Jakarta –
Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi salah satu momen penting bagi umat Islam. Selain untuk mengenang kelahiran Rasulullah, juga momen memperbanyak amal saleh. Apa saja ayat tentang Maulid Nabi untuk diajarkan pada anak?
Ya, Maulid Nabi sebenarnya dapat menjadi momen yang baik bagi orang tua untuk mengenalkan sosok Rasulullah kepada anak.
Anak juga jadi terbiasa untuk membaca salawat, mendengarkan kisah kelahiran Rasulullah, serta belajar memahami mengapa umat Islam mencintai dan menghormati beliau.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk anak-anak, pembahasan mengenai Maulid Nabi bisa disampaikan dengan bahasa yang sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya, mengaitkan sifat Rasulullah dengan kebiasaan anak di rumah atau di sekolah.
Selain itu, ada pula beberapa ayat Al-Qur’an yang dapat menjadi dasar untuk mengenalkan sosok dan keteladanan Nabi Muhammad SAW kepada anak.
Asal-usul Maulid Nabi Muhammad SAW untuk diceritakan ke anak
Secara bahasa, kata maulid atau milad berkaitan dengan ‘kelahiran’. Dalam konteks umat Islam, Maulid Nabi merupakan momen untuk mengenang kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Hal ini juga bisa menjadi waktu untuk mempelajari kembali kehidupan, perjuangan, dan akhlak Rasulullah.
Peringatan Maulid Nabi di Indonesia menjadi salah satu hari penting umat bagi umat Islam dan di berbagai daerah dapat dirayakan dengan tradisi yang berbeda-beda.
Nabi Muhammad SAW lahir di Makkah dan kemudian diangkat Allah SWT sebagai nabi dan rasul terakhir. Beliau menerima wahyu Al-Quran dan menyampaikan ajaran Islam kepada umat manusia.
Dikutip dari buku Pro dan Kontra Maulid Nabi oleh AM Waskito, perayaan Maulid Nabi telah berlangsung ribuan tahun yang lalu dalam sejarah Islam.
Ada setidaknya tiga teori yang menjadi asal-usul Maulid Nabi yang bisa dipahami anak:
Perayaan Maulid Nabi pertama kali diadakan oleh kalangan Dinasti Ubaid (Fathimi) di Mesir berdasar pada Syiah Ismailiyah. Pada tahun 362-567 Hijriyah, mereka yang berkuasa di Mesir. Awalnya, Maulid Nabi dirayakan pada era kepemimpinan Abu Tamim. Namun, perayaan Maulid Nabi oleh Dinasti Ubaid ini hanya salah satu bentuk perayaan saja.
Perayaan Maulid Nabi oleh kalangan ahlus sunnah pertama kali diadakan oleh Sultan Abu Said Muzhaffar Kukabri. Pada saat perayaan Maulid Nabi, Muzhaffar mengundang para ulama, ahli tasawuf, ahli ilmu, dan seluruh rakyatnya. Beliau menjamu mereka dengan berbagai hidangan. Tak luput, beliau juga memberikan hadiah dan bersedekah kepada fakir miskin.
Perayaan Maulid Nabi pertama kali diadakan oleh Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi (567-622 H), penguasa Dinasti Ayyub. Adapun tujuan beliau melakukan perayaan, yakni untuk meningkatkan semangat jihad kaum muslim dalam menghadapi Perang Salib melawan kaum Salibis.
Adapun Imam Jalaluddin As-Suyuthi, seorang imam ahli hadis dan sejarah, memberikan penjelasan terkait sejarah Maulid Nabi sebagai berikut:
“Orang yang pertama kali merintis peringatan Maulid ini adalah penguasa Irbil, Malik Al-Muzhaffar Abu Sa’id Kukabri bin Zainuddin bin Baktatin, salah seorang raja yang mulia, agung, dan dermawan. Beliau memiliki peninggalan dan jasa-jasa yang baik, dan dialah yang membangun masjid Al-Jami Al Muzhaffari di lereng Gunung Qasiyun.”
Secara umum, diketahui ada beberapa ayat tentang Maulid Nabi yang dapat diajarkan ke anak. Berikut penjelasannya:
1. Surah Al-Anbiya ayat 112
قَالَ رَبِّ احْكُمْ بِالْحَقِّۗ وَرَبُّنَا الرَّحْمٰنُ الْمُسْتَعَانُ عَلٰى مَا تَصِفُوْنَ
Qāla rabbiḥkum bil-ḥaqq, wa rabbunar-raḥmānul-musta’ānu ‘alā mā taṣifụn
Artinya:
“Dia (Muhammad) berkata, “Ya Tuhanku, berilah keputusan dengan adil. Dan Tuhan kami Maha Pengasih, tempat memohon segala pertolongan atas semua yang kamu katakan.”
2. Surah Yunus ayat 58
قُلْ بِفَضْلِ ٱللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِۦ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا۟ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ
Qul bifaḍlillāhi wa biraḥmatihī fa biżālika falyafraḥụ, huwa khairum mimmā yajma’ụn
Artinya:
“Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.
3. Surah Al Hajj ayat 32
ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى ٱلْقُلُوبِ
Zālika wa may yu’aẓẓim sya’ā`irallāhi fa innahā min taqwal-qulụb
Artinya:
“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, sesungguhnya itu timbul dalam ketakwaan hati.”
4. Surah Ali Imran ayat 164
ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ
Laqad mannallāhu ‘alal-mu`minīna iż ba’aṡa fīhim rasụlam min anfusihim yatlụ ‘alaihim āyātihī wa yuzakkīhim wa yu’allimu humul-kitāba wal-ḥikmah, wa ing kānụ ming qablu lafī ḍalālim mubīn
Artinya:
“Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang mukmin ketika Allah mengutus di tengah-tengah mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”
5. Hadis tentang Maulid Nabi
مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا، وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ
Artinya:
“Barang siapa yang memulai dalam Islam sebuah perkara yang baik maka ia akan mendapatkan pahala dari perbuatan baiknya itu, dan ia juga mendapatkan pahala dari orang yang mengikutinya setelahnya. tanpa berkurang sedikitpun pahala yang mereka dapatkan,” HR. Muslim.
Hadis ini menjelaskan tentang keleluasaan bagi ulama yang merupakan umat Nabi Muhammad SAW, agar membuat suatu perkara baru, namun tetap tidak bertentangan dengan Al-Quran, Sunnah, Atsar, dan Ijma.
Perayaan Maulid Nabi termasuk perkara baru yang baik dan tidak bertentangan dengan satu pun hal yang telah disebutkan sebelumnya.
Jadi, perayaan Maulid Nabi diperbolehkan karena dimaksudkan sebagai jalan dalam mendapatkan pahala.
Manfaat mengenalkan makna Maulid Nabi Muhammad SAW kepada anak
Ilustrasi/Foto: Getty Images/iStockphoto/Rizal Mansor
Mengenalkan Maulid Nabi Muhammad SAW kepada anak bisa menjadi kesempatan untuk menanamkan nilai-nilai sederhana melalui cerita dan contoh sehari-hari.
Berikut beberapa manfaat yang dapat diperoleh anak dengan memahami makna Maulid Nabi:
1. Mengenal sosok Nabi Muhammad SAW
Sejak dini, anak perlu mengenal tentang Nabi Muhammad SAW, mengapa beliau menjadi sosok penting dalam Islam, dan mengapa umat Islam mencintai beliau. Dengan begitu, anak memiliki gambaran tentang sosok yang dapat dijadikan teladan.
Bunda dapat memulainya dari cerita sederhana, seperti hari kelahiran Nabi, sifat-sifat baiknya, perjuangan menyampaikan ajaran Islam, hingga kasih sayangnya kepada umat.
2. Belajar tentang akhlak baik
Mengenal tentang kehidupan Nabi Muhammad SAW juga bisa menjadi waktu bagi anak untuk belajar akhlak dan kebiasaan baik.
Hal ini bisa didapat melalui sifat-sifat baik Rasulullah. Misalnya, Rasulullah punya sifat jujur maka anak belajar untuk tidak berbohong.
Lalu Rasulullah juga bersifat penyayang dan sabar, sehingga anak belajar menyayangi teman dan keluarga serta mengendalikan diri ketika kecewa. Dengan demikian, Maulid Nabi pun juga bisa menjadi momen pendidikan karakter di rumah.
3. Mendorong kebiasaan beramal saleh
Manfaat mengenalkan makna Maulid Nabi berikutnya yakni mendorong umat muslim untuk beramal saleh. Rasulullah SAW sendiri memuliakan hari kelahirannya serta bergembira dengan cara berpuasa.
Sebagaimana diriwayatkan Abu Qatadah:
“Rasulullah ditanya tentang puasanya di hari senin?” dan beliau Menjawab: “Di hari itu aku dilahirkan, dan di hari itu pula Allah menurunkan wahyu kepadaku.”
Pada momen ini, umat muslim sebaiknya bergembira dengan berpuasa, membagikan makanan, berkumpul untuk berzikir, membaca selawat, atau pun mendengarkan syama’il Rasulullah.
4. Mengajarkan anak sebagai pembawa kebaikan
Anak dapat diajarkan bahwa menjadi umat Nabi Muhammad bukan hanya tentang beribadah untuk diri sendiri, tetapi juga berusaha agar kehadirannya membawa kebaikan bagi orang lain.
Sebagai contoh, anak dapat belajar untuk tidak mengganggu teman, tidak mengejek, membantu orang yang kesulitan, menjaga kebersihan, dan merawat lingkungan.
5. Wujud rasa cinta dan syukur
Dikutip dari laman Kemenag Jawa Barat, merayakan Maulid Nabi juga merupakan wujud rasa cinta sekaligus syukur mendalam atas nikmat Allah SWT, yakni lahirnya Rasulullah. Allah SWT berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
Artinya:
“Kita tidak mengutusmu kecuali sebagai rahmat bagi semua yang ada di alam semesta.” (Al-Anbiya’: 107)
Itulah penjelasan tentang asal-usul dan ayat tentang Maulid Nabi Muhammad SAW untuk diceritakan ke anak. Ingat ya Bunda, mencintai Rasulullah dapat diwujudkan dengan berusaha mengikuti akhlak baik yang beliau ajarkan.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(fir/fir)




Comments are closed.