Thu,13 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Health
  3. Teliti Mekanisme Polusi Menyebar di Atmosfer, Mahasiswa IPB Raih Penghargaan di Tiongkok

Teliti Mekanisme Polusi Menyebar di Atmosfer, Mahasiswa IPB Raih Penghargaan di Tiongkok

teliti-mekanisme-polusi-menyebar-di-atmosfer,-mahasiswa-ipb-raih-penghargaan-di-tiongkok
Teliti Mekanisme Polusi Menyebar di Atmosfer, Mahasiswa IPB Raih Penghargaan di Tiongkok
service

Mahasiswa Program Studi Doktor (S3) Departemen Fisika IPB University, Ahmad Ripai, meraih penghargaan First Prize pada ajang kompetisi riset International Summer School on Climate Change and Related Risks yang diselenggarakan oleh Fudan University, Shanghai, pada 6–23 Juli 2026 lalu. Prestasi ini hasil kolaborasi multidisiplin.

Dalam ajang ini, Ripai dan tim membawakan riset berjudul “Impact of Biomass Burning on Air Quality in China: Comparison against WHO Guidelines and National Air Quality Standards”. Riset ini berangkat dari fenomena pembakaran residu pertanian yang rutin terjadi setiap bulan Juni setelah musim panen di North China Plain (NCP).

“Persoalan ilmiah yang ingin kami jawab bukan hanya apakah pembakaran biomassa menyebabkan pencemaran udara, melainkan bagaimana asap hasil pembakaran tersebut ditransportasikan oleh atmosfer hingga memengaruhi kualitas udara di Beijing, serta sejauh mana kebijakan pengendalian pencemaran udara yang diterapkan pemerintah Tiongkok berhasil mengurangi dampaknya,” kata Ripai.

Ia menjelaskan riset ini berfokus melihat bagaimana asap dan polusi udara bergerak serta menyebar di atmosfer. Menggunakan hukum fisika tentang pergerakan udara, polutan diperlakukan sebagai zat yang terbawa oleh angin sekaligus tercampur oleh turbulensi udara.

Merekam pola pergerakan ini menjelaskan mengapa polusi tidak hanya berkumpul di lokasi pembakaran, tetapi bisa menyebar luas ke daerah lain mengikuti perubahan musim.

“Lewat kerangka berpikir ini, kami memetakan data titik api, tingkat debu halus, ketebalan asap, gas karbon monoksida, hingga karbon hitam. Data tersebut lalu dihubungkan dengan model pemodelan angin NOAA HYSPLIT untuk melacak dari mana asalnya polusi yang sampai ke Beijing,” ujar Ripai.

Dari analisis terungkap saat polusi berada di titik tertinggi, asap yang menyelimuti Beijing rupanya terbawa angin dari wilayah pertanian di bagian selatan North China Plain yang sedang marak melakukan pembakaran lahan. Temuan ini menyambungkan rantai proses terjadinya polusi, mulai dari pembakaran lahan, pelepasan polutan, terbawa sirkulasi angin, hingga akhirnya memperburuk kualitas udara di Beijing.

“Selain memetakan pergerakan asap, penelitian kami juga menguji seberapa efektif kebijakan lingkungan pemerintah Tiongkok. Data 10 tahun terakhir (2013–2023) menunjukkan adanya penurunan polusi yang cukup drastis, menandakan kebijakan di sana mulai membuahkan hasil,” katanya.

“Walau sudah memenuhi standar nasional Tiongkok saat musim panas, tingkat kebersihan udaranya ternyata masih menjadi tantangan untuk bisa memenuhi standar WHO (World Health Organization) yang jauh lebih ketat,” kata Ripai.

Capaian gemilang tersebut lahir dari iklim akademik dan pembinaan riset mendasar yang sangat kuat di Departemen Fisika IPB University. Tradisi berdiskusi first principles thinking di Divisi Fisika Teoretik Departemen Fisika IPB University membuat mahasiswa terbiasa berpikir kritis dari fondasi hukum alam yang paling mendasar.

“Pengalaman saya selama mengikuti International Summer School on Climate Change and Related Risks di Fudan University semakin menguatkan pandangan saya tentang pentingnya riset-riset teoritis, khususnya fisika teoretis,” katanya.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.