Bincangperempuan.com– Di era digital saat ini, kita hidup di tengah lautan pilihan. Mau hiburan? Ada Netflix, YouTube, TikTok, dan ratusan platform lain. Mau belanja? Marketplace berderet menunggu di ujung jari. Tapi di balik kemudahan itu, muncul fenomena baru bernama FOBO.
Kalau selama ini kamu sering dengar FOMO (Fear of Missing Out)—rasa takut tertinggal momen atau tren, kini ada saudaranya, yaitu FOBO atau Fear of Better Options.
FOBO adalah kecemasan atau ketakutan bahwa mungkin ada pilihan yang lebih baik di luar sana. Akibatnya, seseorang jadi sulit mengambil keputusan. Patrick McGinnis, penulis dan investor yang pertama kali memperkenalkan istilah ini, menjelaskan dalam wawancaranya dengan HuffPost:
“FOBO muncul ketika kita sebenarnya sudah punya beberapa pilihan yang sama-sama baik, tapi tetap saja tidak bisa memilih satu pun.”
Baca juga: Saat Gen Z dan Milenial Meninggalkan FOMO dan Merangkul JOMO
FOBO dalam Kehidupan Sehari-hari
Kita mungkin mengira FOBO hanya terjadi pada keputusan besar dalam hidup. Padahal, ia bisa menyelinap dalam keseharian. Misalnya, menghabiskan waktu berjam-jam membandingkan harga barang online tapi tak kunjung menekan tombol checkout. Atau menunda memutuskan mau nonton film apa sampai akhirnya waktu menonton habis.
Namun, dampak sesungguhnya terasa ketika FOBO menjangkiti hal-hal besar seperti terlalu lama menentukan arah karier karena menunggu “peluang yang lebih baik”, menolak tawaran kerja dengan alasan belum yakin, atau menahan diri memilih pasangan karena takut ada yang lebih cocok di luar sana.
Dalam upaya mencari pilihan yang sempurna itu, kita justru sering tidak bergerak ke mana-mana. Hidup terasa seperti tombol pause yang tak kunjung ditekan kembali. Menurut life coach Sam Svitorka, FOBO sering muncul sebagai “daftar kelebihan dan kekurangan yang tak pernah berakhir di kepala.” Berpikir matang memang penting, tapi ketika proses itu berlarut-larut, kita justru terjebak di lingkaran “bagaimana kalau ada yang lebih baik?”.
Dari sana kita bisa mengenal tanda-tanda yang bisa menunjukkan kamu sedang mengalami FOBO antara lain:
- Butuh waktu sangat lama untuk membuat keputusan, bahkan untuk hal-hal kecil.
- Sering merasa ragu setelah memutuskan sesuatu.
- Terus membandingkan pilihanmu dengan kemungkinan lain.
- Cemas kehilangan opsi terbaik, sehingga tak pernah merasa puas.
- Selalu menyesal atau merasa tak puas dengan keputusan yang telah dibuat.
Ketika Takut Memilih Mengganggu Kehidupan
Sekilas FOBO tampak sepele hanya soal menimbang-nimbang keputusan. Tapi efeknya ternyata bisa berdampak lebih besar. McGinnis bahkan menilai FOBO bisa lebih merusak daripada FOMO. Kalau FOMO lebih bersifat internal, maka FOBO sering kali berdampak juga pada orang lain.
Orang dengan FOBO cenderung membuat orang di sekitarnya seperti teman, keluarga, rekan kerja, atau bahkan pasangan. Mereka sulit berkomitmen, selalu menunda, dan menunggu waktu yang tepat untuk memutuskan sesuatu, yang sering kali tidak pernah datang.
Bayangkan kamu sedang jalan-jalan dengan teman atau rekanmu, sedangkan ia tidak kunjung memutuskan akan beli apa saking bingungnya. Akhirnya kamu dan temanmu hanya menghabiskan waktu untuk menimbang-nimbang keputusan.
Mereka yang mengalami FOBO terus mencari kemungkinan baru, percaya bahwa semakin lama mencari, semakin besar peluang menemukan yang “sempurna”. Padahal, kata McGinnis, keyakinan itu keliru, karena semakin lama menunggu, justru bisa melewatkan kesempatan bagus.
Baca juga: Apa Itu Quarter Life Crisis? Dan Bagaimana Cara Menghadapinya?
Bagaimana Mengatasi FOBO?
Langkah pertama untuk keluar dari jerat FOBO adalah mengakuinya. Menyadari bahwa kamu sedang takut membuat keputusan sebagai bentuk kejujuran terhadap diri sendiri. Setelah itu, ingatlah bahwa sebagian besar keputusan dalam hidup bersifat sementara. Kamu selalu bisa menyesuaikan, memperbaiki, atau bahkan mengubah arah jika ternyata hasilnya tidak sesuai harapan.
Pegang nilai dan tujuan jangka panjangmu. Saat terlalu fokus mencari pilihan “terbaik”, kita sering lupa menanyakan hal yang lebih penting “apa yang benar-benar aku butuhkan?” Pilihan yang selaras dengan nilai dan arah hidupmu biasanya lebih menenangkan daripada sekadar yang paling menjanjikan.
Kurangi kebiasaan meminta pendapat terlalu banyak orang. Terlalu banyak suara hanya menambah kebingungan. Percayai intuisi dan pengalamanmu sendiri. Belajarlah untuk puas dengan pilihan yang cukup baik tidak harus maksimal. Karena realitasnya kita tidak ada yang namanya kesempurnaan, terlalu mengagungkan keputusan sempurna justru membuat kita banyak kehilangan momen.
Dan akhirnya, terimalah bahwa sedikit penyesalan adalah bagian dari setiap keputusan. Tidak semua hal akan berjalan sesuai harapan, tapi itu tidak membuat pilihanmu salah. Kadang, keputusan terbaik bukan yang paling sempurna, melainkan yang kamu ambil dengan kesadaran penuh bahwa kamu siap menjalaninya.
Jadi, bagaimana denganmu, B-Pers? Pernahkah kamu menunda keputusan karena takut ada yang lebih baik di luar sana? Atau justru merasa lelah terus membandingkan dan tak pernah benar-benar puas dengan pilihan sendiri?
Mungkin sudah saatnya kita berhenti mencari yang sempurna, dan mulai berdamai dengan ketidaksempurnaan. Karena hidup bukan tentang menemukan pilihan terbaik, tapi tentang berani memilih dan menjalaninya dengan tenang.
Referensi:
- McPhillips, D. (2016, August 9). FOMO, FOBO and how to cope with the fear of better options. HuffPost. https://www.huffpost.com/entry/fobo-fomo-how-to-cope-goog_l_68def1b3e4b061291b1440e1
- HuffPost Life. (2024, February 28). How to avoid FOBO (Fear of Better Options) once and for all. HuffPost. https://www.huffpost.com/entry/how-to-avoid-fobo_l_67a12959e4b09a02376044a8





Comments are closed.