Wed,6 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Novel ‘Di Tanah Lada’: Saat Rumah Tak Jadi Ruang Aman Bagi Anak

Novel ‘Di Tanah Lada’: Saat Rumah Tak Jadi Ruang Aman Bagi Anak

novel-‘di-tanah-lada’:-saat-rumah-tak-jadi-ruang-aman-bagi-anak
Novel ‘Di Tanah Lada’: Saat Rumah Tak Jadi Ruang Aman Bagi Anak
service

“Lucu juga, ya, sudut pandang ceritanya dari tokoh anak kecil,” menjadi kalimat yang muncul di benakku saat membaca bab awal Di Tanah Lada karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie. 

Novel ini menceritakan seorang anak perempuan berusia enam tahun bernama Salva, atau akrab disapa Ava. Ava bukanlah tipikal anak kecil pada umumnya. Ia, yang juga bertindak sebagai narator, memiliki cara berbicara dan cara berpikir yang jauh lebih dewasa dibandingkan dengan anak seusianya. 

Tidak hanya itu, Ava juga gemar membawa kamus bahasa Indonesia ke mana pun ia pergi. Setiap menemukan kata yang asing baginya, ia akan membuka kamus ataupun berusaha mengingat definisinya, kemudian menyimpulkan maknanya dengan cara yang polos sekaligus menggelitik.

Kepolosan Ava itulah yang membuat narasi terasa ringan, meskipun kehidupan yang ia alami jauh dari kata mudah. Ayah kandungnya sendiri membencinya. Ia bahkan memanggil Ava dengan sebutan “Saliva”, seolah anaknya tak lebih dari ludah yang menjijikkan. 

Bagi Ava, ayahnya adalah sosok yang menakutkan, kasar, dan temperamental. Kekerasan yang dilakukan ayahnya tidak hanya sebatas verbal, melainkan juga menyakiti istrinya—ibu Ava—secara fisik. Keadaan kian memburuk setelah Kakek Kia, sosok penting dalam hidup Ava, meninggal dunia. Ditambah kecanduan judi sang ayah, keluarga kecil tersebut pun terpaksa pindah ke sebuah rumah susun kumuh bernama Rusun Nero.

Di lingkungan baru tersebut, Ava bertemu dengan P, seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun. Persahabatan pun tumbuh di antara mereka. Ava menganggap P unik karena namanya hanya terdiri dari satu huruf, sementara P menganggap Ava tak kalah aneh karena gemar membaca kamus. 

Keduanya pun terlibat dalam petualangan yang tak pernah mereka bayangkan, ketika Ava menceritakan bahwa mendiang Kakek Kia pernah bercerita tentang Tanah Lada, sebuah tempat yang diyakini dapat memberikan kebahagiaan. Bersama-sama, mereka memutuskan untuk mencari tempat itu.

Ava dan Kekerasan yang Tumbuh di Dalam Rumah

Sejak awal, pembaca diajak menyaksikan konflik utama dari sudut pandang seorang anak kecil. Namun, keunikan novel ini tidak berhenti di situ. Kepiawaian Ziggy dalam menggambarkan kekerasan dalam rumah tangga, terutama yang menimpa kelompok paling rentan seperti perempuan dan anak, menjadi salah satu kekuatan utama cerita ini. 

Kekerasan tidak ditampilkan melalui narasi yang membuat pembaca tidak nyaman, melainkan melalui kacamata Ava yang lugu dan penuh tanda tanya, sebuah cara pandang yang sesungguhnya sangat wajar bagi anak seusianya.

Relasi kuasa yang dimiliki ayah Ava sebagai laki-laki dewasa, kepala keluarga, sekaligus pemegang kendali ekonomi utama memberinya ruang untuk bertindak sewenang-wenang, seperti memaksa istri dan anaknya untuk pindah ke tempat yang jauh dari kata layak agar ia bisa leluasa pulang-pergi ke tempat judi. Di sini, patriarki bekerja dalam ruang domestik di mana kekerasan menjadi alat untuk mempertahankan kuasa.

Baca Juga: Tren Fesyen Coquette, Saatnya Mendobrak Batasan Ekspresi Ragam Gender dan Seksualitas 

Meskipun ayah Ava sudah dikenal sebagai sosok yang kasar sejak awal, aku memahami mengapa ibu Ava tidak serta-merta membawa Ava kabur. Dalam kondisi rentan, kekerasan yang sudah dikenal sering kali terasa “lebih aman” dibandingkan dengan ketidakpastian hidup dalam kemiskinan ekstrem. 

Situasi ini mencerminkan cycle of abuse, yaitu siklus ketika kekerasan, penyesalan, dan ketenangan yang semu terus berulang tanpa pernah benar-benar memberi jalan keluar bagi korban.

Namun, memahami bukan berarti membenarkan. Yang perlu dipertanyakan bukan semata keputusan Ibu Ava, melainkan sistem sosial yang membuat korban kekerasan tidak memiliki ruang aman untuk pergi. Ketika akses ekonomi tidak setara dan sistem patriarki mengukuhkan laki-laki sebagai pemegang kendali, anak-anak seperti Ava menjadi pihak yang paling rentan menanggung dampaknya. Ia tidak memiliki otoritas hukum, uang, maupun bahasa sosial untuk menentukan nasibnya sendiri.

P dan Hidup yang Tidak Pernah Dipilihnya

Kekerasan dalam novel Di Tanah Lada tidak hanya terlihat dari apa yang dialami Ava dan ibunya. P pun mengalami kekerasan berlapis yang tak kalah kompleks. Melalui tokoh P, Ziggy menunjukkan bentuk kekerasan lain yang lebih sunyi namun tak kalah kejam, yaitu pengabaian.

P lahir tanpa pengakuan sosial yang utuh sebagai seorang anak. Orang tuanya, Mas Alri dan Kak Suri, melahirkannya di luar pernikahan dan tidak pernah benar-benar mengasuhnya secara langsung. Mereka memilih memantau P dari kejauhan. 

Mas Alri memang kerap diam-diam mengawasi dan sesekali membantu P, sementara Kak Suri beberapa kali menunjukkan kepedulian. Meskipun begitu, tanggung jawab sebagai orang tua tetap dilimpahkan kepada P sendiri, seorang anak yang nyaris tidak memiliki perlindungan tetapi harus terjun ke dunia yang tidak serta-merta aman baginya.

Di satu sisi, keputusan mereka tidak sepenuhnya dapat dilepaskan dari keterbatasan ekonomi dan ketidakstabilan hidup mereka sendiri. Dalam masyarakat yang minim jaring pengaman sosial, memiliki anak sering kali berarti mewariskan kerentanan. Namun di sisi lain, pengabaian ini juga memperlihatkan ketimpangan akses dan privilese, terutama ketika Kak Suri memiliki kesempatan pendidikan yang tidak pernah dimiliki P.

Dalam hal ini, pengabaian terhadap P bukan sekadar problematika keluarga. Ia merupakan bentuk kekerasan simbolik yang lahir dari ketimpangan struktural. P pun dipaksa untuk dewasa sebelum waktunya karena orang dewasa seperti Mas Alri dan Kak Suri memilih untuk hadir setengah hati.

Sistem Sosial dan Negara yang Gagal Melindungi Anak

Membaca novel Di Tanah Lada membuatku mempertanyakan ulang makna “rumah” yang selama ini kita anggap aman. Di sisi lain, aku pun turut menyadari bahwa kekerasan tidak pernah tunggal. Ia dialami oleh setiap tokoh, baik itu Ava, P, ibu Ava, Mas Alri, hingga Kak Suri, dalam bentuk dan intensitas yang berbeda.

Bagi Ava dan P, hidup berarti menanggung konsekuensi dari keputusan orang dewasa. Kisah mereka menunjukkan bahwa kekerasan terhadap anak tidak pernah berdiri sendiri, melainkan selalu berkelindan dengan kelas sosial, struktur keluarga, relasi kuasa, dan absennya perlindungan yang memadai. 

Begitu pula dengan Ibu Ava. Ia mengalami kekerasan tidak hanya sebagai istri, tetapi juga sebagai ibu yang terjebak dalam posisi serba terbatas. Ketidakberdayaannya membentuk cara Ava memandang dunia dengan penuh ketakutan dan kesadaran bahwa rumah tidak selalu berarti aman.

Mas Alri dan Kak Suri pun demikian. Jarak yang mereka pilih bukan semata-mata karena ketiadaan kasih sayang, melainkan hasil dari tekanan sosial dan keterbatasan ekonomi yang membentuk cara mereka bertahan hidup. Akan tetapi di sisi lain, P tetap membutuhkan perlindungan dan pengakuan sebagai seorang anak. Tanpa itu, ia terpaksa menghadapi dunia yang keras sebelum waktunya dengan ketiadaan ruang aman untuk berkembang.

Di titik ini, novel tersebut terasa seperti kritik terhadap sistem sosial yang abai. Dalam kehidupan nyata, kekerasan domestik kerap berhenti di tembok rumah karena dianggap urusan privat. Berdasarkan data terbaru, ribuan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak dilaporkan setiap tahunnya di Indonesia. Angka ini menunjukkan bahwa persoalan tersebut bukan kasus terisolasi, melainkan persoalan struktural.

Baca Juga: 5 Rekomendasi Film Biar Kamu Makin Paham Soal Child Grooming

Meskipun negara memang memiliki perangkat hukum seperti yang tertuang dalam UU No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (PKDRT) dan kebijakan perlindungan anak yang diatur dalam UU No. 23 Tahun 2002, implementasi terhadapnya sering kali tidak menjangkau keluarga kelas bawah yang minim akses informasi, bantuan hukum, dan dukungan sosial. Belum lagi pelaporan kasus yang kerap terhambat oleh ketergantungan ekonomi korban terhadap pelaku, stigma sosial, serta proses hukum yang panjang dan melelahkan.

Perlindungan hanya berfungsi sebagai konsep normatif di atas kertas, bukan jaring pengaman yang benar-benar bekerja, sekaligus hanya menjadi hak eksklusif bagi mereka yang memiliki sumber daya. Akibatnya, keamanan tidak sepenuhnya berhasil menjangkau mereka yang paling lemah. Anak-anak seperti Ava dan P tumbuh dalam ruang yang tidak pernah benar-benar aman, tanpa otoritas, tanpa sumber daya, dan tanpa suara yang cukup kuat untuk didengar. 

Selama kekerasan domestik dan pengabaian terhadap anak terus dilihat sebagai persoalan privat, negara berarti melanggengkan pembiaran relasi kuasa patriarki di dalam rumah yang bekerja tanpa pengawasan.

Pada akhirnya, Di Tanah Lada tidak hanya berkisah tentang ayah yang kejam, keluarga yang gagal, atau tentang bagaimana anak-anak dipaksa memikul beban dari kelalaian orang dewasa. Ia adalah bukti bagaimana relasi kuasa bekerja di dalam rumah dan bagaimana kekerasan maupun pengabaian sering kali dianggap wajar. 

Novel ini juga menunjukkan, sekaligus mengingatkan satu perkara yang terasa kecil, namun menyakitkan: anak-anak selalu menanggung keputusan yang tidak pernah mereka pilih. Kerentanan yang bukan pilihan mereka itu pun berisiko terus diwariskan dari generasi ke generasi.

(Editor: Nurul Nur Azizah)

(Sumber Gambar: Gramedia)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.