Sun,9 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. #Aswaja
  3. Walhi: Hak Dasar Penyintas Banjir Sumatra Masih Tertinggal

Walhi: Hak Dasar Penyintas Banjir Sumatra Masih Tertinggal

walhi:-hak-dasar-penyintas-banjir-sumatra-masih-tertinggal
Walhi: Hak Dasar Penyintas Banjir Sumatra Masih Tertinggal
service

Jakarta, NU Online

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menilai bahwa pemenuhan hak dasar warga terdampak masih jauh dari memadai setelah 47 hari banjir dan longsor di Sumatra berlalu.

Manager Penanganan dan Pencegahan Bencana Eksekutif Nasional Walhi Melva Harahap menegaskan bahwa hingga lebih dari satu bulan bencana berlalu, negara belum menunjukkan keseriusan dalam menjamin hak hidup masyarakat.

Menurutnya, kondisi warga masih menghadapi keterbatasan akses layanan dasar, terutama kesehatan dan air bersih.

“Yang pertama, hak dasar dan hak hidup itu rasanya masih jauh dari kata baik. Sampai hari ini, logistik, iya banyak. Tapi, kesehatan, kebutuhan air, itu belum tercukupi di lapangan,” ujarnya dalam Webinar 47 Hari Pascabencana pada Selasa (13/1/2026).

Walhi juga menuntut pertanggungjawaban negara atas lemahnya upaya mitigasi dan adaptasi bencana. Menurut Melva, warga telah berulang kali meminta penguatan kapasitas mitigasi, tetapi tidak pernah dipenuhi secara memadai.

“Penting rasanya meminta pertanggung jawaban negara. Jadi belajar dengan bencana yang pernah ada. Warga sudah pernah meminta untuk bisa melakukan mitigasi dan adaptasi, tapi kemudian tidak diberikan kapasitasnya itu,” ujarnya.

Kondisi tersebut membuat risiko bencana semakin besar dan kembali harus ditanggung oleh masyarakat.

“Sehingga akhirnya rentetan-rentetan bencana hari ini yang dituai oleh warga kita. Dan lagi-lagi ketika ada bencana, warga yang terdampak paling besar,” tambah Melva.

Dia menyayangkan penggunaan alat berat bukan difokuskan untuk membersihkan dan memulihkan rumah warga agar mereka dapat segera kembali ke tempat tinggalnya.

“Alat-alat berat itu harusnya didulukan rumah-rumah warga, sehingga mereka bisa tinggal kembali ke rumah-rumah warga. Tapi kemudian yang terjadi saat di lapangan, justru membersihkan gelondongan-gelondongan kayu itu,” katanya.

Situasi tersebut menimbulkan kekecewaan di tengah masyarakat yang masih diliputi kekhawatiran akan banjir susulan.

Selain itu, tumpukan lumpur dan sampah yang tersisa berpotensi memicu masalah kesehatan baru, terutama gangguan pernapasan saat musim panas.

“Di tengah-tengah kekhawatiran rakyat akan bencana yang banjir susulan, belum lagi kemudian ada bencana-bencana baru, tumpukan lumpur itu kalau di jalan dan musim panas, dia akan sangat mengganggu pernapasan, begitu juga tumpukan-tumpukan sampah yang ditemukan,” jelas Melva.

Walhi menegaskan bahwa bencana di Sumatra tidak boleh dipandang semata sebagai peristiwa alam. Menurut Melva, tragedi ini merupakan refleksi dari kegagalan pengelolaan lingkungan hidup dan tata kelola negara yang abai terhadap keselamatan warga.

“Jadi, penting rasanya melihat bencana ini bukan sekadar bencana, tapi ini sebagai satu keseriusan yang harus kita refleksikan dan harus kita belajar,” ujarnya.

Kondisi warga terdampak juga menjadi sorotan Walhi. Satryo Dwi Cahyo, Disaster Region Sumatra-Lampung, menyatakan bahwa situasi di Aceh Tamiang hingga kini masih memprihatinkan karena kebutuhan dasar masyarakat belum terpenuhi secara layak.

“Gambaran saat ini yang terjadi di wilayah Aceh Tamiang itu menurut aku belum baik-baik saja. Kenapa gitu? Karena beberapa kebutuhan dasar dan kebutuhan hidup mereka itu belum terpenuhi. Contohnya seperti kebutuhan air yang saat ini masih banyak masyarakat itu yang kekurangan air bersih gitu,” ujarnya.

Satryo mengungkapkan, sebagian warga terpaksa menggunakan air bercampur lumpur untuk memasak, meski telah diendapkan, karena keterbatasan akses air bersih.

“Sehingga mereka untuk memasak saja itu kadang menggunakan air yang tercampur dengan lumpur. Walaupun air itu sudah diendapkan, cuman baunya sangat tidak mengenakan,” katanya.

============

Para dermawan bisa donasi lewat NU Online Super App dengan mengklik banner “Darurat Bencana” yang ada di halaman Beranda atau via web filantropi di tautan berikut: https://filantropi.nu.or.id/solidaritasnu

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.