
Sorotan lampu memenuhi panggung JF3 Fashion Festival 2026 di Jakarta. Namun, perhatian para pecinta mode malam itu bukan hanya tertuju pada potongan busana modern, melainkan pada selembar kain tradisional Indonesia yang tampil begitu elegan. Songket Lombok dengan motif Garuda menjadi pusat perhatian melalui koleksi bertajuk “GARUDA”, hasil kolaborasi desainer Indonesia Beatrice Angelica, pendiri NOEN, dan desainer Prancis Mickaël “Marlon” Nana, pendiri MARLON NANA.
Koleksi ini bukan sekadar menampilkan perpaduan dua gaya busana dari negara berbeda. Di balik setiap jahitan tersimpan cerita tentang pertemuan budaya, penghormatan terhadap warisan tekstil Nusantara, hingga upaya membawa karya perajin Indonesia ke panggung internasional.
Slow Fashion Bukan Tren ‘Elitis’, tapi Cara Agar Bumi Tak Kebanjiran Baju
Kolaborasi tersebut lahir melalui PINTU Residency Program, sebuah program hasil kerja sama Institut Français Indonesia (IFI) dan LAKON Indonesia yang didirikan Thresia Mareta. Program ini mempertemukan desainer Indonesia dan Prancis agar saling bertukar gagasan sekaligus mengeksplorasi kekayaan budaya Indonesia.
Perjalanan kreatif mereka justru dimulai jauh dari hiruk-pikuk ibu kota. Beberapa bulan sebelum tampil di JF3, Beatrice dan Mickaël menghabiskan waktu di Lombok untuk tinggal bersama para perajin Songket. Di sana mereka belajar langsung bagaimana proses menenun dilakukan secara tradisional.
“Kami benar-benar mulai dari nol. Kami memilih benang, merancang motif grafis bersama, hingga ikut merasakan rumitnya mengoperasikan alat tenun. Bagi kami, kain ini bukan sekadar material busana, tetapi cerita hidup ibu-ibu perajin di Lombok yang harus disampaikan ke dunia,” tutur Beatrice Angelica.
Perpaduan Songket Tradisional dan Tailoring Eropa
Selama berada di Lombok, keduanya memilih mengeksplorasi teknik Songket yang memiliki tekstur tiga dimensi. Alih-alih menggunakan benang emas yang mencolok, mereka memilih warna emas pudar dan krem lembut yang dihasilkan dari pewarna alami.
Pendekatan tersebut membuat Songket tampil lebih modern tanpa menghilangkan identitas tradisionalnya.
Inspirasi utama koleksi ini berasal dari lambang negara Indonesia, Garuda. Simbol tersebut diterjemahkan menjadi busana yang memadukan kekuatan budaya Nusantara dengan karakter tailoring khas Eropa era 1970-an hingga 1980-an.
Tak Cuma Ngetren di Dalam Negeri, Kebaya Juga Sukses Pukau Publik San Fransisco
Siluet beskap, draping tradisional, dan potongan longgar dipadukan dengan jas berbahu tegas serta celana bergaris arsitektural. Hasilnya adalah sepuluh tampilan ready-to-wear yang terdiri dari lima koleksi wanita dan lima koleksi pria.
Tidak hanya itu, sentuhan gaya musisi dunia seperti Lenny Kravitz, Erykah Badu, dan Lauryn Hill turut memberi nuansa ekspresif pada keseluruhan koleksi.
Kemewahan koleksi ini juga hadir lewat perpaduan Songket buatan tangan dengan denim, beludru, kain tailoring, hingga technical outerwear. Potongan beludru dijahit satu per satu membentuk lanskap kepulauan Indonesia, lalu diperkaya dengan manik-manik, rantai besi karya Lidya Yuniaty Nainggolan (Lului Studio), serta rajutan artistik Chici Fitria dari Zab’a Craft.
Membawa Songket Indonesia ke Panggung Dunia
Selain mengedepankan estetika, koleksi GARUDA juga mengusung semangat keberlanjutan. Karena setiap lembar Songket dibuat secara manual selama berhari-hari, Beatrice dan Mickaël menerapkan konsep upcycling dan zero-waste.
Sisa-sisa kain tenun tidak dibuang, melainkan dipotong secara presisi lalu dirangkai kembali menjadi detail busana tanpa memperlihatkan sambungan. Teknik tersebut justru menghasilkan tekstur baru yang unik dan artistik.
Meski hanya memiliki waktu sekitar empat bulan untuk menyelesaikan proyek ini, keduanya berhasil menghadirkan koleksi yang mendapat perhatian besar. Tantangan terbesar datang dari proses produksi kain menggunakan pewarna alami yang menghasilkan warna berbeda di setiap batch. Namun, justru perbedaan tersebut dianggap sebagai keunikan yang tidak bisa ditiru oleh produksi massal.
JF3 Gandeng Industri Fashion Korea, Buka Peluang Desainer Lokal Tampil di Busan
Bagi Beatrice, pengalaman bekerja bersama para penenun Lombok menjadi pelajaran berharga yang akan diterapkan pada pengembangan koleksi ready-to-wear pertama milik brand NOEN.
Sementara itu, Mickaël mengaku terkesan dengan kemampuan para perajin Indonesia. Meski awalnya mereka sempat ragu terhadap motif Garuda yang berbeda dari pakem tradisional, hanya dalam waktu satu minggu mereka mampu menghasilkan tiga jenis tekstil baru yang luar biasa.
“Bintang utama dari koleksi ini adalah Songket Garuda. Ini adalah penghormatan tulus saya untuk kebudayaan Indonesia yang begitu kaya,” pungkas Mickaël Nana, yang juga berjanji akan terus kembali ke Lombok untuk mengeksplorasi teknik Songket.
Melalui koleksi GARUDA di JF3 Fashion Festival 2026, Songket Lombok membuktikan bahwa warisan budaya Indonesia memiliki daya tarik yang mampu menembus pasar global. Ketika tradisi dipadukan dengan inovasi dan rasa hormat terhadap para perajin, hasilnya bukan hanya busana, melainkan sebuah cerita budaya yang layak mendapat tempat di panggung mode dunia.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News
Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.
Tim Editor





Comments are closed.