Thu,30 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Nasib Nelayan Sungai Pekanbaru Makin Tak Menentu

Nasib Nelayan Sungai Pekanbaru Makin Tak Menentu

nasib-nelayan-sungai-pekanbaru-makin-tak-menentu
Nasib Nelayan Sungai Pekanbaru Makin Tak Menentu
service

Siswoyo tidak bisa menyembunyikan senyumnya saat membuka lukah di tengah aliran Sungai Siak yang surut suatu pagi. Di tengah air setinggi pinggang, pria 43 tahun itu lantas mengangkat alat tangkap ikan itu ke dalam sampan tuanya yang bocor di beberapa sisi. Udang dan ikan juaro jadi hasil tangkapan pertamanya. “Alhamdulillah. Lumayan untuk bongkar pertama,” ucapnya penuh syukur. Aktivitas ini sudah Siswoyo jalani lebih 2 dekade. Jaring, jala, rawal, hingga belat dan lukah, pernah dia gunakan untuk memenuhi penghidupannya dari aliran sungai yang makin tercemar itu. Dua nama terakhir merupakan alat tangkap utama nelayan Tebing Tinggi Okura, Kecamatan Rumbai Timur, Pekanbaru, saat musim kemarau. Lukah—sejenis perangkap dari jaring berbentuk kotak berangka besi, merupakan alat tangkap tambahan. Ia berada di dasar belat–jaring panjang yang menyerupai pagar di tepi sungai dengan bambu–, milik Siswoyo membentang 130 meter dengan tinggi 2,6 meter. Pemasangan belat biasanya ketika air mulai surut. Posisinya melengkung menghadap hutan di tepi sungai. Setelahnya, nelayan pulang dan meninggalkan alat itu lebih kurang enam jam. Mereka menjenguknya kembali saat air pasang, sekitar pukul 23.00, mengecek hasil tangkapan. Berbagai jenis ikan akan terperangkap ketika air surut. Mulai dari udang, ikan Juaro, ikan pantau, baung hingga belinda yang berstatus dilindungi. Nelayan tradisional tidak butuh modal banyak untuk mengais ikan-ikan itu. Siswoyo, misalnya, butuh dua liter bensin, rokok, dan satu tumbler berisi kopi. Biaya sekitar Rp50.000 itu bisa hasilkan pendapatan hingga Rp500.000 jika beruntung. Hari itu, dia bawa pulang 50 kilogram ikan campur dan 2 kilogram udang. Tapi keberuntungan itu tak berlangsung tiap hari. “Kemarin…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.