Mon,18 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Lukisan Gua, Jejak Peradaban Seni Tertua di Pulau Muna

Lukisan Gua, Jejak Peradaban Seni Tertua di Pulau Muna

lukisan-gua,-jejak-peradaban-seni-tertua-di-pulau-muna
Lukisan Gua, Jejak Peradaban Seni Tertua di Pulau Muna
service

Sadam Hussein, bergegas mengendarai motor menuju Liang Metanduno, Desa Liang Kabori, di tengah hamparan bukit-bukit karst di Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara (Sultra), usai membaca publikasi tentang temuan gambar cadas cap tangan tertua di dunia tepat di kampung halamannya, baru-baru ini. Di dalam Liang Metanduno, yang kira-kira luasnya kurang lebih 2 lapangan voli, dia terdiam lama dan berganti-ganti pose. Berdiri, duduk, dan baring, hanya untuk berusaha memahami aneka gambar cadas di dinding-dinding dan atap liang. Sejak lama memaknai gambar cadas itu sebagai eksistensi manusia modern awal di Nusantara, dan memengaruhi cara pandangnya memahami lingkungannya. Juga, membulatkan tekadnya mengambil studi Antropologi di Universitas Halu Oleo di Kendari, tahun 2009. “Ini cerminan pengalaman hidup dan bentuk spiritual yang diekspresikan dan didokumentasikan, seperti gaya hidup berburu dan mementaskan tangan di dinding, yang mungkin memiliki arti khusus atau nilai ritual,” katanya. Dia menghabiskan waktu berjam-jam, berusaha memaknai misteri gambar-gambar cadas itu. Menggabungkan pengalaman sejak kecil mendatangi gua ini dengan temuan terbaru hasil kolaborasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Griffith University, dan Kementerian Kebudayaan, dalam upaya memberikan konteks luas kekayaan arkeologi Indonesia yang memiliki lebih dari 700 seni cadas dengan sejarah mencapai 50.000 tahun. Adhi Agus Oktaviana, arkeolog Badan Riset Nasional Indonesia (BRIN), menjadi pimpinan proyek ini. Berkolaborasi dengan peneliti Griffith University, Maxime Aubert, spesialis penanggalan seni cadas menggunakan teknik uranium-series dan Adam Brumm, arkeolog yang fokus pada evolusi manusia. Kelompok ilmuwan itu mengungkap penemuan monumental gambar cadas atau stensil tangan di Liang Metanduno yang memiliki usia minimum 67.800 tahun. Temuan ini tidak…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.