Tumpukan-tumpukan sampah di jalan-jalan utama, pemukiman mewarnai Tangerang Selatan, Banten, sejak Desember lalu hingga kini. Masalah sampah di Tangel tak kunjung selesai. Saat ini, Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Cipeucang yang kelebihan kapasitas. Kini tutup untuk berbenah, tak pelak sampah ‘menghiasi’ ruas-ruas jalan besar. Sebelumnya, pada 2025, Pemerintah Tangsel menerima sanksi penyegelan oleh Kementerian Lingkungan/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH). Sanksi itu karena TPA Tangsel masih open dumping. Pada Desember lalu, beberapa rumah warga yang berdampingan langsung dengan TPA Cipeucang ini terendam banjir. Bahkan terdapat tempat usaha produksi tempe dan tahu juga ikut kena imbasnya. Warga geram, apalagi mereka mengetahui kapasitas penampungan di TPA Cipeucang ini sudah berlebihan. Di bagian lain, warga yang menempati rumah mereka sejak puluhan tahun lalu juga ikut merasakan getir berdampingan dengan TPA. Agus, warga yang tinggal dekat TPA Cipeucang kini merasakan dampak cukup signifikan. “Belum lama dada saya sesak, saya juga ga bisa aktivitas selama satu minggu lebih akibat sampah baunya sudah semakin jadi,” katanya Januari lalu. Pemerintah Tangsel, katanya, gagal menangani persoalan sampah. Tumpukan sampah di lahan miliknya. Air sumur yang menjadi kebutuhan pokok keluarganya pun tak lagi dapat digunakan. “Saya ada sumur yang tadinya kami pakai untuk mandi, minum dan lainnya. Sekarang sudah tidak dapat lagi karena bau dan kotor akibat air sampah.” Agus berharap, pemerintah bisa memiliki langkah cepat menangani sampah yang kian menjadi persoalan serius. Dampak cemaran sampah bukan hanya warga sekitar TPA Cipeucag. SetelahTPA tutup warga di tujuh kecamatan pun terdampak. Salah satu di Jalan Raya Otista, Ciputat, Kota Tangerang Selatan. Sampah…This article was originally published on Mongabay
Sulitnya Kota Tangerang Selatan Benahi Tata Kelola Sampah
Sulitnya Kota Tangerang Selatan Benahi Tata Kelola Sampah





Comments are closed.