Mon,27 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Tujuh Bulan Pascabanjir, Jembatan Kutablang di Bireuen Belum Pulih, Warga Bergantung Jembatan Apung

Tujuh Bulan Pascabanjir, Jembatan Kutablang di Bireuen Belum Pulih, Warga Bergantung Jembatan Apung

tujuh-bulan-pascabanjir,-jembatan-kutablang-di-bireuen-belum-pulih,-warga-bergantung-jembatan-apung
Tujuh Bulan Pascabanjir, Jembatan Kutablang di Bireuen Belum Pulih, Warga Bergantung Jembatan Apung
service

Bireuen, NU Online

Sudah lebih dari tujuh bulan sejak banjir bandang menerjang Kabupaten Bireuen pada akhir 2025, namun Jembatan Kutablang yang menjadi urat nadi Jalan Nasional Medan–Banda Aceh hingga kini belum berfungsi normal. Kondisi tersebut kembali memicu lumpuhnya arus transportasi setelah jembatan ditutup untuk pekerjaan perbaikan pada Ahad (28/6/2026).

Penutupan jembatan menyebabkan ribuan kendaraan dari dua arah terjebak kemacetan panjang. Antrean kendaraan mengular hingga sekitar empat kilometer dari arah Medan menuju Banda Aceh, sementara dari arah sebaliknya antrean mencapai sekitar dua kilometer. Truk logistik, bus antarkota, hingga kendaraan pribadi harus menunggu berjam-jam karena tidak dapat melintasi jembatan utama.

Di tengah kondisi tersebut, masyarakat memanfaatkan Jembatan Kepala Hiu, sebuah jembatan apung yang dibangun secara swadaya oleh warga di kawasan Peusangan Selatan. Jembatan yang tersusun dari puluhan perahu dan papan kayu itu kini menjadi satu-satunya alternatif bagi kendaraan ringan untuk menyeberangi sungai.

Ketua PW GP Ansor Aceh, Azwar A. Gani, menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa dampak banjir bandang belum sepenuhnya berakhir bagi masyarakat Bireuen.

“Sudah lebih tujuh bulan masyarakat hidup dengan keterbatasan akibat rusaknya Jembatan Kutablang. Kini warga kembali harus bergantung pada jembatan apung. Ini bukan sekadar persoalan kemacetan, tetapi juga menyangkut kelancaran ekonomi, distribusi logistik, dan aktivitas masyarakat,” ujarnya.

Menurut Azwar yang juga merupakan warga Kabupaten Bireuen, Jalan Nasional Medan–Banda Aceh merupakan jalur strategis yang menghubungkan Aceh dengan Sumatera Utara. Ketika akses tersebut terganggu, dampaknya dirasakan hampir seluruh sektor, mulai dari perdagangan, transportasi, hingga pelayanan publik.

Ia mengapresiasi inisiatif masyarakat yang membangun jembatan apung secara swadaya sebagai solusi sementara. Namun, menurutnya, kondisi tersebut tidak dapat dijadikan solusi jangka panjang karena hanya mampu dilalui sepeda motor dan mobil pribadi secara bergantian, sedangkan kendaraan bertonase besar tidak dapat melintas.

“Semangat gotong royong masyarakat patut diapresiasi. Kehadiran jembatan apung sangat membantu warga. Namun pemerintah juga perlu mempercepat penanganan permanen agar mobilitas masyarakat kembali normal,” katanya.

Azwar berharap pemerintah pusat bersama pemerintah daerah memberikan perhatian serius terhadap percepatan rehabilitasi Jembatan Kutablang. Menurutnya, keterlambatan penyelesaian infrastruktur strategis berpotensi menghambat pemulihan ekonomi masyarakat yang masih berupaya bangkit pascabanjir bandang.

Ia juga mengingatkan bahwa Aceh membutuhkan infrastruktur yang tangguh terhadap bencana mengingat tingginya risiko banjir di sejumlah wilayah.

“Musibah memang tidak bisa dihindari, tetapi proses pemulihan harus berjalan cepat. Infrastruktur yang kuat akan menjadi penopang kehidupan masyarakat sekaligus menjaga kelancaran distribusi kebutuhan pokok dan aktivitas ekonomi,” ujarnya.

Hingga kini, masyarakat masih berharap Jembatan Kutablang segera kembali berfungsi normal sehingga ketergantungan terhadap jembatan apung dapat segera berakhir. Bagi warga Bireuen, pulihnya jembatan tersebut bukan hanya soal terbukanya akses jalan, tetapi juga menjadi simbol bangkitnya kehidupan setelah musibah banjir bandang yang melanda lebih dari tujuh bulan lalu.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.