Apa makna kehadiran ular dengan relung ekologi sempit terhadap kesehatan ekosistem hutan pegunungan? Ular siput jerapah, spesies pemakan siput dengan habitat terbatas, merefleksikan kondisi lingkungan yang lembap dan relatif utuh. Keberadaannya menandakan baiknya kondisi mikrohabitat di lantai hutan -mulai serasah tebal hingga mangsa bercangkang- yang hanya bisa dipertahankan pada hutan pegunungan dengan tingkat gangguan rendah. Indikasi ekologis ini terkonfirmasi melalui pendokumentasian lapangan yang dilakukan Leonardus Adi Saktyari (29), peneliti keanekaragaman hayati dari Mandala Katalika (Manka), di lereng selatan Gunung Slamet, Jawa Tengah. “Spesies ini sangat bergantung pada mikrohabitat hutan. Jika kondisi lantai hutan terganggu, keberadaanya terancam,” katanya, Senin (5/1/2026). Dalam observasi malam hari pascahujan deras, Leonardus menemukan jenis ini di pinggiran jalur hutan rimbun. Perjumpaan singkat ini jadi catatan penting, mengingat keberadaannya jarang teramati dan minim terdokumentasi di Pulau Jawa yang padat penduduk. Kondisi hutan saat itu dingin, dengan tanah basah akibat hujan deras yang turun sebelumnya. Sekitar pukul delapan hingga sembilan malam, di tengah jalur observasi, dia melihat sesuatu yang nyaris mencolok. Di antara serasah daun dan ranting, tampak sosok mirip kayu kering. Saat diamati lebih dekat, ternyata seekor ular kecil dengan pola tubuh samar. “Secara morfologi mirip kayu kering. Jika tak teliti, akan terlewat.” Ular siput jerapah yang jago kamuflase di lantai hutan. Foto: Dok. Leonardus Adi Saktyari Tidak agresif Ular ini tidak agresif. Diam, seolah menyatu dengan lingkungan. Strategi kamuflase tersebut merupakan adaptasi penting bagi spesies yang hidup di lantai hutan dan aktif malam hari. Selama awal terjun di dunia tele-fotografi satwa dan observasi herpetologi, Leonardus kerap…This article was originally published on Mongabay
Ular Siput Jerapah, Jago Kamuflase di Hutan Pegunungan Jawa
Ular Siput Jerapah, Jago Kamuflase di Hutan Pegunungan Jawa





Comments are closed.