Sultan HB II, Satu-satunya Penguasa Yogyakarta yang Tidak Dimakamkan di Pasarean Imogiri
Kompleks Pasarean Imogiri merupakan tempat peristirahatan terakhir bagi sebagian besar raja-raja keturunan Mataram Islam. Terletak di atas perbukitan yang sakral, kompleks ini menjadi simbol kemuliaan bagi para penguasa Yogyakarta dan Surakarta. Namun, dalam deretan nisan di sana, ada satu nama besar dari Kasultanan Yogyakarta yang absen. Sri Sultan Hamengku Buwono II tidak bersemayam di Imogiri bersama leluhur maupun para penerusnya.
Makam Imogiri yang memiliki luas mencapai 10 hektare terbagi menjadi delapan kedaton utama. Setiap bagian menampung jenazah raja-raja dari Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta secara teratur. Kedaton Sultan Agungan menjadi tempat pemakaman Sultan Agung hingga Sunan Amangkurat III. Kedaton Pakubuwanan berisi makam Sunan Paku Buwana I hingga Sunan Paku Buwana II.

Makam Imogiri pada 1890 | bibliotheek.universiteitleiden.nl
Bagi dinasti Yogyakarta, Kedaton Kasuwargan menjadi tempat peristirahatan Sultan Hamengku Buwono I dan III. Sultan Hamengku Buwono IV, V, dan VI berada di Kedaton Besiyaran. Sementara itu, penguasa berikutnya hingga Sultan Hamengku Buwono IX dimakamkan di Kedaton Saptarengga. Di tengah keteraturan silsilah ini, Sri Sultan Hamengku Buwono II menjadi satu-satunya pengecualian yang mencolok.
Sosok Sultan dengan Masa Takhta Tiga Periode
Sri Sultan Hamengku Buwono II yang juga dikenal dengan julukan Sultan Sepuh memiliki catatan sejarah yang sangat unik. Beliau adalah satu-satunya sultan yang menduduki takhta sebanyak tiga kali dalam periode yang berbeda. Masa pemerintahan pertamanya berlangsung pada 1792 hingga 1810. Beliau kembali bertakhta pada 1811 hingga 1812, dan terakhir pada 1826 hingga 1828.
Sepanjang hidupnya, Sultan HB II dikenal sebagai tokoh yang sangat keras dan antipati terhadap kehadiran penjajah. Sikap teguhnya ini membuat beliau berkali-kali diasingkan oleh berbagai rezim penjajah. Mulai dari era VOC, Republik Bataaf, Inggris, hingga Belanda pernah menganggapnya sebagai ancaman besar. Beliau bahkan sempat dibuang hingga ke Ambon pada tahun 1817 sebelum akhirnya dipulangkan kembali ke Yogyakarta untuk membantu meredam gejolak politik di masa senjanya.
Kondisi Darurat di Tengah Perang Jawa
Alasan di balik tidak dimakamkannya Sultan HB II di Imogiri berkaitan erat dengan kondisi keamanan saat beliau wafat pada 3 Januari 1828. Kala itu, wilayah Yogyakarta sedang berada di puncak kecamuk Perang Jawa atau Perang Diponegoro. Konflik besar yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro melawan kolonial Belanda ini membuat situasi di luar benteng keraton menjadi sangat tidak stabil.
Akses jalan menuju perbukitan Imogiri tertutup oleh pertempuran yang sedang berlangsung. Prosesi pemakaman menuju Imogiri yang biasanya memerlukan iring-iringan besar dan waktu perjalanan yang lama dianggap terlalu berisiko. Demi alasan keamanan di tengah situasi darurat perang, pihak istana akhirnya memutuskan untuk memakamkan Sri Sultan Hamengku Buwono II di Makam Raja-raja Kotagede. Lokasi ini dianggap lebih aman untuk menyelenggarakan prosesi pemakaman yang layak bagi seorang sultan di tengah suasana peperangan yang sedang membara.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News





Comments are closed.