Minggu ini, saat lagi scroll TikTok di sela waktu senggang, aku berhenti pada satu video yang kurasa dekat dengan keseharian kita.
Di layar, muncul tulisan besar: “Normal di cewek, aneh di cowok.”
Video itu menampilkan potongan-potongan kecil tentang pertemanan perempuan yang terlihat hangat dan ekspresif dimana mereka saling menyandarkan kepala di bahu, bergandengan tangan saat berjalan, hingga melontarkan pujian sederhana seperti “kamu lucu deh” tanpa ragu.
Tapi ketika gestur yang sama dibayangkan terjadi dalam pertemanan laki-laki, nuansanya berubah total. Tiba-tiba mereka jadi canggung. Rasa canggung ini diamini oleh pengguna media sosial lain di kolom komentar.
“Gelisah banget liatnya” ujar salah satu netizen. “Kalau cowok sih bahaya” sambut netizen lain.


Awalnya saat menonton video ini aku merasa ini hanya video humor saja untuk hiburan dengan menunjukkan realitas yang unik. Tapi kemudian aku mulai mempertanyakan, kenapa ya, laki-laki seolah tidak boleh menunjukkan hubungan pertemanan yang intimate seperti perempuan?
Karena kalau dipikir lagi, tidak ada yang salah dari cara orang mengekspresikan diri dalam pertemanan. Hanya saja yang jadi problematika adalah adanya standar bagi pertemanan laki-laki (khususnya antara cis hetero) yang harus “nonchalant”. Tidak boleh menunjukkan sisi emosional, tidak boleh ada kedekatan secara fisik, dan lainnya. Di sinilah masalah sesungguhnya berakar.
Konstruksi sosial yang sudah lama dinormalisasi, yang membuat laki-laki merasa bahwa menunjukkan afeksi kepada sesama adalah sesuatu yang memalukan, mencurigakan, atau bahkan mengancam identitas maskulin mereka.
Baca juga: Pertemanan di Media Sosial, Yang Besar Bukan Berarti Lebih Baik
Aku kemudian mencoba melihat lebih dekat, ke lingkaran pertemanan laki-laki cis hetero di sekitarku.
Cara mereka berinteraksi sebenarnya tidak sepenuhnya tanpa kedekatan. Mereka tetap bercanda, saling mendukung, bahkan menunjukkan perhatian kepada satu sama lain. Hanya saja memang dalam bentuk yang berbeda dari pertemanan antar perempuan.
Kedekatan pertemanan laki-laki itu sering kali dibungkus dalam candaan, ejekan ringan, atau aktivitas bersama seperti bermain game dan olahraga. Jarang sekali aku melihat mereka memberikan afeksi secara langsung baik verbal maupun non verbal.
Aku sendiri termasuk orang yang cukup sering memanggil teman-temanku dengan sebutan “sayang”. Buatku itu hal kecil yang terasa natural, semacam cara sederhana untuk menunjukkan kedekatan.
Waktu itu aku sedang berkumpul dengan beberapa teman, dan ada beberapa laki-laki di sana. Seperti biasa, aku memanggil salah satu teman perempuanku dengan “sayang” di tengah obrolan. Tidak ada yang terasa aneh bagiku. Tapi tidak lama setelah itu, salah satu teman laki-lakiku menoleh ke temannya di sebelahnya lalu bilang sambil tertawa, “Coba aku gitu ke kamu, aneh nggak sih?”
Kalimat itu terdengar ringan, seperti sekadar bercanda. Tapi justru dari situ terasa ada sesuatu yang jujur. Seolah mereka sama-sama tahu kalau hal sesederhana itu tidak bisa begitu saja dilakukan dalam pertemanan mereka. Bukan karena tidak mau, tapi karena terasa tidak biasa.
Momen itu sebenarnya kecil dan cepat lewat. Tapi setelah kupikir lagi, justru dari situ kelihatan jelas bahwa ada batas yang tidak tertulis dalam pertemanan laki-laki. Batas yang membuat bentuk afeksi sederhana terasa asing, bahkan sebelum benar-benar dicoba.
Baca juga: Kamus Feminis: Solidaritas Laki-Laki Sekutu, Menjadi Ally Jangan Hanya Performatif
Perbedaan antara pertemanan laki-laki dan perempuan sudah banyak diteliti jauh sebelum era TikTok.
Caldwell dan Peplau dalam artikel mereka “Sex Differences in Same-Sex Friendship” (1982) menelaah sejumlah penelitian sebelumnya dan menemukan pola yang konsisten: pertemanan sesama perempuan secara umum lebih intim dibanding pertemanan sesama laki-laki. Perempuan lebih cenderung memiliki teman kepercayaan yang bisa diajak bicara soal hal-hal personal, dan melaporkan memiliki lebih banyak “teman intim” dibanding laki-laki.
Sementara itu, laki-laki cenderung lebih terbuka pada topik-topik ringan seperti hobi atau olahraga, tapi menutup diri pada hal-hal yang lebih dalam seperti kesepian atau perasaan yang tidak mudah diucapkan. Laki-laki juga terbukti mengungkapkan lebih sedikit informasi personal kepada orang lain, dan menerima lebih sedikit keterbukaan serupa dari orang-orang di sekitar mereka.
Beberapa penelitian bahkan mencatat bahwa lebih sedikit situasi sosial yang memicu respon emosional pada laki-laki, dan bahwa keterbukaan intim justru tidak terlalu mempererat pertemanan mereka seperti yang terjadi pada perempuan.
Para peneliti menyimpulkan bahwa konstruksi peran gender laki-laki itu sendiri yang membatasi ruang untuk berbagi secara emosional dalam relasi sesama laki-laki. Bukan karena laki-laki tidak punya perasaan, tapi karena standar sosial yang mereka internalisasi sejak kecil membuat ekspresi itu terasa tidak pada tempatnya. Yang menarik adalah temuan ini sudah ada lebih dari empat dekade lalu. Tapi kalau kita lihat, polanya masih sangat bisa dikenali hari ini.
Dari kecil, banyak laki-laki sudah akrab dengan kalimat-kalimat seperti “anak laki-laki jangan nangis”. Kedengarannya sepele, sering juga diucapkan tanpa niat buruk. Tapi kalau terus diulang, lama-lama jadi seperti aturan yang tidak tertulis. Sedih harus ditahan, takut jangan kelihatan, apalagi menangis di depan orang lain.
Kebiasaan ini tidak muncul begitu saja. Ada pengaruh besar dari cara kita memandang laki-laki dalam masyarakat.
Baca juga: Membuka ‘Topeng’ Maskulinitas Toksik, Upaya Merobohkan Ilusi Kejantanan
Dalam budaya yang masih kuat dengan nilai patriarki, laki-laki sering ditempatkan sebagai sosok yang harus selalu terlihat kuat, tahan banting, dan nggak banyak menunjukkan emosi. Ada bayangan tentang “laki-laki ideal” yang harus macho, tegas, dan tidak goyah. Masalahnya, bayangan itu sempit banget.
Akhirnya banyak laki-laki yang terbiasa memendam. Bukan karena mereka tidak punya perasaan, tapi karena dari awal nggak pernah benar-benar dikasih ruang buat mengekspresikannya. Bahkan kadang, mereka sendiri jadi bingung dengan apa yang mereka rasakan, karena terlalu sering diminta untuk menahan.
Di pertemanan, ini terlihat cukup jelas. Mereka tetap dekat, tetap peduli, tapi caranya beda. Lebih sering lewat bercanda, saling ledek, atau sekadar hadir bareng-bareng. Jarang banget ada yang ngomong langsung soal perasaan atau kasih afeksi secara terbuka. Bukan berarti tidak mau, tapi terasa aneh aja kalau dilakukan.
Di sisi lain ada juga bayang-bayang homofobia. Dalam artikel “Gender and friendship: Why are men’s best same-sex friendships less intimate and supportive?” milik BARBARA J. BANK dan SUZANNE L. HANSFORD mereka meneliti enam faktor mengapa pertemanan antara laki-laki dan laki-laki terasa kurang suportif dan intimate. Enam faktor tersebut diantaranya: kurangnya figur orang tua sebagai model pertemanan, pengendalian emosi (emotional restraint), homofobia, identitas maskulin, dorongan kompetitif, dan konflik peran.
Hasilnya? Dua faktor yang paling kuat menjelaskan mengapa pertemanan sesama laki-laki cenderung kurang intim dan kurang suportif adalah pengendalian emosi dan homofobia terhadap laki-laki gay.
Seperti yang sudah ditulis di atas, pengendalian emosi bukan hanya soal “laki-laki tidak suka bicara tentang feelings.” Ini berkaitan langsung dengan norma yang sudah mereka internalisasi. Bahwa seorang laki-laki tidak seharusnya mengungkapkan kekhawatiran, tidak seharusnya terlalu mengandalkan orang lain, tidak seharusnya terlihat rentan. Norma ini bukan datang dari dalam diri, tapi dari luar baik dari lingkungan, keluarga, dan tentu saja, media.
Baca juga: Latennya Homophobia Digital: Ketika Lini Masa Jadi Wahana Ekstrim Bagi LGBTQ+
Sementara homofobia, ada rasa ketakutan untuk dianggap “terlalu dekat” dengan sesama laki-laki membuat mereka menjaga jarak secara emosional, bahkan tanpa benar-benar menyadarinya.
Kembali ke momen di atas saat teman laki-lakiku yang nyeletuk, “Coba aku gitu ke kamu, aneh nggak sih?”, kalimat itu sekarang terasa seperti ilustrasi langsung dari kedua faktor itu. Ada pengendalian emosi di sana: kesadaran bahwa afeksi semacam itu “tidak lazim” bagi mereka. Dan ada pula sedikit homofobia tersirat. Bukan dalam artian yang kasar, tapi dalam bentuk kekhawatiran tentang bagaimana gestur itu akan dibaca orang lain.
Yang lebih mengejutkan dari studi Bank dan Hansford adalah satu temuan yang kontra-intuitif: meskipun laki-laki rata-rata memiliki pertemanan yang kurang intim dibanding perempuan, mereka tetap menikmati pertemanan yang lebih intim jauh lebih banyak daripada yang kurang intim. Artinya, bukan karena laki-laki tidak menginginkan kedekatan, mereka menginginkannya. Hanya saja ada sesuatu yang menghalangi mereka untuk mengejarnya. Sesuatu yang bukan berasal dari keinginan mereka sendiri, tapi dari tekanan sosial yang sudah terlanjur membentuk cara mereka berteman sejak kecil.
Ini yang membuat pola ini terasa lebih seperti kerugian yang tidak disadari, bukan pilihan yang bebas.
Identitas maskulin itu sendiri yakni dominan, mandiri, tidak bergantung pada orang lain — terbukti berkorelasi negatif dengan keintiman dalam pertemanan. Semakin kuat seseorang mengidentifikasikan dirinya dengan ciri-ciri maskulin tersebut, semakin kecil kemungkinan pertemanannya terasa dekat secara emosional. Bukan karena mereka tidak mampu, tapi karena konstruksi maskulinitas itu sendiri membangun tembok.
Sampai di titik ini, pembahasan tentang pertemanan laki-laki memang banyak berangkat dari pengalaman yang paling umum terlihat, yaitu relasi antar laki-laki cis hetero. Pola yang cenderung menjaga jarak dari ekspresi afeksi, membungkus kedekatan dalam candaan, atau menghindari obrolan yang terlalu personal, sering kali muncul dari lingkungan yang juga membentuk standar maskulinitas tertentu.
Baca juga: Maskulinitas Toksik Bikin Lelaki Cemas dengan Tubuhnya
Tapi tentu saja, pengalaman laki-laki tidak tunggal. Cara seseorang membangun relasi, mengekspresikan kedekatan, atau merespons norma maskulinitas bisa sangat berbeda, tergantung pada latar belakang dan identitasnya. Dalam konteks ini, menarik untuk melihat bagaimana laki-laki gay memandang dinamika pertemanan laki-laki yang selama ini lebih banyak diwarnai oleh norma cis heteronormatif.
Aku kemudian berkesempatan mewawancarai Ichan, seorang laki-laki gay dari Komunitas Cangkang Queer. Ia membagikan pandangannya tentang bagaimana pertemanan laki-laki berjalan, serta bagaimana ekspektasi maskulinitas yang kaku sering kali ikut membatasi cara laki-laki mengekspresikan kedekatan, bahkan di ruang pertemanan mereka sendiri.
“Iya, kalau aku melihat pertemanannya [laki-laki dan laki-laki], gak jauh-jauh dari kultur patriarki sendiri kan. Memang yang kita lihat, gender yang terdampak langsung itu kan gender kedua, ketiga, dan seterusnya. Namun, laki-laki sendiri itu juga turut juga menjadi korban sistemik gitu dari patriarki sendiri, yang beberapa di antaranya itu punya kultur-kultur pertemanan toxic. Karena mereka mungkin gak bisa berekspresi dengan bebas. Dengan slogan-slogan seperti “laki-laki gak bisa terlalu emosional”.
Dan tuntutan-tuntutan mereka sebagai orang dewasa juga gitu kan, yang harus sebagai provider dan pembicaraan-pembicaraan mereka juga harus dibungkus dengan patriarki untuk menunjukkan bahwa mereka cukup maskulin berada di ruang-ruang itu,” jelas Ichan kepada Konde.co (18/04).
Tak jarang juga bagi Ichan, ia harus beradaptasi dengan gaya pertemanan yang maskulin agar tidak mendapat diskriminasi dari mereka.
“Jadi kalau misalkan aku berada di ruang itu dan cukup maskulin, pasti akan mengalami diskriminasi atau intimidasi, terutama pada pertemuan pertama. Seringkali juga kalau aku untuk hadir di ruang-ruang itu, aku biasanya harus menyiapkan diri dulu gitu kan, maksudnya soal keamananku juga. Artinya aku harus setting mulai dari apa namanya penampilan, bagaimana membawa diri, cara bicara, gestur. Di ruang-ruang yang maskulin itu tuh aku harus seperti itu, tujuannya juga untuk melindungi diriku sendiri,” tambahnya.
Baca juga: Agresif di Media Sosial, Ini Bentuk Maskulinitas Toksik?
Meski begitu, Ichan juga melihat bahwa di balik sikap yang terlihat kaku, banyak laki-laki sebenarnya tetap punya kebutuhan yang sama akan kedekatan. Hanya saja, ruang itu tidak selalu tersedia. Dalam banyak situasi, ekspresi afeksi atau emosi dianggap lemah jika ditunjukkan secara terbuka, terutama di ruang publik atau dalam kelompok yang lebih besar. Bahkan, menurut Ichan, hal-hal yang sedikit keluar dari standar maskulin bisa dengan mudah jadi bahan olok-olokan.
“Sikap emosional yang gak diterima itu sebenarnya di ruang publik ramai. Seolah itu tidak diizinkan untuk terlalu emosional misalnya. Baik, atau beberapa teman terlalu jenaka, ekspresinya terlalu bebas, itu juga kadang-kadang di beberapa ruang juga terkesan ‘memalukan’. Terutama mereka kalau menunjukkan sisi yang feminin, atau misalnya kebiasaan, hobi, dan skill mereka yang ada hubungannya dengan feminin, biasanya seringkali itu disembunyikan. Tapi kalau mereka punya sobat yang aman, aku merasa mereka cukup percaya untuk membagi,” pungkas Ichan.
Ichan kemudian juga melihat mengapa pertemanan laki-laki cis hetero jarang sekali menunjukkan kedekatan baik non verbal maupun secara verbal. Tak jauh-jauh dari homofobia.
“Jadi ini sih, sebenarnya mereka takut kalau misalnya mereka diidentifikasi tidak cukup heteroseksual dan maskulin sebenarnya. Itu membuat mereka tuh gak aman. Padahal kalau yang bisa mendefinisikan orientasi seksual atau identitas seksual orang kan dirinya sendiri. Di ruang-ruang publik itu membuat mereka gak nyaman karena semata-mata mereka takut diintimidasi, bukan sebagai diri mereka sendiri. Padahal sebenarnya mereka butuh bonding itu,” ungkap Ichan.
Tapi Ichan juga melihat bahwa mereka akan menunjukkan kedekatan itu kalau mereka merasa berada di ruang yang aman. Ruang aman yang dimaksud Ichan di sini adalah ruang tanpa adanya rasa takut untuk dihakimi.
Kemudian, Ichan juga membahas dampak kesehatan emosional bagi mereka yang masih menutup diri dari pertemanan yang intimate karena adanya tekanan maskulinitas.
Baca juga: Di Balik Viral Obrolan ‘Provider’ bareng Prilly Latuconsina, Ada Jebakan Maskulinitas Toksik
“Ini sangat stressful sebenarnya kan di beberapa relasi kita kan. Ruang aman itu tidak diperoleh secara cuma-cuma dan sulit sekali menemukan. Dan tekanan itu ada di berbagai sisi. Kalau dia ada di tengah lingkaran maka mungkin hampir penuh lingkaran itu tuh menaruh ekspektasi sama dia. Tapi ketika dia misalnya burn out, nah ruangnya ini yang sulit. Dan ketika misalnya burn out, seringkali itu ditanggung sendiri. Dan inilah titik-titik yang tertingginya, bagaimana mereka apalagi juga isu-isu psikologis. Itu kan nggak semua orang punya kapasitas untuk memahami dan menyadari bahwasannya dia butuh bantuan ahli gitu kan untuk ke psikologis. Kepada siapa mereka misalnya minta bantuan, itu yang menjadi memperparah mental health,” tegas Ichan.
Pada akhirnya, Ichan membayangkan pertemanan yang lebih sehat sebagai relasi yang memberi ruang untuk saling memahami tanpa menghakimi. Sesederhana bisa mendengarkan tanpa buru-buru memberi solusi, atau hadir tanpa membuat orang lain merasa harus menjadi versi tertentu dari dirinya.
“Semua orang mungkin aku boleh mengatakan bahwa kita harus lebih apresiatif antara satu manusia dengan manusia lain, tidak judge pengalaman-pengalaman yang mungkin dirasakan oleh orang lain. Apalagi yang orang lain rasakan tu tidak kita alami,” ujarnya.
Akhirnya, video-video tren di media sosial memang tidak bisa selalu kita lihat sebagai tren semata. Ada fenomena sosial yang bekerja di baliknya, yang membuat potongan-potongan kecil itu terasa begitu relate bagi banyak orang. Dari tren yang membandingkan pertemanan perempuan dan laki-laki ini, kita bisa melihat bahwa laki-laki juga berada dalam tekanan yang sama, yaitu tuntutan maskulinitas yang sering kali membatasi mereka untuk menunjukkan sisi emosionalnya.
Baca juga: Yuk, Belajar Dari BTS dan Army Dalam Melawan Hegemoni Maskulinitas!
Padahal, kemampuan untuk mengekspresikan perasaan dan membangun kedekatan bukan hal sepele. Itu berkaitan langsung dengan kesehatan emosional dan kualitas relasi yang mereka miliki.
Mungkin perubahan tidak selalu harus dimulai dari hal besar. Bisa dari cara kita melihat. Dari cara kita merespons. Dari cara kita tidak lagi buru-buru memberi label atau menganggap aneh bentuk afeksi tertentu. Ketakutan akan dicap, entah itu dianggap tidak maskulin atau diberi label lain, selama ini memang nyata. Tapi kalau terus dipelihara, justru akan terus membatasi. Pelan-pelan, ruang itu bisa dibuka. Bukan dengan menghakimi, tapi dengan refleksi. Dengan mulai mempertanyakan ulang standar yang selama ini kita anggap wajar.
Karena pada akhirnya, yang sering kali perlu diubah bukan hanya cara orang lain bersikap, tapi juga cara kita memandang. Sudahkah kita benar-benar adil sejak dalam pikiran?
Referensi
Caldwell, M., & Peplau, L. (1982). Sex differences in same-sex friendship. Sex Roles, 8, 721-732. https://doi.org/10.1007/bf00287568.
Bank, B., & Hansford, S. (2000). Gender and friendship: Why are men’s best same‐sex friendships less intimate and supportive?. Personal Relationships, 7, 63-78. https://doi.org/10.1111/j.1475-6811.2000.tb00004.x.
(Editor: Luviana Ariyanti)




Comments are closed.