Dok. Uli Tampubolon (Google Maps)
Di Kelurahan Rukun Lima, Kecamatan Ende Selatan, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, terdapat sebuah taman kecil yang menyimpan kisah besar bagi perjalanan bangsa Indonesia.
Taman Renungan Bung Karno, atau dikenal juga sebagai Taman Renungan Pancasila, adalah tempat Soekarno menghabiskan waktu merenung selama masa pengasingannya di Ende, yang berlangsung dari 14 Januari 1934 hingga 18 Oktober 1938. Di taman inilah, di bawah sebatang pohon sukun, gagasan tentang Pancasila mulai terbentuk dalam pikirannya.
Soekarno sendiri pernah mengungkapkan hal ini dengan kalimat yang kemudian menjadi terkenal, “Di kota ini kutemukan lima butir mutiara, di bawah pohon sukun ini pula, kurenungkan nilai-nilai luhur Pancasila.” Yang menarik, ide lima sila itu konon terinspirasi dari lima cabang pohon sukun tempat ia biasa duduk merenung. Karena kisah ini, Kota Ende kemudian mendapat julukan sebagai Kota Pancasila.
Meski gagasan Pancasila lahir di Ende, pidato resmi tentang Pancasila baru disampaikan Soekarno pada sidang pertama Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia pada 29 Mei hingga 1 Juni 1945. Tanggal 1 Juni itulah yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Lahir Pancasila, dan sejak 2016 juga ditetapkan sebagai hari libur nasional.
Sekilas Mengenai Taman Renungan Bung Karno
Selama masa pengasingan di Ende, Soekarno tidak sendirian. Ia ditemani istrinya Inggit Garnasih, ibu mertuanya Amsi, serta kedua anak angkatnya, Ratna Juami dan Kartika. Mereka tinggal di rumah pengasingan milik Haji Abdullah Ambuwaru, yang jaraknya sekitar 500 meter dari taman ini.
Bung Karno pernah berpesan bahwa jika suatu saat pohon sukun di taman ini mati, hendaklah ditanam kembali dengan pohon sukun yang baru. Pesan itu terbukti bermakna, karena pohon sukun asli memang tumbang, menurut sebagian catatan sekitar 1960 dan menurut catatan lain sekitar 1972. Pemerintah daerah sempat mencoba menanam kembali, namun tidak berhasil tumbuh.
Baru pada 1980 atau 1981, di bawah kepemimpinan Bupati Ende saat itu, Herman Joseph Gadi Djou, pohon sukun ditanam kembali oleh sahabat-sahabat Bung Karno yang masih hidup. Yang istimewa, pohon baru itu tumbuh dengan lima cabang, sesuatu yang oleh warga setempat dianggap membuktikan bahwa Ende memang benar-benar tempat lahirnya Pancasila.
Pada 1951, dua tahun setelah kemerdekaan Indonesia, Soekarno yang sudah menjadi presiden kembali mengunjungi Ende dan bertemu Haji Abdullah Ambuwaru, menyampaikan niatnya agar rumah pengasingan itu dijadikan museum. Niat itu terwujud pada 16 Mei 1954, ketika Bung Karno sendiri meresmikan rumah tersebut sebagai Rumah Museum.
Daya Tarik Utama Taman Renungan Bung Karno
Taman Renungan Bung Karno menawarkan pengalaman yang lebih personal dibanding kebanyakan situs sejarah, karena skalanya kecil dan intim, cocok untuk merenungkan makna sebenarnya di balik kisahnya.
Patung Bung Karno adalah yang pertama menyambut pengunjung begitu masuk ke taman ini. Patung tersebut menggambarkan Bung Karno sedang duduk merenung di sebuah bangku, tepat di bawah pohon sukun bercabang lima. Posisi patung ini dibuat menyerupai suasana ketika Bung Karno benar-benar duduk merenung di tempat yang sama puluhan tahun lalu.
Pohon sukun yang kini disebut sebagai Pohon Pancasila menjadi elemen paling bermakna di taman ini. Meski bukan pohon asli, keberadaannya tetap menjadi simbol hidup dari kisah perenungan yang melahirkan dasar negara. Berdiri di bawahnya, Kawan bisa membayangkan bagaimana Bung Karno dulu menghabiskan waktu memikirkan masa depan bangsa yang saat itu masih berada dalam cengkeraman penjajahan.
Tidak jauh dari taman, sekitar 500 meter, terdapat Rumah Museum bekas tempat pengasingan Bung Karno. Rumah ini masih terawat dengan baik, dengan ruang tamu yang memajang lukisan karya Bung Karno sendiri, menggambarkan umat Hindu di Bali yang sedang bersembahyang.
Ruang tidur, sumur, kamar mandi, dan dapur di bagian belakang rumah juga masih ditata seperti kondisi aslinya. Menggabungkan kunjungan ke taman dan rumah museum ini memberikan gambaran yang lebih utuh tentang bagaimana Bung Karno menjalani hari-harinya selama diasingkan.
Kawasan Taman Renungan Bung Karno kini juga dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan kreasi seni, budaya, dan diskusi.
Akses Menuju Taman Renungan Bung Karno
Taman Renungan Bung Karno berlokasi di Kelurahan Rukun Lima, Kecamatan Ende Selatan, Kabupaten Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Untuk mencapai Ende, Kawan bisa terbang menuju Bandara H. Hasan Aroeboesman di Ende dari beberapa kota besar seperti Kupang atau Denpasar dengan penerbangan yang tersedia beberapa kali dalam seminggu.
Dari pusat Kota Ende, taman ini bisa dijangkau dengan kendaraan pribadi maupun ojek dalam waktu singkat karena lokasinya tidak jauh dari pusat kota dan berdekatan dengan Rumah Museum Bung Karno.
Jam Operasional dan Harga Tiket
Taman Renungan Bung Karno merupakan ruang terbuka publik yang bisa dikunjungi kapan saja tanpa dipungut biaya masuk. Untuk kunjungan ke Rumah Museum Bung Karno di dekatnya, sebaiknya Kawan mengonfirmasi jam operasional langsung ke pengelola setempat karena informasi ini bisa berubah sewaktu-waktu.
Taman Renungan Bung Karno cocok untuk Kawan GNFI yang ingin merasakan langsung tempat lahirnya gagasan besar yang membentuk Indonesia. Sempatkan juga mampir ke Rumah Museum Bung Karno yang tidak jauh dari taman ini, agar perjalanan sejarah yang ditelusuri terasa lebih lengkap dari awal hingga akhir masa pengasingan Sang Proklamator di Ende.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News





Comments are closed.