Thu,30 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Lebih dari 91 Ribu Warga Aceh Masih Mengungsi, Solidaritas Kemanusiaan Masih Terus Dibutuhkan

Lebih dari 91 Ribu Warga Aceh Masih Mengungsi, Solidaritas Kemanusiaan Masih Terus Dibutuhkan

lebih-dari-91-ribu-warga-aceh-masih-mengungsi,-solidaritas-kemanusiaan-masih-terus-dibutuhkan
Lebih dari 91 Ribu Warga Aceh Masih Mengungsi, Solidaritas Kemanusiaan Masih Terus Dibutuhkan
service

Banda Aceh, NU Online

Lebih dari 91 ribu warga Aceh masih bertahan di lokasi pengungsian akibat bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah sejak akhir November 2025. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Aceh pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat solidaritas kemanusiaan dalam membantu para korban.

Ketua PWNU Aceh, Tgk H. Faisal Ali atau Abu Sibreh, menegaskan bahwa bencana yang terjadi bukan semata persoalan alam, melainkan ujian kemanusiaan yang menuntut kepedulian bersama. Karena itu, nilai-nilai keislaman yang hidup dalam tradisi Nahdlatul Ulama, seperti gotong royong, ta’awun (saling menolong), dan empati sosial, perlu terus dihidupkan.

“Korban bencana membutuhkan kehadiran kita semua, baik dalam bentuk bantuan material, dukungan moril, maupun doa,” ujar Abu Sibreh, Senin.

Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, organisasi kemasyarakatan, lembaga keagamaan, dan relawan agar penanganan pengungsi dapat berjalan optimal dan berkelanjutan. Menurutnya, bantuan tidak boleh berhenti pada fase tanggap darurat, tetapi harus berlanjut hingga tahap pemulihan dan rehabilitasi kehidupan masyarakat pascabencana.

Berdasarkan data sementara Pos Komando Tanggap Darurat Bencana Aceh tercatat sebanyak 24.426 kepala keluarga (KK) atau 91.962 jiwa masih berada di pengungsian. Jumlah tersebut tersebar di 988 titik pengungsian di berbagai kabupaten dan kota di Aceh.

Kabupaten Aceh Utara menjadi wilayah dengan jumlah pengungsi terbanyak, yakni 33.261 jiwa atau 9.242 KK yang tersebar di 210 titik pengungsian. Kondisi ini menunjukkan besarnya dampak bencana, terutama pada kawasan permukiman padat penduduk.

Wilayah berikutnya adalah Kabupaten Gayo Lues dengan 18.944 jiwa atau 5.571 KK di tujuh titik pengungsian. Disusul Kabupaten Pidie Jaya sebanyak 14.794 jiwa (4.037 KK) yang tersebar di 38 titik. Sementara Aceh Tamiang melaporkan 6.052 jiwa atau 707 KK yang tersebar di 513 titik, menjadikannya daerah dengan jumlah titik pengungsian terbanyak.

Daerah lain yang masih mencatat pengungsian antara lain Aceh Tengah dengan 5.306 jiwa (1.075 KK) di 61 titik, Bireuen sebanyak 4.897 jiwa (1.397 KK) di 59 titik, serta Aceh Timur dengan 3.862 jiwa (1.056 KK) di 53 titik pengungsian. Selain itu, Nagan Raya melaporkan 2.472 jiwa (817 KK) di enam titik, Bener Meriah sebanyak 2.116 jiwa di 39 titik, Pidie 137 jiwa (30 KK) di dua titik, serta Kota Lhokseumawe 119 jiwa (37 KK).

Sementara itu, Juru Bicara Posko Penanganan Bencana Banjir dan Longsor Aceh, Murthalamuddin, menyampaikan bahwa pemerintah bersama seluruh pihak terkait terus melakukan upaya penanganan di lapangan.

“Distribusi logistik, layanan dapur umum, serta koordinasi lintas sektor terus diperkuat agar kebutuhan dasar pengungsi dapat terlayani dengan baik,” ujarnya.

Ia menambahkan, dari 18 kabupaten/kota terdampak, terdapat tujuh daerah yang saat ini tidak lagi memiliki titik pengungsian, yakni Aceh Selatan, Subulussalam, Langsa, Aceh Barat, Aceh Singkil, Aceh Tenggara, dan Aceh Besar. Meski demikian, kewaspadaan tetap dijaga mengingat potensi cuaca ekstrem masih mungkin terjadi di sejumlah wilayah Aceh.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.