Sebuah ekskavator menggali tanah di pinggir Sungai Batang Kasang, Nagari Kasang, Kabupaten Padang Pariaman, pada Senin (2/3/26) siang. Alat berat itu mengangkut pasir dan batu ke truk merah untuk pengerasan jalan menuju lokasi tambang batu andesit. Tak jauh dari situ, En, lelaki berbadan gempal dengan rambut memutih berdiri berhadapan dengan beberapa orang yang mendukung aktivitas tambang. pria 60 tahun ini salah satu pemilik tanah yang dilalui kendaraan menuju lokasi tambang. Sekitar empat orang mengelilinginya setelah mengangkat pagar kayu yang sebelumnya terpasang melintang di jalan—sebuah simbol penolakan terhadap aktivitas tambang. “Malu kita dilihat orang luar, ini untuk jalan,” kata salah seorang kepada En. En bersikeras menolak. Jalan itu sebelumnya dia tanami pohon durian dan berpagar. “Kalau untuk jalan tambang saya tidak setuju. Tapi kalau untuk mengantar hasil tanaman atau yang lain, boleh saja,” katanya. Tak lama kemudian, truk yang mengangkut pasir dan batu dari sungai terdekat kembali melintas di atas tanah miliknya. En geram. Namun sendirian saat itu, dia hanya bisa menahan kesal. Satu dari sekitar 14 rumah di pinggir sungai yang khawatir terdampak aktivitas tambang. Foto: Jaka Hendra Baittri/Mongabay Indonesia. Rita, ibu rumah tangga di Kasang juga menolak. Bersama 14 keluarga yang tinggal di sekitar Sungai Batang Kasang, dia menolak rencana tambang batu andesit tak jauh dari sungai itu. Apalagi, November lalu, terjadi di area bukit menuju hulu sungai. Saat mengetahui alat-alat berat perusahaan, Rita menyampaikan penolakan itu kepada tokoh adat. Usaha itu tak buahkan hasil. Warga, katanya, pasti akan menjadi pihak pertama yang paling terdampak jika tambang lanjut. “Kami…This article was originally published on Mongabay
Trauma Bencana, Warga Tolak Tambang Andesit di Sumbar
Trauma Bencana, Warga Tolak Tambang Andesit di Sumbar





Comments are closed.