Mubadalah.id – Pertama-tama, selamat lebaran teman-teman. Minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin.
Lebaran selalu punya ritmenya sendiri. Tapi jujur ya, boleh nggak sih kalau aku mulai dari pengakuan bahwa aku termasuk orang yang nggak terlalu suka momen silaturahmi saat lebaran?
Bukan benci, bukan juga menolak sepenuhnya. Tapi ada rasa berat yang hampir selalu muncul setiap kali momen itu datang. Kayak sudah tahu akan capek, dan bukan cuma capek fisik. Capek banget, malah. Kenapa ya? Karena introvert? Maybe. Tapi kayaknya ada alasan yang jauh lebih complicated deh.
Dan anehnya, perasaan itu sering nggak bisa kita jelaskan tanpa bikin kita terdengar “kurang baik”. Karena di luar sana, posisi silaturahmi itu selalu positif. Sesuatu yang seharusnya kita rindukan bahkan tunggu-tunggu. Jadi ketika ada yang bilang, “Aku capek banget sama silaturahmi lebaran,” responsnya seringkali bukan pemahaman, tapi penilaian.
“Ah, kamu mah sombong.”
“Nggak mau bersosialisasi ya?”
“Silaturahmi itu kan ibadah, masa dihindari?”
Dan pelan-pelan, kita jadi belajar satu hal: bahwa kita tidak boleh mengakui kalau kita tidak nyaman dalam silaturahmi. Padahal, kalau mau jujur sedikit saja, perasaan itu nyata.
Hari yang Panjang Saat Lebaran
Aku pernah ada di titik itu. Mungkin masih. Bangun pagi di hari lebaran, pakai baju rapi, senyum ke semua orang, tapi di dalam hati sudah terasa penuh duluan. Bukan karena tidak bersyukur, tapi karena tahu: hari itu akan panjang. Bahkan, sampai hari-hari ke depan.
Dan bukan cuma panjang. kadang juga, ribet. Ribet yang kadang nggak masuk akal. Kita sudah ketemu di satu tempat yang sama. Sudah salaman, sudah ngobrol, bahkan sudah ketawa bareng. Tapi tetap saja, “nanti harus ke rumah ya.”
Dan kalau nggak datang?
Bisa jadi bahan obrolan.
“Padahal tadi ketemu, tapi nggak mampir.”
“Sekarang jadi susah ya didatengin.”
“Udah beda, ya”
Silaturahmi Bukan Lagi Soal Niat Baik
Hal-hal kecil yang lama-lama terasa seperti tekanan sosial. Seolah silaturahmi bukan lagi soal niat baik, tapi soal memenuhi ekspektasi yang tidak tertulis. Dan yang bikin makin bingung, kalau tidak kita lakukan, bisa berujung pada jarak. Bahkan konflik kecil.
Di situ aku sering mikir: kok bisa ya, sesuatu yang tujuannya menyambung hubungan, malah berpotensi memunculkan kerenggangan? Kok malah jadi momen yang, kalau tidak hati-hati, mendatangkan permusuhan?
Aneh, tapi nyata.
Lalu kita lanjut lagi perjalanan. Dari satu rumah ke rumah lain. Dari satu obrolan ke obrolan berikutnya. Dan di sela-selanya, ada banyak hal kecil yang ternyata menguras energi.
“Sekarang kerja di mana?”
“Kapan nyusul nikah?”
“Kok kelihatannya naik berat badan ya?”
“Temen-temen kamu udah pada ke mana?”
Kalimat-kalimat yang terdengar ringan. Bahkan mungkin maksudnya baik. Tapi entah kenapa, rasanya seperti ujian terus-menerus. Kita tetap senyum. Tetap jawab. Tetap sopan. Tapi di dalam, ada bagian yang pelan-pelan lelah.
Bukan Mendekatkan, Malah Menjauhkan
Aku mulai bertanya ke diri sendiri: kenapa ya, sesuatu yang katanya mendekatkan, justru terasa menjauhkan? Padahal kalau ditarik ke makna awalnya, silaturahmi itu bukan sekadar tradisi keliling rumah. Ia adalah praktik yang sangat dalam. Tentang menyambung hubungan. Merawat kedekatan. Menghadirkan kasih sayang di antara manusia.
Al-Qur’an menyebutnya dengan nada yang tidak main-main:
“Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta, dan peliharalah hubungan kekeluargaan (silaturahmi)” (QS. An-Nisa: 1)
Ayat ini seperti mengingatkan bahwa hubungan kita dengan manusia selalu terhubung dengan hubungan kita kepada Tuhan. Jadi silaturahmi bukan sekadar agenda sosial, tapi juga bagian dari laku spiritual. Masalahnya, dalam praktik sehari-hari, kita sering lebih sibuk menjaga bentuknya daripada maknanya. Kita datang, duduk, makan, ngobrol. Semua checklist terpenuhi. Tapi apakah benar-benar saling menguatkan? Belum tentu.
Kadang, tanpa sadar, ruang silaturahmi justru jadi tempat yang kurang ramah. Ada komentar yang terlalu personal. Candaan yang sebenarnya nggak lucu. Perbandingan yang halus tapi terasa. Dan yang lebih tricky, semua itu sering dianggap normal.
Capek Fisik dan Batin
Makanya, nggak heran kalau ada yang pulang dari keliling lebaran dengan badan capek dan hati juga ikut capek. Bahkan mungkin, ada yang butuh waktu sendiri setelahnya. Bukan karena anti-sosial, tapi karena perlu “memulihkan diri”. Dan itu valid. Karena kita semua punya batas. Punya ruang pribadi yang tidak selalu siap dibuka ke siapa saja. Punya cerita yang tidak selalu ingin dijelaskan.
Lalu, apakah itu berarti kita harus menjauh dari silaturahmi?
Rasanya bukan itu jawabannya.
Mungkin yang perlu kita lakukan adalah pelan-pelan mengembalikan maknanya. Mulai dari hal sederhana: menyadari bahwa tidak semua hal perlu ditanyakan. Tidak semua perubahan perlu dikomentari. Dan tidak semua candaan itu aman. Karena kita tidak pernah benar-benar tahu isi hidup orang lain.
Al-Qur’an menyederhanakannya:
“Dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia” (QS. Al-Baqarah: 83)
Kelihatannya simpel, tapi sebenarnya dalam. Karena berkata baik itu bukan cuma soal sopan santun. Tapi soal kesadaran. Soal memilih untuk tidak melukai, bahkan ketika kita bisa melakukannya tanpa disadari. Bayangkan kalau silaturahmi benar-benar diisi dengan itu. Pasti damai rasanya. Iya?
Lebaran: Harusnya Jadi Ruang Aman
Nggak harus selalu obrolan berat kok. Nggak juga harus selalu serius. Tapi setidaknya terasa aman. Dan mungkin, kalau suasananya seperti itu, silaturahmi tidak lagi terasa sebagai beban. Tapi jadi ruang untuk bernapas. Ruang untuk merasa diterima. Ruang untuk kembali terhubung, bukan hanya secara fisik, tapi juga secara batin.
Dan mungkin juga, perlahan, stigma-stigma seperti “sombong” atau “nggak suka silaturahmi” itu bisa kita lihat dengan lebih jernih. Bahwa bisa jadi, seseorang bukan tidak ingin mendekat. Tapi sedang lelah dengan cara-cara mendekat yang selama ini terasa menyakitkan.
Jadi, berikutnya, kita bisa mulai dari hal kecil itu. Bukan mengubah semua orang. Cukup mengubah cara kita hadir. Karena bisa jadi, silaturahmi yang selama ini terasa melelahkan, sebenarnya hanya sedang menunggu untuk dihidupkan kembali dengan cara yang lebih menyenangkan. []





Comments are closed.