Mon,27 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Fondasi Teologis Mubadalah dan Kritik terhadap Pola Relasi Hierarkis

Fondasi Teologis Mubadalah dan Kritik terhadap Pola Relasi Hierarkis

fondasi-teologis-mubadalah-dan-kritik-terhadap-pola-relasi-hierarkis
Fondasi Teologis Mubadalah dan Kritik terhadap Pola Relasi Hierarkis
service

Mubadalah.id – Paradigma mubadalah bertumpu pada landasan teologis yang menegaskan kesetaraan manusia dalam ajaran Islam. Sejumlah ayat Al-Qur’an menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan diciptakan dari asal yang sama, menjadi pasangan yang saling menenteramkan, serta memikul amanah sebagai khalifah di bumi.

Prinsip ini dipahami sebagai dasar bahwa tanggung jawab moral dan spiritual tidak ditentukan oleh jenis kelamin, melainkan oleh amal perbuatan.

Dalam kerangka tersebut, pahala dan dosa dipandang berlaku bagi semua individu tanpa pembedaan gender. Perspektif ini menegaskan bahwa tidak terdapat dasar normatif untuk menempatkan satu pihak sebagai subjek utama. Sementara pihak lain sebagai objek. Kesetaraan spiritual ini menjadi argumen utama dalam pengembangan pendekatan mubadalah.

Konsep tersebut juga muncul sebagai respons terhadap pola relasi sosial yang masih terpengaruhi dengan cara pandang patriarkal. Dalam sejumlah praktik budaya, laki-laki kerap menjadi pusat otoritas, sedangkan perempuan sebagai pelengkap.

Paradigma mubadalah tidak menolak adanya perbedaan biologis antara keduanya, tetapi menolak penggunaan perbedaan tersebut sebagai legitimasi ketimpangan moral atau sosial.

Pendekatan ini tidak untuk membalik struktur dominasi, melainkan menata ulang relasi agar berbasis kerja sama dan tanggung jawab bersama. Dengan demikian, mubadalah menekankan pembentukan hubungan yang berlandaskan prinsip kemitraan, bukan hierarki kekuasaan.

Para pengamat studi sosial-keagamaan menilai bahwa pendekatan semacam ini relevan dalam konteks masyarakat modern yang menuntut partisipasi setara dalam berbagai sektor kehidupan. Paradigma mubadalah dipandang dapat menjadi kerangka konseptual untuk memahami ajaran agama secara lebih inklusif sekaligus responsif terhadap dinamika sosial.

Melalui fondasi teologis tersebut, mubadalah tidak hanya menjadi pendekatan interpretasi teks, tetapi juga perspektif etis yang berfungsi membangun pola relasi sosial yang menempatkan setiap individu sebagai subjek yang memiliki martabat dan tanggung jawab setara. []

Sumber Tulisan: Makna Mubadalah

Redaksi

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.