Jakarta, Arina.id—Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menemukan, sebaran titik api (hotspot) di Papua Selatan ada di lahan yang dialokasikan pemerintah untuk proyek pangan nasional food estate.
Koordinator Pengkampanye WALHI Nasional, Uli Arta Siagian menjelaskan, temuan itu didapat dari hasil overlay data titik api periode 1–9 Juli 2026 dengan peta konsesi dan kawasan Program Strategis Nasional (PSN).
Overlay data hotspot adalah proses menggabungkan data titik panas dengan peta lain dalam Sistem Informasi Geografis (SIG).
Hasil dari proses itu, lanjut Uli, ada 399 titik api berada di dalam area yang telah diberikan izin maupun dialokasikan untuk proyek pangan nasional.
Sebanyak 245 titik api berada di kawasan food estate, 115 titik api berada di konsesi Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH), dan 39 titik api berada di konsesi perkebunan kelapa sawit.
“Temuan ini menunjukkan hampir sepertiga dari seluruh 1.292 titik api di Papua Selatan muncul di kawasan izin usaha maupun pengembangan proyek strategis nasional (PSN),” ungkap Uli dalam keterangannya diterima Arina.id, Jumat (17/7).
Menurut Uli, dengan konsentrasi titik api di kawasan food estate menunjukkan bahwa ada tekanan ekologis sejak awal pengembangan kawasan untuk produksi pangan nasional ini.
Potensi kebakaran tidak dapat dipandang sebagai peristiwa alam semata, tapi, harus dibaca sebagai bagian dari perubahan bentang alam yang berlangsung secara massif, sebut Uli.
“Perubahan tutupan hutan, pembukaan lahan, pembangunan jaringan jalan, hingga pengeringan kawasan rawa dan lahan basah akan meningkatkan kerentanan suatu bentang alam terhadap kebakaran,” jelasnya.
Papua Selatan, lanjut Uli, selama ini dikenal sebagai wilayah yang didominasi hutan dataran rendah, rawa, gambut dan ekosistem basah yang secara alami memiliki kemampuan menjaga kelembapan lanskap.
“Ketika bentang alam tersebut dikonversi menjadi kawasan produksi berskala besar, karakter ekologisnya ikut berubah sehingga lebih rentan mengalami kebakaran pada musim kering,” ungkap Uli.
Analisis WALHI juga memperlihatkan bahwa sebaran titik api tidak hanya berada pada kawasan yang telah dibuka, tetapi juga berada di sekitar konsesi-konsesi aktif.
“Pola ini mengindikasikan bahwa ekspansi berbagai izin pemanfaatan lahan telah meningkatkan tekanan terhadap bentang alam Papua Selatan,” tandas Uli.




Comments are closed.