bergetar, berharap keajaiban yang tak pernah datang.

Indonesia kalah 0-1 dari Irak. Sebelumnya, 2-3 dari Arab Saudi. Dua kekalahan, dua luka yang menutup semua pintu ke Piala Dunia 2026. Tak ada lagi hitung-hitungan peluang. Tak ada lagi skenario ajaib. Yang tersisa hanya hening. Di klasemen Grup B, Indonesia terbaring di dasar, tanpa poin, tanpa asa, tanpa puisi kemenangan.

Padahal malam itu, Garuda bermain seolah melawan takdir. Mereka menguasai bola 55 persen, menari di tengah padang pasir Jeddah dengan elegan, mencoba menulis ulang sejarah. Enam kartu kuning jatuh ke tangan kita, Rizky Ridho, Miliano Jonathans, Ole Romeny, Mauro Zijlstra, Ricky Kambuaya, dan Calvin Verdonk, bukan karena kasar, tapi karena terlalu bernafsu mempertahankan harapan. Setiap tekel adalah doa, setiap benturan adalah perlawanan terhadap nasib yang sudah digariskan. Tapi bola, seperti hidup, hanya mencintai mereka yang lebih tenang. Dan malam itu, ketenangan berpihak pada Irak.

Patrick Kluivert, pelatih yang datang membawa nama besar dan harapan baru, berdiri di tepi lapangan dengan mata kosong. Ia seperti sedang memandangi reruntuhan mimpi yang dibangunnya dengan bahasa yang tak dimengerti tanah ini. Di ruang ganti, katanya suasana hening, hanya isak pelan yang terdengar. “Mereka sudah berjuang,” ujar Kluivert lirih. Tapi di dunia sepak bola, perjuangan tanpa kemenangan hanyalah cerita yang tak akan dikenang lama.

Nama Shin Tae Yong kembali menggema di antara desah kecewa. Orang-orang yang dulu menghujatnya kini merindukan tangan kerasnya. Begitulah bangsa ini. Baru mengerti nilai seorang pelatih setelah kehilangan arah. Kluivert mungkin datang dengan filosofi Eropa, tapi ia lupa bahwa di negeri ini, sepak bola bukan sekadar taktik, ia adalah doa, air mata, dan pengharapan.

Analis mencoba menenangkan luka dengan angka. Mohamad Kusnaeni berkata, “Timnas main bagus kali ini. Lebih baik dari melawan Arab Saudi.” Statistik menulis, penguasaan bola 55%, peluang setara. Bola.net menyebutnya “pil pahit yang harus ditelan.” Tapi bagaimana menelan pil pahit ketika tenggorokan bangsa ini sudah penuh dengan kekecewaan bertahun-tahun?

Di tribun, beberapa suporter tak sanggup beranjak. Seorang anak kecil, mengenakan jersey merah bertuliskan “Garuda di Dadaku”, menangis di pelukan ayahnya. Ia belum mengerti arti tersingkir, tapi ia tahu arti kehilangan. Di tanah air, ribuan orang menatap layar kosong setelah peluit panjang berbunyi. Tak ada suara. Hanya detak jantung yang pelan, seperti ikut berhenti.

Kita kalah. Bukan hanya dari Irak atau Arab Saudi, tapi dari nasib yang belum mau berpihak. Namun di balik semua air mata itu, ada cinta yang tak bisa mati. Karena bangsa ini, entah mengapa, selalu menemukan alasan untuk percaya lagi.

Jeddah, malam itu, bukan sekadar kota di Arab Saudi. Ia berubah menjadi makam tempat dikuburnya mimpi Piala Dunia yang terlalu indah untuk jadi nyata. Di atas makam itu, Garuda berdiri dengan sayap patah, menatap langit yang sama, karena di langit yang sama pula, harapan suatu hari mungkin akan hidup kembali.

Tiba-tiba ingat petugas SPBU, “Dari nol ya, Pak!”

Foto Ai, hanya ilustrasi

#camanewak

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.