Kasus penyerahan kucing kuwuk dari warga ke BBKSDA Jawa Timur, menunjukkan peningkatan dua tahun terakhir. Deviana Prasindy, Dokter Hewan Ahli Pertama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur, menjelaskan sepanjang 2024 pihaknya menerima 5 individu kucing kuwuk. Namun, pada 2025 angka tersebut meningkat menjadi 17 individu. “Sekitar 70 persen yang kami terima berupa anakan,” jelasnya, awal Februari 2026. Lonjakan hampir tiga kali lipat ini jadi alarm tersendiri. Walau terdengar kecil dibandingkan satwa liar lain, namun bagi spesies karnivora kecil seperti kucing kuwuk, kondisi ini cukup signifikan untuk menunjukkan perubahan di lapangan. Dikenal dengan nama ilmiah Prionailurus bengalensis, kucing kuwuk merupakan kucing liar yang persebaranya cukup luas di Asia, termasuk Indonesia. Jenis yang disebut juga macan akar ini, menempati habitat pinggiran hutan hingga areal perkebunan yang berbatasan dengan permukiman. Secara ekologis, kucing kuwuk punya daya adaptasi cukup baik. Kucing kuwuk ini hasil penyelamatan yang kemudian diserahkan ke BBKSDA Jawa Timur. Foto: Dok. Lembaga Edukasi Cakra Anakan tanpa induk Deviana menyebut, pada 2025, selain mayoritas kasus penyerahan anakan tanpa induk, ada juga hasil penegakan hukum Polda Jawa Timur. Polanya relatif seragam. Warga menemukan seekor atau beberapa anak kucing liar berdiam diri di kebun, pekarangan, atau semak-semak dekat rumah. Induknya tak terlihat. Setelah ditunggu cukup lama tanpa tanda-tanda kehadiran sang induk, warga kemudian melapor dan menyerahkannya ke petugas. Menurut dia, perilaku ini sebenarnya bagian dari siklus alami kucing kuwuk. Induk biasanya membuat sarang di lokasi yang dianggapnya aman, lalu meninggalkan anaknya sementara waktu untuk cari makan. “Seringkali masyarakat mengira anakan itu…This article was originally published on Mongabay
Kasus Penyerahan Kucing Kuwuk di Jawa Timur Meningkat
Kasus Penyerahan Kucing Kuwuk di Jawa Timur Meningkat





Comments are closed.