Thu,30 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Lingkungan Rusak, Masyarakat Aceh Lawan Tambang Emas Ilegal

Lingkungan Rusak, Masyarakat Aceh Lawan Tambang Emas Ilegal

lingkungan-rusak,-masyarakat-aceh-lawan-tambang-emas-ilegal
Lingkungan Rusak, Masyarakat Aceh Lawan Tambang Emas Ilegal
service

Perlawanan masyarakat Aceh terhadap tambang emas ilegal menguat. Warga di Kecamatan Tangse, Kabupaten Pidie, dan Pasie Raya, Aceh Jaya, menilai maraknya kegiatan melanggar hukum tersebut menyebabkan terjadinya krisis ekologi dan sosial yang selama bertahun dibiarkan tanpa penanganan serius. Puluhan warga dari tiga desa di Kecamatan Tangse, pada Sabtu (27/12/2025), memburu pelaku tambang liar yang dianggap merusak hutan di kawasan tersebut. Massa yang berasal dari Gampong Pulo Mesjid I, Gampong Pulo Mesjid II, dan Gampong Neubok Badeuk, menyisir pegunungan selama tujuh jam berjalan kaki, sekitar 20 kilometer. Mereka menilai, kegiatan itu dapat mengundang bencana dan memicu terjadinya banjir bandang sebagaimana yang melanda 18 kabupaten/kota di Aceh, akhir November 2025. “Kami marah, karena rusaknya hutan bukan saja berdampak bagi desa kami, tapi juga seluruh Kecamatan Tangse,” ujar Sulaiman, perwakilan warga yang ikut penyisiran. Ilustrasi warga Kabupaten Nagan Raya mendulang emas secara tradisional di sungai pada Januari 2026. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia Teuku Fatwa, anggota Forum Komunikasi Mahasiswa Tangse (Fokusmata), menegaskan aksi kolektif warga Tangse bukan luapan emosi sesaat. Ini respons rasional atas kegagalan negara melindungi ruang hidup rakyat dan lingkungan. “Ini bentuk kesadaran kritis masyarakat atas kerusakan ekologis yang terus dibiarkan. Kawasan Tangse memiliki fungsi penting sebagai penjaga sistem hidrologi dan kesuburan tanah yang menjadi penghidupan masyarakat pada sektor pertanian dan perkebunan,” ujarnya, Senin (5/1/2026). Berdasarkan pantauan masyarakat, sekitar 20 unit ekskavator beroperasi di sejumlah titik tambang ilegal. Penolakan warga memiliki dasar historis kuat. Masyarakat telah lama menyepakati bahwa wilayah Krueng (sungai) Ineng, Krueng Buko, dan Krueng Kawa merupakan kawasan tertutup bagi…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.