Tue,4 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Politics
  3. Warisan Soeharto yang Dirindukan Gen Z?

Warisan Soeharto yang Dirindukan Gen Z?

warisan-soeharto-yang-dirindukan-gen-z?
Warisan Soeharto yang Dirindukan Gen Z?
service

Dengarkan artikel ini

Audio ini dibuat menggunakan AI.

Gen Z ramai merindukan estetika dan arsitektur bandara era Orde Baru di linimasa X. Mengapa justru desain lama yang kini dianggap paling berjiwa?


PinterPolitik.com

“Critical regionalism is an approach to architecture that strives to counter the placelessness and lack of identity of the International Style.” 

– Kenneth Frampton, “Towards a Critical Regionalism: Six Points for an Architecture of Resistance” (1983)

Cupin tidak menyangka linimasa X pada suatu pagi berubah menjadi ruang kuliah sejarah arsitektur. Semua bermula dari sebuah plafon yang runtuh di dekat gate Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta setelah hujan deras pada April 2026.

Dari satu insiden itu, percakapan melebar ke mana-mana dengan cepat. Orang membandingkan Terminal 1 dan Terminal 2 yang teduh dengan Terminal 3 yang dituding “kehilangan roh”.

Yang membuat Cupin mengernyit adalah pesertanya. Banyak dari mereka justru anak-anak muda Gen Z, generasi yang bahkan belum lahir ketika terminal-terminal lawas itu dirancang.

Mereka merindukan taman tropis di antara ruang tunggu dan tiang berukir khas Jawa. Padahal, sebagian besar dari mereka mungkin belum pernah benar-benar duduk lama menikmatinya.

Kerinduan itu kemudian merembet lebih jauh ke belakang. Dari bandara, obrolan bergeser ke gedung-gedung era Orde Baru, lalu ke monumen era Sukarno, hingga ke stasiun dan pabrik gula peninggalan kolonial.

Cupin menyadari bahwa fenomena ini bukan sekadar nostalgia estetika biasa. Ada sesuatu yang lebih dalam ketika sebuah generasi merindukan masa yang tidak pernah mereka alami sendiri.

Menariknya, sebagian besar bangunan yang paling dirindukan hari ini justru lahir dari era Orde Baru. Terminal 1 dan Terminal 2 Soekarno-Hatta adalah contoh yang paling sering diangkat warganet.

Instruksi Presiden Soeharto saat itu bahkan menetapkan bahwa kedua terminal harus memuat komponen yang sama, yakni joglo dan rumah panjang. Arahan itu, apa pun konteks politiknya, menghasilkan salah satu bandara paling berkarakter di dunia.

Cupin menduga ada tiga arus yang bertemu di titik yang sama. Pemicu materialnya adalah insiden plafon, sedangkan arus keduanya adalah nostalgia yang justru diperkuat oleh algoritma media sosial.

Namun, arus ketiga terasa paling mendasar bagi Cupin. Arus itu adalah kegelisahan tentang identitas justru pada saat Indonesia sedang naik kelas dan makin percaya diri di panggung global.

Lantas, mengapa kerinduan itu jatuh pada warisan Orde Baru dan bukan era lain? Dan mengapa justru Gen Z, generasi paling digital, yang paling lantang menyuarakannya?

Roh Ruang dan Warisan Tiap Era

Cupin belajar bahwa kata “kehilangan roh” sebenarnya punya nama yang cukup akademis. Antropolog Prancis Marc Augé, dalam bukunya Non-Lieux, memperkenalkan gagasan non-place atau non-tempat.

Augé menyebut lingkungan seperti bandara dan pusat perbelanjaan sebagai ruang yang miskin makna relasional dan historis. Non-tempat adalah ruang transit yang bisa berada di mana saja, seragam, efisien, dan lupa di mana ia berpijak.

Cupin merasa istilah itu menjelaskan keresahan warganet dengan tepat. Ketika sebuah bandara dianggap tanpa jiwa, yang dirasakan orang adalah kondisi non-tempat yang bisa saja berada di Dubai, Doha, atau Denpasar tanpa ada bedanya.

Untunglah, ada pemikir lain yang menawarkan jalan keluar. Sejarawan arsitektur Kenneth Frampton, lewat esainya “Towards a Critical Regionalism”, merumuskan gagasan regionalisme kritis.

Frampton menjelaskan bahwa pendekatan itu melawan ketiadaan-tempat dan hilangnya identitas dalam Gaya Internasional. Prinsipnya sering diringkas menjadi think globally, design locally.

Menurut Frampton, regionalisme kritis bukan sekadar meniru arsitektur vernakular masa lalu. Ia justru menjembatani bahasa global dan lokal lewat perhatian pada tapak, iklim, serta bahan setempat.

Gagasan tentang “tempat” ini juga berakar pada filsuf Prancis Paul Ricoeur. Ricoeur mempertanyakan bagaimana sebuah bangsa bisa menjadi modern tanpa kehilangan akar kulturalnya.

Cupin lalu teringat pada satu ironi yang menggelitik. Bandara yang paling dirindukan itu justru dirancang oleh arsitek asing, yaitu Paul Andreu dari Prancis, yang juga merancang Bandara Charles de Gaulle.

Andreu justru meneliti tradisi bangunan lokal dan memadukan bangunan, alam, serta iklim tropis Indonesia. Karyanya bahkan memenangi Aga Khan Award for Architecture pada 1995.

Bagi Cupin, keindonesiaan sebuah ruang ternyata tidak ditentukan oleh paspor perancangnya. Ia ditentukan oleh seberapa dalam bangunan itu mau mendengarkan tempat ia berdiri.

Cupin juga menemukan bahwa Indonesia tidak sendirian menghadapi dilema ini. Malaysia, misalnya, membangun KLIA dengan filosofi airport in the forest, forest in the airport karya Kisho Kurokawa yang menaruh hutan tropis di jantung terminal.

Di Spanyol, Museum Guggenheim mengubah kota industri Bilbao yang meredup menjadi tujuan global. Fenomena yang dikenal sebagai “efek Bilbao” itu membuktikan satu bangunan berkarakter kuat bisa menjadi mesin ekonomi.

Jepang menawarkan pelajaran yang berbeda lagi. Lewat arsitek seperti Tadao Ando dan Kengo Kuma, Jepang membuktikan bahwa modernitas dan tradisi bukanlah pilihan yang saling meniadakan.

Maka, muncul pertanyaan baru di benak Cupin. Jika roh ruang bisa dirancang secara sadar, mengapa tiap era di Indonesia mengucapkannya dengan bahasa yang berbeda?

Dan mengapa, dari sekian banyak bahasa arsitektur itu, justru gaya era Orde Baru yang kini paling menggetarkan hati Gen Z? Cupin merasa jawabannya ada pada cara membaca sejarah sebagai rangkaian pesan.

Bahasa Arsitektur Era Soeharto?

Cupin membaca arsitektur Indonesia sebagai bahasa politik yang berganti dari masa ke masa. Setiap era, menurutnya, mengucapkan kalimat yang berbeda tentang siapa bangsa ini sebenarnya.

Era kolonial berbicara dalam bahasa kekuasaan dan ketertiban. Gubernur Jenderal Daendels sempat mempopulerkan gaya neoklasik kekaisaran, tetapi iklim tropis perlahan memaksa lahirnya Indische architectuur dengan langit-langit tinggi dan ventilasi silang.

Era Orde Lama kemudian berbicara dalam bahasa mimpi. Lewat Politik Mercusuar, Sukarno ingin menjadikan Indonesia sebagai suar bagi negara-negara yang baru merdeka, yang terwujud dalam Monas, Gelora Bung Karno, dan Masjid Istiqlal karya Friedrich Silaban.

Era Orde Baru menukar retorika revolusi dengan retorika pembangunan. Estetikanya bergerak ke arah “Indonesia mini”, dengan joglo, ukiran, dan simbol kedaerahan yang dikurasi menjadi identitas nasional yang tertib.

Era Reformasi lalu berbicara dalam bahasa yang lebih terbata. Kuasa terdesentralisasi dan begitu pula selera, sehingga tidak ada lagi satu bahasa arsitektur nasional yang tunggal, melainkan pasar, efisiensi, dan kiblat global.

Cupin memahami bahwa keresahan lahir dari babak terakhir ini. Ketika sebuah bangunan dikejar untuk mengejar kapasitas dan modernitas generik, ia berisiko menjadi persis apa yang Augé sebut sebagai non-tempat.

Namun, Cupin menekankan bahwa ini bukan soal era mana yang lebih buruk. Era Reformasi hanya belum menemukan kalimat pemersatunya sendiri, dan itu adalah persoalan yang bisa dipulihkan.

Lalu, mengapa kerinduan itu baru mekar sekarang di kalangan Gen Z? Cupin menduga jawabannya terletak pada psikologi sebuah generasi yang hidup di tengah keseragaman visual global.

Gen Z tumbuh dalam dunia yang penuh estetika serbamirip di seluruh dunia. Justru karena itu, mereka mulai mencari sesuatu yang berakar, khas, dan tidak bisa ditemukan di tempat lain.

Warisan Orde Baru menawarkan kekhasan itu dalam bentuk yang mudah dikenali. Joglo, taman tropis, dan tiang berukir adalah penanda visual yang segera menandakan “ini Indonesia” tanpa perlu banyak penjelasan.

Cupin juga melihat ada elemen jarak historis yang bekerja di sini. Bagi Gen Z, era Orde Baru sudah cukup jauh untuk dinikmati sebagai estetika, tanpa beban pengalaman langsung yang menyertainya.

Fenomena ini sejalan dengan apa yang sering disebut nostalgia atas masa yang tidak pernah dialami. Sebuah generasi bisa merindukan sesuatu bukan karena memiliki kenangan atasnya, melainkan karena kenangan itu menawarkan rasa berakar yang mereka cari hari ini.

Cupin merasa momentum ini justru datang pada waktu yang tepat. Indonesia hari ini memiliki sumber daya, kepercayaan diri, dan panggung global yang belum pernah dimiliki generasi sebelumnya.

Proyek-proyek besar yang sedang berjalan pun menjadi kanvas kosong yang bisa menjawab kerinduan itu. Momentum pembangunan yang kuat memberi kesempatan langka untuk merancang ruang publik yang tidak hanya efisien, tetapi juga bercerita.

Pada akhirnya, Cupin menyimpulkan bahwa kerinduan Gen Z ini bukanlah penolakan terhadap kemajuan, melainkan sebuah undangan untuk memaknainya. Debat di media sosial memang akan mereda, tetapi pertanyaan yang dibangkitkannya jauh lebih tahan lama, dan sebuah bangsa yang berani bertanya “seperti apa wajah kita” pada dasarnya adalah bangsa yang sedang bersiap menjawabnya dengan bijak lewat setiap bangunan yang ia dirikan ke depan. (A43)


0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.