Saat melayat pimpinan tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei di Grand Mosalla Teheran pada Kamis (9/7/2026), Delegasi Hamas yang dipimpin oleh Kepala Dewan Syura Hamas, Mohammed Darwish disambut dengan bacaan ayat Al-Qur’an surat al-Ahzab ayat 23:
مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ رِجَالٌ صَدَقُوْا مَا عَاهَدُوا اللّٰهَ عَلَيْهِ ۚ فَمِنْهُمْ مَّنْ قَضٰى نَحْبَهٗۙ وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّنْتَظِرُ ۖوَمَا بَدَّلُوْا تَبْدِيْلًاۙ
Artinya: “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Di antara mereka ada yang gugur dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu. Mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya).”
Ayat tersebut menurut penafsiran Amin bin Abdullah al-Harari dalam Hadaiqur Ruh war Rayhan fi Rawabi Ulumil Qur’an [Beirut: Dar Thouq al-Najat, 2001, vol. 22, hlm. 475.] mengisahkan tentang beberapa sahabat Rasulullah yang siap untuk syahid dalam peperangan.
Al-Harari mencatat sebagai berikut:
أوفوا بما عاهدوا الله عليه، ونذروا على أنفسهم من الثبات مع الرسول، والمقاتلة لإعلاء الدين، والصبر في اللأواء وحين البأساء؛ أي حققوا العهد بما أظهروه من أفعالهم، وهم عثمان بن عفان وطلحة بن عبيد الله وسعيد بن زيد بن عمرو بن نفيل وحمزة بن عبد المطلب ومصعب بن عمير وأنس بن النضر وغيرهم رضي الله عنهم أجمعين – نذروا أنهم إذا لقوا حربًا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم .. ثبتوا وقاتلوا حتى يستشهدوا
Artinya: “Mereka-mereka yang menepati janji kepada Allah, bernadzar kepada diri mereka untuk setia bersama Rasulullah, dan berperang untuk membela agama-Nya, serta bersabar dalam cobaan dan kemiskinan. Yakni mereka mewujudkan janji dalam implementasi tindakan mereka. Mereka adalah Utsman bin Affan, Talhah bin Ubaidillah, Said bin Zaid bin Amr bin Nufail, Hamzah bin Abdul Mutalib, Mush’ib bin Umair, Anas bin al-Nadhr, dan sahabat lainnya. Mereka bernadzar bahwa mereka akan tetap teguh bersama Rasulullah ketika berperang hingga mereka syahid.”
Dari mereka ada yang syahid terlebih dahulu, dan ada yang syahid belakangan. Akan tetapi, mereka tetap konsisten setia bersama Rasulullah hingga akhir hayat. Tahir bin Asyur mencatat dalam al-Tahrir wa al-Tanwir [Tunisia: Maktabah Tunisia, 1984, vol. 21, hlm. 308.] perkataan Anas bin Nadhar ketika belum mendapati syahid di perang Badar sebagai berikut:
أول مشهد شهده رسول الله غبت عنه، أما والله لئن أراني الله مشهدا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم فيما بعد ليرين الله ما أصنع
Artinya: “Awal peperangan bersama Rasulullah aku tidak mendapatkan mati syahid. Demi Allah jika Allah menakdirkanku berperang bersama Rasulullah lagi setelah ini, niscaya Allah akan melihat apa yang aku lakukan.”
Ibnu Asyur menyebutkan bahwa Anas bin Nadhar berperang dengan gagah berani dengan segala tenaga hingga mati syahid di perang Uhud. Begitu juga para sahabat lainnya yang belum syahid di perang Khandaq, mereka mati syahid di perang Bani Quraidhah.
Ibnu Asyur juga menyebutkan bahwa konsistensi mereka tidak perlu diragukan hingga Al-Qur’an menyebutkan hal itu untuk menyindir orang-orang munafik yang tidak konsisten berdiri di samping Rasulullah di perang Khandaq.
Ibnu Asyur mencatat sebagai berikut:
وأما قوله وما بدلوا تبديلا فهو في معنى صدقوا ما عاهدوا الله عليه وإنما ذكر هنا للتعريض بالمنافقين الذين عاهدوا الله لا يولون الأدبار ثم ولوا يوم الخندق فرجعوا إلى بيوتهم في المدينة
Artinya: “Makna firman Allah “Mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya)” adalah bentuk kejujuran dan konsistensi mereka terhadap janji Allah. Ayat ini ditujukan untuk menyinggung orang-orang munafik yang berjanji kepada Allah untuk tidak berbalik kebelakang, tetapi mereka justru mundur di perang Khandaq dan kembali ke rumah mereka masing-masing di Madinah.”
Penulis memahami bahwa pilihan surat al-Ahzab ayat 23 kepada Hamas merupakan bentuk dukungan moril otoritas pemerintah Iran atas konsistensi dan kebertahanan Hamas dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina khususnya menghadapi pertempuran di jalur Gaza melawan rezim penjajah Zionis Israel. Baik yang sudah gugur dan syahid, maupun yang sampai detik ini masih gigih berjuang. Wallahu a’lam.




Comments are closed.