Sat,18 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Perspektif
  3. Survei Kemenag 2025: Indeks Keberagamaan Mahasiswa Indonesia Masuk Kategori Sangat Tinggi

Survei Kemenag 2025: Indeks Keberagamaan Mahasiswa Indonesia Masuk Kategori Sangat Tinggi

survei-kemenag-2025:-indeks-keberagamaan-mahasiswa-indonesia-masuk-kategori-sangat-tinggi
Survei Kemenag 2025: Indeks Keberagamaan Mahasiswa Indonesia Masuk Kategori Sangat Tinggi
service

Jakarta, Arina.id Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kementerian Agama merilis hasil survei Indeks keberagamaan mahasiswa 2025. Hasilnya, Indeks Keberagamaan Mahasiswa masuk ketegori Sangat Tinggi.

Survei Kemenag ini mencakup dua aspek, IKM Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) dan IKM Non-PTKI, yang mencakup mahasiswa beragama Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha.

Survei IKM PTKI menggunakan Cluster Random Sampling sebagai teknik penarikan sampel serta wawancara tatap muka sebagai metode pengumpulan data. Jumlah responden mencapai 1.200 mahasiswa PTKI negeri dan swasta yang tersebar di 29 provinsi di Indonesia, dengan margin of error sebesar 2,8 persen.

“Secara nasional, IKM PTKI meraih predikat “Sangat Tinggi” dengan skor 88,40. Dimensi ideologis mencatat nilai tertinggi sebesar 94,15, disusul dimensi pengalaman (94,09), perilaku (88,88), intelektual (85,68), dan dimensi ritualistik sebagai nilai terendah dengan skor 82,88,” terang Kepala Pusat Strategi Kebijakan Pendidikan Agama dan Keagamaan BMBPSDM, Rohmat Mulyana Sapdi dikutuip dari laman Kemenag.

Survei Indeks Keberagamaan Mahasiswa (IKM) Non-PTKI dilaksanakan melalui pengisian kuesioner sebagai metode pengumpulan data dengan melibatkan 1.539 responden, yang seluruhnya merupakan mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen (396), Katolik (382), Hindu (400), dan Buddha (361). Margin of error indeks ini sebesar 5 persen untuk masing-masing indeks agama.

Menurut Rohmat, secara umum, IKM Non-PTKI berada pada kategori “Sangat Tinggi”.

Pertama, mahasiswa Kristen memperoleh skor nasional 89,75, dengan dimensi ideologis 93,99, ritualistik 84,91, pengalaman spiritual 92,40, intelektual 88,53, dan perilaku 89,27.

Kedua, mahasiswa Katolik memperoleh skor nasional 88,27, dengan dimensi ideologis 91,74, ritualistik 80,92, pengalaman spiritual 91,68, intelektual 87,18, dan perilaku 89,25.

Ketiga, mahasiswa Hindu memperoleh skor nasional 82,54, dengan dimensi ideologis 88,92, ritualistik 72,21, pengalaman spiritual 86,26, intelektual 77,95, dan perilaku 87,07.

Keempat, mahasiswa Buddha memperoleh skor nasional 82,56, dengan dimensi ideologis 88,95, ritualistik 72,19, pengalaman spiritual 86,28, intelektual 77,97, dan perilaku 87,10.

Rohmat menambahkan, mahasiswa sebagai generasi muda intelektual memiliki peran strategis dalam mengisi kehidupan berbangsa dan bernegara melalui berbagai kontribusi positif, termasuk dalam aspek keberagamaan sebagai bagian esensial kehidupan individu.

Survei juga menemukan bahwa perkembangan teknologi digital, termasuk kehadiran Artificial Intelligence (AI), menghadirkan tantangan tersendiri bagi keberagamaan generasi muda, termasuk mahasiswa.

Pergeseran pola pencarian informasi keagamaan yang kini semakin mudah diakses dinilai perlu menjadi perhatian serius agar kualitas keberagamaan mahasiswa tetap terjaga.

“Ada hal yang dinamis dan diperbarui mengikuti perkembangan zaman, tapi di sisi lain agama juga ada ultimate meaning-nya, ada sesuatu yang harus dikonservasi, harus dipelihara oleh kita. Jadi ada nilai-nilai yang sebenarnya itu mutlak dan tidak bisa diubah,” jelasnya.

Kapus Rohmat menekankan pentingnya sinergi berbagai pihak agar pendidikan agama di Indonesia terus berjalan dalam koridor yang berkualitas.

“Kita harus tetap mengedepankan bahwa pendidikan agama ini suatu hal yang sangat esensial dan upaya-upaya untuk melakukan perbaikan pendidikan agama harus dilakukan secara komprehensif dan melibatkan seluruh pihak,” kata Rohmat.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.