Fri,21 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Health
  3. Tingkat Kematian Unta Melonjak Akibat Suhu Bumi Makin Tinggi

Tingkat Kematian Unta Melonjak Akibat Suhu Bumi Makin Tinggi

tingkat-kematian-unta-melonjak-akibat-suhu-bumi-makin-tinggi
Tingkat Kematian Unta Melonjak Akibat Suhu Bumi Makin Tinggi
service

Selama dekade terakhir, suhu di gurun sering mencapai 50–55°C. Unta, hewan yang dikenal sangat tahan terhadap panas sekalipun, kini menghadapi tingkat kematian yang tinggi seiring peningkatan suhu ekstrem.

Pakar Genetika Ekologi IPB University Ronny R Noor menyebut, dalam beberapa tahun terakhir suhu ekstrem di gurun menyebabkan unta mengalami luka lepuh, dehidrasi, gagal ginjal, hingga kematian.

Di Somalia, penelitian menunjukkan sekitar 73 persen unta meninggal di wilayah Sool. Sementara di Kenya, terjadi peningkatan kematian sebesar 15 persen dalam dua tahun terakhir akibat hipertermia.

“Fenomena suhu ekstrem yang meningkat di gurun pasir, sampai-sampai bahkan unta pun tidak mampu bertahan, benar-benar menunjukkan adanya krisis iklim yang sangat serius,” ujar Ronny.

Menurut dia, tingginya angka kematian unta menjadi pertanda jelas bahwa perubahan iklim telah melampaui batas kemampuan alam untuk menyesuaikan diri. “Karena itu, kita perlu peduli serta mencari solusi untuk melindungi hewan-hewan berharga ini,” katanya.

Ronny menjabarkan, unta memiliki mekanisme fisiologis yang memungkinkan suhu tubuhnya berubah dari sekitar 34°C pada malam hari hingga 41°C pada siang hari tanpa harus banyak berkeringat. Mekanisme ini membantu mereka menghemat air.

Namun, ketika suhu lingkungan melewati 45°C, kemampuan tersebut mulai kurang efektif. Unta kemudian lebih banyak berkeringat, kehilangan cairan, dan mengalami tekanan panas.

“Pada suhu ekstrem di atas 50°C, bahkan unta yang sehat dapat mengalami hipertermia serius dalam beberapa jam jika tidak memiliki akses terhadap air atau tempat perlindungan. Kondisi tersebut juga dapat menyebabkan kerusakan ginjal, gangguan metabolisme, hingga kegagalan organ,” ujar Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University ini.

Ronny membeberkan, penyebab suhu ekstrem ini berasal dari perubahan iklim global yang didorong oleh peningkatan emisi gas rumah kaca, sehingga semakin memperkuat pemanasan global. Gelombang panas yang ekstrem, seperti suhu siang hari yang bisa mencapai 50–55°C, membuat mekanisme pendinginan tubuh unta menjadi kurang efektif.

Tekanan panas diperparah oleh kekeringan yang membuat sumber air mengering dan vegetasi gurun berkurang. Akibatnya, unta kehilangan sumber makanan dan air, sementara masyarakat turut kehilangan sumber daya penting berupa susu, daging, dan transportasi.

“Sayangnya, eksploitasi lahan dan desertifikasi semakin memperburuk kondisi ini, sehingga semuanya menjadi semakin sulit,” katanya.

Di Ethiopia, peternak di Afar bahkan melaporkan kehilangan delapan anak unta dalam sebulan akibat suhu ekstrem. Kondisi serupa menunjukkan bahwa perubahan iklim tidak hanya mengubah kondisi lingkungan, tetapi juga mengancam kehidupan masyarakat gurun dan budaya yang selama ini menjadikan unta sebagai bagian penting dari identitas mereka.

“Jika unta, simbol kekuatan gurun, tidak lagi mampu bertahan, masyarakat gurun seperti suku Badui di Sahara dan komunitas Bedouin di Timur Tengah tentunya akan menghadapi tantangan besar dalam menjaga keberlangsungan hidup mereka.”

Perubahan ini dapat mendorong masyarakat beradaptasi melalui pengelolaan air, penggunaan tanaman tahan panas, hingga migrasi ke wilayah yang lebih nyaman. Pada saat yang sama, mereka menghadapi tantangan untuk mempertahankan tradisi dan identitas budaya di tengah perubahan ekologis.

Menurut Ronny, fenomena ini menjadi pengingat bahwa perubahan iklim bukan hanya persoalan kenaikan suhu, tetapi juga tentang batas kemampuan makhluk hidup beradaptasi. Ketika makhluk hidup seperti unta pun mulai kesulitan bertahan di habitatnya sendiri, tekanan terhadap ekosistem gurun dan kehidupan masyarakat yang bergantung padanya semakin nyata.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.