Syarianto, pengepul madu skala kecil asal Desa Hampang, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan (Kalsel), gundah. Pasalnya, hingga akhir Januari, dia belum menerima setetes pun madu hasil panen hutan hujan tropis di Pegunungan Meratus. Terakhir kali dia menerima madu hutan sebanyak 50 liter dari para pemuai–pemburu yang biasa memanjat langsung ke atas pohon tinggi untuk mengambil sarang lebah–pada Desember 2025. Itu pun hasil panen dua tahun sebelumnya. Permintaan terus berdatangan, sedang setok madu dalam kemasan botol 600 mililiter di rumah sudah habis. “Para pemuai yang kita percaya datang sendiri ke rumah. Madu disimpan tahun 2024 pun juga sudah habis bulan itu juga,” katanya. Biasanya, dalam setahun, dia bisa menampung hingga 500 liter madu yang datang dari dataran tinggi. Ia melibatkan sekitar 20 orang, mulai Desa Cantung, Kiri Hulu, Hulu Sampanahan, Limbur, hingga Muara Urie. Pada waktu tertentu, suplai juga datang dari kabupaten tetangga. “Memang saat ini yang aku lihat dari sekian ratus pohon tidak ada sarangnya,” kata pria yang sudah menekuni usaha madu sejak 2014 itu. Di Juhu, Kecamatan Batang Alai Timur, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, desa tertinggi di Pegunungan Meratus, Alli, seorang pemuai, dan sembilan temannya, juga belum menemukan sarang yang terisi koloni lebah madu. “Biasanya memuai musim hujan, musim berkembang, seperti sekarang. Tetapi di kampung saat ini masih belum ada, Bang,” katanya. Dia memprediksi lebah madu hutan (Apis dorsata) berkurang berkaitan dengan tanaman di kampung yang tidak berbuah maksimal. Akibatnya, lebah tidak memiliki cukup pakan untuk menghasilkan madu. “Lebahnya juga tidak ada. Tidak tahu kenapa. Madu tidak mau datang kalau…This article was originally published on Mongabay
Ketika Perubahan Iklim Pengaruhi Lebah Hutan Meratus
Ketika Perubahan Iklim Pengaruhi Lebah Hutan Meratus





Comments are closed.