Wed,6 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Legenda Hatomure di Negeri Allang, Cerita Rakyat dari Maluku

Legenda Hatomure di Negeri Allang, Cerita Rakyat dari Maluku

legenda-hatomure-di-negeri-allang,-cerita-rakyat-dari-maluku
Legenda Hatomure di Negeri Allang, Cerita Rakyat dari Maluku
service

22 Februari 2026 15.00 WIB • 2 menit

Legenda Hatomure di Negeri Allang, Cerita Rakyat dari Maluku


Negeri Allang merupakan salah satu daerah yang ada di Pulau Seram, Maluku. Ada sebuah cerita rakyat dari Maluku yang mengisahkan tentang Hatomure di Negeri Allang tersebut.

Hatomure sendiri merupakan salah satu batu karang yang terletak di Pantai Namakoli. Namun Hatomure tidak terlihat seperti batu karang biasa pada umumnya.

Sekilas, Hatomure terlihat seperti batu karang yang berbentuk kapal dan sekoci. Cerita rakyat dari Maluku inilah yang menceritakan tentang kisah bagaimana terciptanya Hatomure, batu karang yang berbentuk kapal tersebut dulunya.

Bagaimana kisah lengkap dari legenda Hatomure yang ada di Negeri Allang tersebut? Simak cerita lengkap dari legenda Hatomure tersebut dalam artikel berikut ini.

Legenda Hatomure di Negeri Allang, Cerita Rakyat dari Maluku

Dilihat dari artikel Radonse Ivone Huwae, “Hatomure Negeri Alang” yang ada di dalam buku Antologi Cerita Rakyat Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease, dikisahkan pada zaman dahulu terdapat sebuah keluarga dari Jawa yang berlayar ke arah Pulau Seram. Keluarga tersebut bernama keluarga Sohilait.

Berhari-hari keluarga ini berlayar di lautan. Akhirnya mereka sampai di Pantai Namakoli.

Di sana keluarga Sohilait memilih untuk menetap. Mereka merasa cocok untuk tinggal di Pantai Namakoli.

Apalagi pantai tersebut cukup aman untuk melabuhkan kapal jika dibandingkan dengan daerah lainnya. Ketika musim ombak tiba, Pantai Namakoli tetap aman untuk menjadi tempat kapal bersandar.

Kapal keluarga Sohilait kemudian merapat ke Pantai Namakoli. Sesampainya di sana, semua anggota keluarga kemudian turun ke daratan.

Semua anggota keluarga Sohilait kemudian berpencar ke berbagai penjuru Pantai Namakoli. Mereka hendak mencari apa saja yang bisa dimakan, sebab perbekalan sudah habis selama berlayar di lautan.

Selain itu, mereka juga beristirahat dari perjalanan panjang. Semua anggota keluarga kemudian sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.

Hal ini membuat tidak ada anggota keluarga yang menjaga kapal ereka. Tanpa sadar arus kuat tiba-tiba saja muncul.

Aurs ini membawa kapal keluarga Sohilait menghantam batu karang yang ada di sekitar Pantai Namakoli. Akibatnya badan kapal menjadi pecah akibat menghantam batu karang tersebut.

Tidak hanya itu, air laut juga mulai masuk ke dalam kapal. Akhirnya kapal keluarga Sohilait tenggelam dan tidak bisa diselamatkan lagi.

Seiring berjalannya waktu, bangkai kapal ini kemudian berubah menjadi batu karang. Batu karang yang ada di Pantai Namakoli ini berbentuk seperti sebuah kapal dan dua buah sekoci.

Oleh masyarakat setempat, batu karang ini kemudian diberi nama Hatomure. Penamaan ini berasal dari dua kata berbeda, yakni “Hato” dan “Murai”.

Kata “Hato” sendiri berarti batu. Sementara itu, kata “Murai” atau “Mure” merujuk pada burung murai.

Konon ada sebuah cerita di tengah masyarakat jika dulunya batu Hatomure menjadi rumah bagi burung murai. Banyak burung murai yang bersarang di dahan pohon yang ada di sekitar Hatomure tersebut.

Dulunya masyarakat yang ada di sana hidup berdampingan dengan burung-burung murai tersebut. Seiring berjalannya waktu, mulai banyak penduduk yang datang dan menetap di sekitar daerah itu.

Hal ini membuat burung mulai yang ada di sana mulai terusik keberadaannya. Hal ini pula yang membuat populasi burung murai yang ada di sekitar Hatomure menjadi berkurang, bahkan bisa dikatakan tidak terlihat lagi.

Kini, kisah tentang keberadaan burung murai di sekitar Hatomure hanya tinggal cerita saja. Sebab sudah jarang burung murai terlihat beterbangan di sekitar area tersebut.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Irfan Jumadil Aslam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Irfan Jumadil Aslam.

Tim Editorarrow

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.