Suatu sore di akhir pekan, lima bersaudara sedang bermain di ruang keluarga. Si bungsu, baru belajar bicara, masih cadel, tapi sudah pandai menirukan percakapan orang dewasa. Dengan semangat khas anak-anak, para kakak mulai menggoda.
“Adik pilih siapa, Kakak atau Mama?”
“Mama.”
“Mama atau Nenek Kakek?”
“Mama.”
“Mama atau Ayah?”
“Mama.”
“Kalau Mama atau Allah?”
“Mama!”
Semua tertawa. Lalu salah satu kakak mencoba membujuk, “Salah itu, harusnya Allah.” Tapi si kecil tetap kukuh dengan wajah polos: “Mama.”
Tak ada rayuan atau ancaman yang bisa mengubah jawabannya.
Bagi kita yang dewasa, jawaban itu mungkin terdengar kufur atau bahkan syirik. Tapi kalau direnungkan dengan hati yang tenang, ada sesuatu yang dalam di balik kepolosan itu. Anak kecil itu belum mengenal Tuhan sebagai konsep atau nama yang abstrak, tapi ia sudah merasakan kehadiran-Nya dalam cinta dan kasih sayang Mama-nya.
Baginya, Mama adalah rangkuman kesabaran, kebaikan, kelembutan, dan cinta paling nyata. Ia belum mengenal istilah tauhid, tapi ia sudah hidup dalam keesaan sumber kasih itu. Dalam dunia batinnya yang sederhana, Mama adalah tempat Tuhan menampakkan diri dalam bentuk yang paling dekat, konstan dan bisa disentuh.
Kasih Ibu, Jalan Mengenal Tuhan
Al-Qur’an sesungguhnya juga menyebutkan hubungan tak terpisahkan antara menyembah Tuhan dan menghormati orangtua. Dalam Surat al-Isra’ ayat 23 disebutkan:
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ ٱلْكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
Artinya:
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS: Al-Isra’ [17]: 23)
Ayat ini menegaskan bahwa ibadah kepada Allah tak bisa dilepaskan dari kebaikan kepada orang tua. Keduanya berjalan beriringan: siapa yang menyembah Tuhan tapi menyakiti ibunya berarti belum benar-benar beribadah. Atau dalam konteks yang lebih luas, siapa yang menyebah Tuhan tapi mengkhianati sumber cinta berarti tak sampai kepada Sesembahannya.
Dalam surat Luqman ayat 14, Allah menambahkan lapisan makna yang lebih lembut:
وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَٰلُهُۥ فِى عَامَيْنِ أَنِ ٱشْكُرْ لِى وَلِوَٰلِدَيْكَ إِلَىَّ ٱلْمَصِيرُ
Artinya:
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS: Luqman [31]: 14)
Bayangkan, ayat ini menyandingkan syukur kepada Allah langsung dengan syukur kepada orang tua. Syukur kepada Tuhan tanpa syukur kepada ibu dan ayah adalah syukur yang kehilangan, pijakan, tubuh dan rasa.
Nabi juga bersabda, “Ridha Allah tergantung pada ridha orangtua, dan murka Allah tergantung pada murka orangtua.”(HR. Tirmidzi)
Artinya, keridhaan teologis sumber kebaikan bersanding dengan keridhaan antropologis sumber kebaikan.
Rumah: Tempat Tuhan Pertama Kali Dikenal
Bagi banyak orang, rumah adalah ruang paling biasa, tapi juga paling bermakna. Di sana kita belajar tentang cinta, maaf, pengorbanan, dan rasa aman. Di rumah pula, tanpa disadari, kita belajar mengenal Tuhan. Bukan lewat konsep, tapi lewat pengalaman: lewat sentuhan, perhatian, dan kasih yang tidak berhenti memberi.
Anak kecil dalam kisah tadi belum tahu bagaimana berdoa, tapi ia sudah hidup dengan doa. Doa anak itu, meminjam istilah para filosof, masih dalam bentuknya yang pra-teks, pra-diskursif, tertuang dalam setiap pelukan dan suapan, dalam setiap kalimat lembut ibunya.
Rumah, karenanya, adalah madrasah iman paling awal. Meminjam istilah Martin Heidegger, dwelling (hunian) manusia, yang tanpanya, dia akan terasing dalam dunia fana ini.
Dalam rumah, yang sakral tak datang dalam bentuk mukjizat, melainkan hadir dalam rutinitas kecil yang kita jalani setiap hari: makan bersama, mendengarkan, menunggu, memaafkan. Di situ, Tuhan sedang turun ke kehidupan kita, diam-diam, pelan-pelan, tapi meresap dan nyata.
Yang Sakral dalam Hal yang Biasa
Antropolog Mircea Eliade pernah menulis bahwa yang sakral tidak hanya turun dari langit, tapi menyelinap ke dalam yang profan. Dunia yang tampak biasa bagi kita sesungguhnya penuh dengan makna jika dilihat dari mata yang peka. Atau, jika boleh, segala yang biasa, bagi hati yang suci sang anak, menampakkan kehadiran Ilahi.
Rumah, bagi Eliade, bukan sekadar bangunan: ia adalah pusat dunia kecil di mana langit dan bumi bersinggungan. Di pelukan seorang ibu, seorang anak merasa aman seperti semesta menemukan porosnya. Itulah bentuk paling awal dari “tempat suci”—saluran tempat kasih dan dunia berpaut.
Antropolog lain, Pierre Delooz, melengkapi pandangan itu dengan cara yang lebih sosial. Ia mengatakan bahwa kesucian selalu lahir dalam hubungan antar manusia. Seseorang dianggap “suci” bukan karena dia memiliki kekuatan ajaib, tapi karena ia diakui membawa cinta dan kebaikan bagi yang lain. Dengan cara itu, kasih seorang ibu kepada anaknya adalah bentuk kesucian sosial yang paling nyata, karena di sanalah cinta bekerja tanpa mengharap balasan.
Ketika Tuhan Turun ke yang Biasa
Antropolog India Veena Das menyebut konsep “the descent into the ordinary”, bahwa kehidupan yang terluka atau kehilangan makna selalu menemukan pemulihan melalui hal-hal kecil: memasak, menunggu, merawat, berbagi. Makna, bagi Das, tidak ditemukan di luar dunia, tapi lahir di tengah keseharian yang sederhana.
Barangkali begitulah juga cara Tuhan hadir. Bukan lewat cahaya yang menyilaukan, tapi lewat kehadiran yang hangat dan manusiawi. Tuhan tidak selalu turun di puncak gunung; Ia sering hadir di dapur, di ruang makan, di tangan ibu yang sabar menyiapkan sarapan, di ayah yang pulang larut tapi tetap tersenyum. Dalam bahasa Veena Das, yang ilahi menampakkan diri ketika manusia saling menjaga kehidupan.
Etika Nyata di Tengah Kehidupan
Antropolog Michael Lambek melanjutkan gagasan itu dengan istilah “ordinary ethics”, bahwa kebaikan dan iman sejati hidup bukan di luar dunia, tapi di dalam tindakan-tindakan kecil yang membuat hidup lebih manusiawi. Ketika seseorang membantu tanpa disuruh, memaafkan tanpa pamrih, atau menenangkan yang resah, ia sedang menjalani bentuk ibadah yang tidak memakai nama, tapi penuh makna.
Dengan Lambek, kita bisa memahami bahwa iman tidak hanya diucapkan, tapi dihidupi.
Ibu yang menjaga anaknya tanpa lelah, ayah yang bekerja dalam diam, anak yang mencium tangan ibunya, semuanya adalah bagian dari kehadiran Tuhan yang turun dalam tindakan.
Kesimpulan: Tuhan yang Dikenal Lewat Kehadiran
Kisah anak kecil yang memilih “Mama” bukan tentang kesalahan, tapi tentang kebenaran yang paling murni. Ia sedang menunjukkan bagaimana manusia pertama kali mengenal Tuhan, bukan lewat ajaran, tapi lewat rasa.
Tuhan pertama kali hadir di pelukan, di kasih yang memberi rasa aman, di cinta yang tak meminta imbalan. Seperti ditegaskan Al-Qur’an, syukur kepada Tuhan dimulai dari syukur kepada mereka yang melahirkan kita. Dan seperti diajarkan Nabi SAW, keridhaan Tuhan berjalan seiring dengan keridhaan orangtua.
Yang sakral tidak hanya ada di masjid atau kitab; ia hidup di rumah, di hati yang sabar, di tangan yang memberi. Di situlah Tuhan yang hadir, tidak jauh, tidak tinggi, tapi dekat dan hangat. Kadang, terlalu dekat, sampai kita baru menyadari-Nya ketika seorang anak kecil dengan jujur berkata:
“Aku pilih Mama.”





Comments are closed.