Tue,26 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Tahta di Atas Bara: Kisah Pakubuwono II Menghadapi Geger Pecinan dan Perang Saudara

Tahta di Atas Bara: Kisah Pakubuwono II Menghadapi Geger Pecinan dan Perang Saudara

tahta-di-atas-bara:-kisah-pakubuwono-ii-menghadapi-geger-pecinan-dan-perang-saudara
Tahta di Atas Bara: Kisah Pakubuwono II Menghadapi Geger Pecinan dan Perang Saudara
service

19 Januari 2026 19.51 WIB • 2 menit

Tahta di Atas Bara: Kisah Pakubuwono II Menghadapi Geger Pecinan dan Perang Saudara


Sri Susuhunan Pakubuwono II adalah Susuhunan Mataram kesembilan yang memerintah tahun 1726-1742. Dirinya menjadi Susuhunan pertama Surakarta setelah pemberontakan Amangkurat V yang dikenal dengan Geger Pecinan.

Raja yang mempunyai nama asli Raden Mas Prabasuyasa ini naik tahta pada usia yang masih cukup muda yaitu 15 tahun. Ketika menjabat Pakubuwono II menghadapi banyak tantangan dan konflik selama masa pemerintahannya, baik dari dalam maupun dari luar kerajaan.

PB II mengalami pemberontakan pertama oleh pasukan Sunan Kuning hingga harus pergi ke Madiun untuk mengumpulkan para pendukungnya dan dari sana melakukan upaya yang sia-sia untuk mendapatkan kembali mahkotanya yang hilang.

Putus asa karena bertumpuk-tumpuk kesengsaraan, ia tetap tinggal di sana untuk sementara waktu. Saat Pelarian Ke Ponorogo dia memakai gelar Panembahan Brawijaya.

Dirinya kemudian pergi ke Ponorogo bertemu Kiai Ageng Muhammad Besari di Tegalsari. Di Tegalsari, Pakubuwono II memohon pada Kiai Ageng untuk menjadi perantara antara dirinya dan Allah serta berdoa supaya ia mendapatkan kembali takhtanya.

Pada November 1742, Cakraningrat IV dari Bangkalan bersama pasukannya berhasil mengusir Mas Garendi dari Kartasura.  Kompeni kemudian mengangkat kembali Pakubuwono II sebagai raja.

PB II kemudian memindahkan keraton Kartasura yang dianggap telah ternoda ke daerah Sala/Solo. Tetapi perpindahan ini tidak menghilangkan konflik yang sudah mengakar di keluarga Mataram.

Perang Suksesi Jawa

Konflik yang harus dihadapi oleh PB II adalah Perang Suksesi Jawa III, yaitu perang saudara yang meletus antara Pakubuwono II dengan adik-adiknya yang tidak puas dengan kebijakan-kebijakannya.

Perang ini bermula saat PB II menggelar sayembara untuk memberantas pemberontakan Geger Pecinan yang masih tersisa. PB II akan memberikan hadiah tanah Sukawati (sekarang Sragen), bagi siapa saja yang berhasil merebut daerah itu dari tangan Pangeran Sambernyawa.

Ketika itu Mangkubumi (kelak jadi Sultan Hamengkubuwono I) berhasil mengalahkan pasukan Pangeran Sambernyawa. Namun, Patih Pringgalaya membujuk Pakubuwana II supaya tidak menyerahkan tanah Sukawati kepada Pangeran Mangkubumi.

Hal ini diperparah dengan hadirnya Baron van Imhoff ke Keraton Surakarta untuk menyewa daerah pesisir kepada VOC dengan harga 20.000 real Spanyol setiap tahun. Pangeran Mangkubumi menentang hal itu.

Terjadilah pertengkaran di mana menghina Pangeran Mangkubumi di depan umum. Pangeran Mangkubumi sakit hati dan memilih bergabung dengan pasukan Pangeran Sambernyawa sejak Mei 1746.

Meninggal dalam keadaan konflik

Di tengah situasi genting, PB II jatuh sakit.  Joan Andreas Baron van Hohendorff, gubernur pesisir Jawa bagian timur laut tiba di Surakarta untuk menjadi saksi pergantian raja.

PB II kemudian menyerahkan kedaulatan Keraton Surakarta kepada pihak VOC. Pada perjanjian itu, disebutkan hanya VOC yang berkuasa atas kerajaan dan berhak melantik raja-raja keturunan Mataram.

Perjanjian pun ditandatangani tanggal 11 Desember 1749 ini jadi titik awal hilangnya kedaulatan Mataram ke tangan Belanda.

Pakubuwana II akhirnya meninggal dunia pada tanggal 20 Desember 1749 dan oleh Raden Mas Suryadi, putranya yang bergelar Pakubuwana III.

Pakubuwana III pada pemerintahannya harus dihadapkan pada kaum pemberontak yang dipelopori Pangeran Mangkubumi dan Pangeran Sambernyawa. Di kemudian hari pada tahun 1755, kedua belah pihak antara Pakubuwama III dan Pangeran Mangkubumi menyepakati isi Perjanjian Giyanti.

Disusul Perjanjian Salatiga pada tahun 1757 yang disepakati oleh ketiga pihak yakni Pakubuwana III, Pangeran Mangkubumi dan Pangeran Sambernyawa. Setelah perjanjian ini Mataram akhirnya terpecah menjadi tiga kerajaan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Tim Editorarrow

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.