Tue,21 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Warga Nahdliyin Mesti Terus Menghidupkan Tradisi Penulisan Kitab

Warga Nahdliyin Mesti Terus Menghidupkan Tradisi Penulisan Kitab

warga-nahdliyin-mesti-terus-menghidupkan-tradisi-penulisan-kitab
Warga Nahdliyin Mesti Terus Menghidupkan Tradisi Penulisan Kitab
service

Di era digital, persoalan kita bukan lagi kekurangan informasi. Hampir setiap pertanyaan dapat dijawab dalam hitungan detik melalui mesin pencari, media sosial, atau aplikasi berbasis kecerdasan buatan. Masalahnya, kelimpahan informasi tidak selalu melahirkan keluasan pengetahuan. Informasi yang datang bertubi-tubi justru sering membuat orang sulit membedakan antara penjelasan yang dapat dipertanggungjawabkan dan pernyataan yang sekadar viral.

Di ruang digital, semua orang dapat berbicara, tetapi tidak semua pembicaraan lahir dari proses belajar yang memadai. Potongan ceramah, kutipan singkat, dan pendapat keagamaan beredar tanpa konteks, tanpa metodologi, bahkan tanpa kejelasan sumber. Dalam keadaan seperti ini, warga Nahdliyin sebenarnya mempunyai benteng intelektual yang sangat kuat, yaitu tradisi membaca, mengaji, mengulas, dan menulis kitab.

Tradisi tersebut tidak hanya berkaitan dengan keterampilan menyusun kata. Menulis kitab merupakan cara para ulama mempertanggungjawabkan pengetahuan. Sebuah pendapat tidak cukup hanya diucapkan, tetapi perlu dijelaskan landasannya, diperlihatkan sumbernya, dibandingkan dengan pandangan lain, lalu disusun secara tertib agar dapat dibaca, diuji, dan diwariskan. 

Karena itu, menjaga tradisi penulisan kitab bukanlah romantisme terhadap masa lalu, melainkan kebutuhan mendesak untuk menghadapi kekacauan informasi pada masa sekarang.

Menulis Kitab sebagai Cara Merawat Ilmu

Dalam Islam, ilmu bukanlah kumpulan informasi yang diletakkan secara acak. Ilmu mempunyai struktur, istilah, metode, sumber, serta adab yang mengaturnya. Seseorang tidak dapat mengambil kesimpulan keagamaan hanya karena menemukan satu potong dalil di internet. Ia perlu memahami hubungan antara satu dalil dengan dalil lainnya, mengetahui konteksnya, membaca penjelasan para ulama, dan menempatkan persoalan dalam disiplin ilmu yang tepat.

Lebih lanjut, kitab mempunyai kedudukan penting. Kitab membuat sebuah pemikiran yang dapat diikuti alurnya. Pembaca dapat mengetahui dari mana sebuah pendapat berasal, bagaimana argumentasinya dibangun, serta apa batas-batas penerapannya. Melalui kitab, ilmu tidak hanya disampaikan, tetapi juga ditata dan dipertanggungjawabkan.

Para ulama Nusantara memahami kebutuhan tersebut. Mereka menulis dalam bahasa Arab, Melayu, Jawa, Sunda, Madura, dan berbagai bahasa daerah lainnya. Sebagian karya ditulis menggunakan aksara Arab Pegon agar ajaran Islam dapat dipahami oleh masyarakat tanpa kehilangan kedekatannya dengan tradisi keilmuan pesantren.

Aksara Pegon bukan sekadar bentuk tulisan lama yang layak dipajang di museum. Pegon merupakan bukti kemampuan ulama Nusantara mempertemukan khazanah keislaman dengan bahasa dan kebudayaan masyarakat setempat. Melalui Pegon, konsep-konsep keagamaan yang rumit dapat diterangkan dengan bahasa yang akrab, tanpa harus memutus hubungannya dengan sumber-sumber klasik.

Nasihat yang dinisbatkan kepada Imam Syafi’i menggambarkan pentingnya tulisan dalam menjaga ilmu:

العلم صيد والكتابة قيده …. قيد صيودك بالحبال الواثقة

فمن الحماقة أن تصيد غزالة …. وتتركها بين الخلائق طالقة

Artinya: “Ilmu adalah buruan, sedangkan tulisan adalah pengikatnya. Maka ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat! Adalah sebuah kebodohan jika engkau berburu kijang. Lalu kau biarkan dia lepas pergi dengan hewan lainnya.

Perumpamaan tersebut sederhana, tetapi maknanya dalam. Pengetahuan yang hanya tersimpan dalam ingatan mudah berubah, berkurang, bahkan hilang. Sebaliknya, ilmu yang dituliskan dapat dibaca kembali, diperiksa, didiskusikan, dan dikembangkan oleh generasi berikutnya. Tulisan mengubah pengalaman belajar yang bersifat pribadi menjadi warisan yang dapat dimiliki bersama.

Bagi kalangan Nahdliyin, menulis kitab juga menjadi sarana untuk mengkristalkan pemahaman keagamaan. Pengetahuan yang diperoleh melalui pengajian, halaqah, musyawarah, bahtsul masail, bandongan, sorogan, atau pengajian posonan tidak berhenti sebagai pengetahuan lisan. Ia diolah kembali menjadi karya yang dapat dipelajari secara lebih tertib dan berulang.

Kitab yang ditulis dengan teliti membuat ilmu agama tidak mudah dipelintir oleh narasi instan. Ia membantu pembaca memahami bahwa persoalan keagamaan tidak selalu dapat dijawab dengan satu kalimat. Ada persoalan yang membutuhkan penjelasan panjang, perbandingan pendapat, pemahaman konteks, serta kehati-hatian dalam mengambil kesimpulan.

Imam Abdurrahman bin Kaisan pernah menjelaskan keunggulan tulisan dibandingkan ucapan:

وقال عبد الرحمن بن كيسان: استعمال القلم أجدر، وأن يحضّ الذهن على تصحيح الكتاب من استعمال اللسان على تصحيح الكلام. واللسان مقصور على القريب الحاضر، والقلم مطلق في الشاهد والغائب. وهو في الغابر الكائن مثله للقائم الراهن. والكتاب يقرأ بكل لسان، ويدرس في كل زمان؛ واللسان لا يعدو سامعه ولا يتجاوز مواضعه.

Artinya: “Menggunakan pena (tulisan) itu jauh lebih utama dan lebih memacu ketajaman berpikir untuk mengoreksi apa yang ditulis, daripada sekadar menggunakan lisan (ucapan) untuk mengoreksi apa yang diucapkan.

Lisan itu memiliki keterbatasan (terpenjara); ia hanya mampu menjangkau orang yang berada dalam jarak dekat dan hadir secara fisik. Sementara pena itu sifatnya mutlak (bebas tanpa batas); ia mampu menembus dimensi ruang bagi mereka yang menyaksikannya (hadir) maupun yang gaib (tidak ada di tempat).

Bahkan, kemampuan pena untuk menjangkau manusia di masa lampau adalah sama persis dengan kemampuannya menjangkau manusia yang hidup di masa sekarang. Sebuah tulisan dapat dibaca dengan menggunakan segala jenis bahasa (lisan), serta dapat dipelajari di sepanjang masa.

Sebaliknya, ucapan lisan tidak akan pernah mampu melampaui telinga orang yang mendengarnya, dan tidak akan bisa melewati batas tempat di mana ia diucapkan.” (Syihabuddin Al-’Umari, Masalikul Abshar fi Mamalikil Amshar, [Abu Dhabi, Al-Majma’ Ats-Tsaqafi: 1426], jilid VII, hal. 367)

Pernyataan tersebut terasa semakin relevan pada masa sekarang. Ucapan dapat menyebar luas melalui video dan media sosial, tetapi tulisan tetap mempunyai kelebihan penting: ia memaksa penulis berpikir lebih tertib. Ketika menulis, seseorang harus memilih istilah dengan hati-hati, memastikan hubungan antarargumen, memeriksa sumber, dan mempertimbangkan kemungkinan keberatan pembaca. Menulis bukan hanya memindahkan pikiran ke atas kertas, tetapi juga melatih pikiran agar lebih jernih.

Melanjutkan Warisan Intelektual Para Ulama

Nahdlatul Ulama tidak tumbuh hanya karena kekuatan organisasi dan banyaknya jamaah. Kebesaran NU juga ditopang oleh tradisi intelektual yang hidup di pesantren. Para pendiri dan ulama NU bukan hanya berdakwah melalui mimbar, tetapi juga meninggalkan karya yang menjadi pegangan umat.

Hadratusyaikh KH Hasyim Asy’ari, misalnya, tidak hanya piawai mengonsolidasikan umat melalui organisasi. Beliau juga membangun fondasi intelektual melalui berbagai karya, antara lain Adabul ‘Alim wal Muta’allim dan Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah. Karya-karya tersebut memperlihatkan bahwa perjuangan sosial dan organisasi harus disertai dengan bangunan pemikiran yang kokoh.

Demikian pula Syekh Nawawi al-Bantani. Karya-karyanya tidak hanya dibaca di Indonesia, tetapi juga menjadi rujukan di berbagai wilayah dunia Islam. Beliau menunjukkan bahwa ulama Nusantara bukan sekadar penerima ilmu dari pusat-pusat keislaman di Timur Tengah. Mereka juga menjadi penafsir, pengembang, dan produsen pengetahuan yang karya-karyanya dibaca lintas negara dan lintas generasi.

Warisan semacam ini seharusnya melahirkan kesadaran bahwa menjadi santri tidak cukup hanya dengan mampu membaca kitab. Santri juga perlu didorong untuk mengulas, menjelaskan, menerjemahkan, memberi catatan, dan pada tahap tertentu menulis karya sendiri. Membaca kitab menjaga hubungan dengan warisan masa lalu, sedangkan menulis kitab membuka jalan bagi percakapan dengan masa depan.

Ketika seorang santri atau intelektual NU menulis, ia tidak sedang berbicara hanya kepada orang-orang yang hidup sezaman dengannya. Ia juga sedang menyampaikan pesan kepada pembaca yang mungkin baru lahir puluhan tahun kemudian. Karena itu, tulisan adalah salah satu bentuk paling nyata dari keberlanjutan sanad keilmuan.

Sanad tidak hanya berarti rangkaian nama guru yang bersambung. Sanad juga mengandung kesinambungan metode, kedisiplinan ilmiah, adab, dan tanggung jawab dalam menyampaikan pengetahuan. Menulis dengan menyebutkan sumber, memperhatikan pendapat para ulama, dan menghindari klaim yang tergesa-gesa merupakan bagian dari upaya menjaga kesinambungan tersebut.

Semangat ini tampak pula dalam berbagai usaha menghidupkan kembali penulisan kitab di lingkungan pesantren dan NU. Salah satunya terlihat dalam peluncuran kitab Ithafu Ummati al-Muqtafa yang dimaksudkan untuk menghidupkan kembali semangat keilmuan pesantren.

Tradisi menulis juga penting untuk menjaga corak keberagamaan Nahdliyin yang moderat. Nilai tawassuth, tawazun, tasamuh, dan i’tidal tidak cukup hanya disebut sebagai slogan. Nilai-nilai tersebut perlu dijelaskan landasan teologisnya, ditunjukkan penerapannya, dan ditawarkan sebagai jawaban atas persoalan nyata masyarakat.

Tanpa karya tulis yang memadai, gagasan moderasi mudah berubah menjadi ungkapan umum yang kehilangan kedalaman. Sebaliknya, ketika nilai-nilai itu dijelaskan melalui karya yang serius, masyarakat dapat memahami bahwa sikap moderat bukanlah sikap tanpa pendirian. Moderasi justru lahir dari keluasan ilmu, keteguhan prinsip, dan kemampuan menempatkan sesuatu secara proporsional.

Menghadirkan Pemikiran Islam yang Kontekstual

Menjaga tradisi kitab bukan berarti hanya mengulang persoalan lama dengan bahasa lama. Kitab-kitab klasik memang menjadi fondasi, tetapi kehidupan manusia terus berubah. Perubahan tersebut melahirkan persoalan baru yang membutuhkan penjelasan dan ijtihad intelektual yang serius.

Saat ini, umat berhadapan dengan perkembangan kecerdasan buatan, perubahan pola komunikasi, krisis lingkungan, ekonomi digital, ketimpangan sosial, politik identitas, perubahan struktur keluarga, hingga persoalan etika di ruang virtual. Semua itu membutuhkan jawaban keagamaan yang tidak hanya normatif, tetapi juga memahami kenyataan.

Fiqih, tauhid, akhlak, dan tasawuf tidak boleh diperlakukan sebagai pengetahuan yang terpisah dari kehidupan. Di sinilah generasi muda Nahdliyin mempunyai tanggung jawab besar. Mereka perlu menguasai turats, tetapi juga memahami dunia yang sedang berubah.

Penguasaan salah satunya saja tidak cukup. Membaca kitab tanpa memahami kenyataan dapat menghasilkan jawaban yang jauh dari masalah. Sebaliknya, memahami kenyataan tanpa fondasi keilmuan yang kuat dapat melahirkan pendapat yang mudah berubah mengikuti arus.

Tradisi menulis kitab pada masa sekarang harus dipahami secara luas. Kitab tidak selalu harus berupa karya berjilid-jilid dengan bahasa Arab yang rumit. Ia dapat hadir dalam bentuk syarah, hasyiyah, terjemahan, hasil bahtsul masail, monograf, artikel ilmiah, esai panjang, maupun karya digital yang disusun dengan metode dan tanggung jawab keilmuan yang jelas.

Hal terpenting bukan hanya bentuknya, melainkan kualitas prosesnya. Sebuah karya harus berangkat dari persoalan yang nyata, menggunakan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan, menyajikan argumentasi secara jernih, serta memberi manfaat bagi pembacanya.

Nahdliyin juga tidak seharusnya terus-menerus menjadi konsumen pemikiran yang datang dari luar. Pemikiran dari Timur Tengah maupun Barat tentu penting untuk dibaca. Namun, masyarakat Indonesia mempunyai pengalaman sejarah, kebudayaan, dan persoalan sendiri yang tidak selalu dapat dijelaskan sepenuhnya oleh kerangka yang lahir di tempat lain.

Karena itu, dibutuhkan karya-karya yang berakar pada khazanah Islam sekaligus peka terhadap kenyataan Nusantara. Pengalaman pesantren, praktik keagamaan masyarakat, tradisi musyawarah, relasi antaragama, budaya lokal, dan dinamika kebangsaan merupakan sumber pengetahuan yang sangat kaya. Semua itu perlu ditulis agar tidak hanya menjadi pengalaman yang berlalu, tetapi juga dapat menjadi bahan pembelajaran bagi dunia Islam yang lebih luas.

Ruang digital sebenarnya membuka peluang besar bagi tradisi keilmuan. Kitab dapat didigitalisasi, manuskrip dapat diakses lebih luas, pengajian dapat diikuti lintas daerah, dan hasil penelitian dapat disebarkan dengan cepat. Namun, teknologi hanya menjadi sarana. Ia tidak otomatis melahirkan kedalaman.

Justru karena semua orang dapat menerbitkan sesuatu dengan mudah, warga Nahdliyin perlu menunjukkan perbedaan antara konten dan ilmu. Konten mengejar perhatian, sedangkan ilmu mencari kebenaran dan kemaslahatan. Konten dapat dibuat dalam beberapa menit, sedangkan ilmu membutuhkan proses belajar, ketelitian, dan kesediaan untuk dikoreksi.

Tradisi menulis kitab mengajarkan kesabaran semacam itu. Seorang penulis tidak hanya bertanya apakah tulisannya akan viral, tetapi juga apakah tulisannya benar, bermanfaat, dan dapat dipertanggungjawabkan. Ia tidak hanya memikirkan jumlah pembaca, tetapi juga kualitas pemahaman yang lahir setelah orang membacanya. Wallahu a’lam.

Muhammad Ryan Romadhon, Alumni Ma’had Aly Al-Iman Bulus, Purworejo, Jawa Tengah.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.