Mubadalah.id – Teungku Fakinah (Lam Diran, Aceh, 1856 – Aceh, 1938) merupakan seorang ulama perempuan sekaligus panglima perang dari Aceh yang memiliki peran penting dalam perjuangan melawan kolonial Belanda dan pengembangan pendidikan Islam.
Ia dikenal sebagai pemimpin dayah (lembaga pendidikan Islam tradisional) serta tokoh perempuan yang berani mengorganisir kekuatan perempuan dalam medan perjuangan.
Selain sebagai panglima perang, Teungku Fakinah juga berperan dalam menghidupkan kembali lembaga pendidikan agama yang didirikan oleh ayahnya, Datuk Mahmud. Ia tidak hanya melanjutkan tradisi keilmuan keluarga, tetapi juga mengembangkan pendidikan bagi masyarakat, khususnya perempuan.
Riwayat Hidup
Sejak kecil, Teungku Fakinah telah mendapatkan pendidikan agama dari keluarganya. Dari ibunya, Teungku Fatimah, ia belajar membaca Al-Qur’an serta memahami dasar-dasar ilmu Islam melalui kitab-kitab berbahasa Melayu. Ia juga dibekali keterampilan domestik seperti menjahit, menenun, memasak, dan menyulam, sebagaimana lazimnya perempuan pada masa itu.
Sementara itu, dari ayahnya, Datuk Mahmud—seorang pejabat kerajaan sekaligus tokoh agama—ia mempelajari bahasa Arab, fikih, tasawuf, akhlak, tafsir, hadis, serta sejarah Islam. Menjelang pecahnya Perang Aceh, Teungku Fakinah juga mempelajari keterampilan militer sebagai bekal menghadapi situasi konflik.
Ia kemudian melanjutkan pendidikan ke Makkah dan berguru kepada Teungku Syekh Muhammad Saad dari Peusangan. Proses belajar ini banyak dilakukan di Masjidil Haram, yang menjadi pusat keilmuan Islam pada masa itu.
Kehidupan Keluarga
Teungku Fakinah berasal dari keluarga ulama dan umara. Ayahnya merupakan pejabat tinggi di Kerajaan Aceh, sementara ibunya adalah putri seorang ulama besar. Latar belakang ini membentuk karakter kuat, berani, dan berilmu dalam dirinya.
Ia menikah dengan Teungku Ahmad, seorang ulama sekaligus perwira perang. Bersama suaminya, ia mengajar di Dayah Lampucok, lembaga pendidikan yang didirikan oleh ayahnya. Namun, suaminya gugur dalam pertempuran melawan Belanda.
Setelah itu, ia menikah kembali dengan Teungku Nyak Badai dari Pidie. Namun, suami keduanya juga gugur dalam peperangan pada tahun 1896. Dua kali kehilangan suami tidak membuat semangat perjuangannya surut. Justru, hal tersebut semakin menguatkan tekadnya untuk terus melawan penjajahan.
Pada tahun 1915, ia menikah untuk ketiga kalinya dengan Ibrahim sebagai mahram dalam perjalanan haji ke Makkah. Namun, tak lama kemudian suaminya wafat di Makkah. Setelah beberapa tahun menuntut ilmu, ia kembali ke Aceh pada tahun 1918.
Kiprah Keulamaan
Teungku Fakinah terkenal sebagai sosok ulama perempuan yang memiliki peran ganda: sebagai pendidik dan panglima perang. Dalam bidang pendidikan, ia memimpin dayah dan mengajarkan berbagai ilmu keislaman kepada murid-muridnya. Ia berkomitmen memberantas kebodohan dan membangun kesadaran keagamaan masyarakat.
Dalam medan perjuangan, ia tampil sebagai panglima perang yang berani. Ketika Belanda mulai menyerang Aceh pada tahun 1873, Teungku Fakinah ikut terlibat dalam perlawanan. Ia bahkan memimpin pasukan sendiri yang terkenal sebagai Sukey Fakinah, sebuah kesatuan militer yang terdiri dari beberapa batalion.
Menariknya, salah satu batalion dalam pasukan tersebut seluruh anggotanya adalah perempuan. Hal ini menunjukkan bagaimana Teungku Fakinah berhasil menggerakkan perempuan untuk terlibat aktif dalam perjuangan melawan penjajahan. Ia juga memberi ruang bagi perempuan untuk menjadi pemimpin dalam unit-unit kecil pasukan.
Selain strategi militer, Teungku Fakinah juga melakukan pendekatan kultural dan spiritual. Ia menggerakkan para perempuan, termasuk janda-janda dan santrinya, untuk turut serta dalam perjuangan, baik sebagai pejuang maupun pendukung logistik.
Ia juga terkenal memiliki peran dalam mengembalikan semangat perjuangan Teuku Umar melalui komunikasi dengan Cut Nyak Dhien. Upaya ini menunjukkan kecerdasannya dalam strategi perjuangan, tidak hanya melalui senjata, tetapi juga melalui pendekatan moral dan emosional.
Ketika tidak berada di medan perang, Teungku Fakinah kembali pada perannya sebagai ulama dan pendidik. Ia mengajar, membina santri, dan membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya ilmu dan agama.
Kepedulian Sosial
Selain sebagai panglima perang dan pendidik, Teungku Fakinah juga memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Ia membentuk Badan Amal Sosial yang beranggotakan para perempuan, khususnya janda-janda korban perang.
Kelompok ini bertugas menggalang dukungan masyarakat berupa bahan pangan, dana, dan kebutuhan logistik lainnya untuk mendukung perjuangan melawan Belanda. Gerakan ini mendapat dukungan luas dari masyarakat Aceh Besar hingga berkembang ke wilayah Pidie.
Teungku Fakinah juga aktif melakukan diplomasi dengan mendatangi tokoh masyarakat dan kalangan berada untuk menggalang zakat dan bantuan. Semua hasil yang ia peroleh, ia gunakan untuk mendukung perjuangan rakyat Aceh.
Akhir Hayat
Setelah menjalani kehidupan yang penuh perjuangan, Teungku Fakinah wafat pada 8 Ramadan 1359 H atau tahun 1938 M di kediamannya di Gampong Beuha, Mukim Lam Krak, Aceh, dalam usia 75 tahun.
Warisan perjuangannya tidak hanya tercatat dalam sejarah perlawanan terhadap kolonialisme, tetapi juga dalam upaya membangun pendidikan dan peran perempuan dalam masyarakat. Teungku Fakinah menjadi salah satu bukti bahwa perempuan memiliki kontribusi besar dalam perjuangan, keulamaan, dan perubahan sosial di Indonesia. []





Comments are closed.