Siswoyo tidak bisa menyembunyikan senyumnya saat membuka lukah di tengah aliran Sungai Siak yang surut suatu pagi. Di tengah air setinggi pinggang, pria 43 tahun itu lantas mengangkat alat tangkap ikan itu ke dalam sampan tuanya yang bocor di beberapa sisi. Udang dan ikan juaro jadi hasil tangkapan pertamanya. “Alhamdulillah. Lumayan untuk bongkar pertama,” ucapnya penuh syukur. Aktivitas ini sudah Siswoyo jalani lebih 2 dekade. Jaring, jala, rawal, hingga belat dan lukah, pernah dia gunakan untuk memenuhi penghidupannya dari aliran sungai yang makin tercemar itu. Dua nama terakhir merupakan alat tangkap utama nelayan Tebing Tinggi Okura, Kecamatan Rumbai Timur, Pekanbaru, saat musim kemarau. Lukah—sejenis perangkap dari jaring berbentuk kotak berangka besi, merupakan alat tangkap tambahan. Ia berada di dasar belat–jaring panjang yang menyerupai pagar di tepi sungai dengan bambu–, milik Siswoyo membentang 130 meter dengan tinggi 2,6 meter. Pemasangan belat biasanya ketika air mulai surut. Posisinya melengkung menghadap hutan di tepi sungai. Setelahnya, nelayan pulang dan meninggalkan alat itu lebih kurang enam jam. Mereka menjenguknya kembali saat air pasang, sekitar pukul 23.00, mengecek hasil tangkapan. Berbagai jenis ikan akan terperangkap ketika air surut. Mulai dari udang, ikan Juaro, ikan pantau, baung hingga belinda yang berstatus dilindungi. Nelayan tradisional tidak butuh modal banyak untuk mengais ikan-ikan itu. Siswoyo, misalnya, butuh dua liter bensin, rokok, dan satu tumbler berisi kopi. Biaya sekitar Rp50.000 itu bisa hasilkan pendapatan hingga Rp500.000 jika beruntung. Hari itu, dia bawa pulang 50 kilogram ikan campur dan 2 kilogram udang. Tapi keberuntungan itu tak berlangsung tiap hari. “Kemarin…This article was originally published on Mongabay
Nasib Nelayan Sungai Pekanbaru Makin Tak Menentu
Nasib Nelayan Sungai Pekanbaru Makin Tak Menentu





Comments are closed.