Thu,14 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Tidak Pernah Berbuka

Tidak Pernah Berbuka

tidak-pernah-berbuka
Tidak Pernah Berbuka
service

Sejak imsak, kita diperintahkan menahan diri. Bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi menahan dorongan nafsu yang bersemayam dalam diri manusia. Puasa dimulai sebelum fajar, seakan memberi pesan bahwa pengendalian diri harus dimulai bahkan sebelum aktivitas kehidupan benar-benar berjalan.

Menjelang maghrib, kita menanti waktu berbuka. Syariat memberi kelonggaran: kita diperbolehkan makan, minum, dan pada malam hari dihalalkan hubungan suami istri. Tubuh diberi haknya kembali, sebagai bentuk keseimbangan antara ibadah dan kemanusiaan. Islam tidak menginginkan manusia tersiksa, melainkan manusia yang sadar.

Namun di balik kelonggaran itu, ada pelajaran yang sering luput dari perhatian: yang benar-benar “berbuka” hanyalah lapar dan dahaga. Selain itu, puasa tidak pernah diperintahkan untuk berhenti.

Amarah tidak memiliki waktu berbuka.
Ghibah tidak dihalalkan setelah adzan maghrib.
Iri hati tidak menjadi boleh setelah minum pertama.
Kesombongan tidak pernah mendapatkan dispensasi syariat.

Jika siang hari kita menahan lisan dari menyakiti, maka malam hari pun ia tetap harus dijaga. Jika siang hari kita menahan emosi, maka setelah berbuka pun kita tetap diminta menjadi manusia yang teduh. Jika siang hari kita berusaha membersihkan hati, maka malam hari adalah waktu melanjutkan kejernihan itu.

Dengan kesadaran ini, puasa menjadi latihan karakter, bukan sekadar ibadah waktu terbatas. Ramadhan mendidik kita bahwa pengendalian diri bukan proyek harian yang dimulai saat imsak dan selesai saat maghrib, melainkan perjalanan seumur hidup.

Di sinilah letak kedalaman makna puasa: kita berbuka dari lapar, tetapi tidak pernah berbuka dari akhlak. Kita berbuka dari dahaga, tetapi tidak pernah berbuka dari kejujuran. Kita berbuka dari rasa haus, tetapi tidak pernah berbuka dari kasih sayang kepada sesama.

Maka, ketika tangan kita mengangkat gelas saat adzan maghrib berkumandang, biarlah yang kita akhiri hanyalah haus tubuh. Sementara kesadaran jiwa tetap berpuasa — menjaga lisan, merawat hati, dan menundukkan ego — sepanjang waktu.

Sebab tujuan puasa bukan sekadar menahan diri sementara, tetapi melahirkan manusia yang sepanjang hidupnya mampu menjaga dirinya.[]

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.