Mon,27 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Ketika Ketaatan Istri Dipahami Secara Sepihak

Ketika Ketaatan Istri Dipahami Secara Sepihak

ketika-ketaatan-istri-dipahami-secara-sepihak
Ketika Ketaatan Istri Dipahami Secara Sepihak
service

Mubadalah.id – Dalam perdebatan mengenai relasi suami istri dalam perkawinan, salah satu cara berpikir yang masih banyak ditemukan di masyarakat adalah logika ketaatan sepihak. Pandangan ini menempatkan suami sebagai pihak yang memiliki otoritas utama dalam rumah tangga.

Cara berpikir tersebut berangkat dari anggapan bahwa laki-laki dianggap lebih rasional, lebih dewasa, dan lebih mampu mengambil keputusan. Berdasarkan asumsi itu, suami kemudian menjadi pemimpin keluarga yang memiliki tanggung jawab utama dalam menentukan arah kehidupan rumah tangga.

Dalam pandangan tersebut, ketaatan istri ia pahami sebagai kewajiban yang harus ia jalankan tanpa banyak pertanyaan. Ketika suami memberikan perintah atau mengambil keputusan, istri harus mengikuti keputusan tersebut sebagai bentuk kepatuhan terhadap kepemimpinan suami.

Pandangan ini sering muncul dalam berbagai diskusi mengenai keluarga dan perkawinan, terutama dalam masyarakat yang masih mempertahankan struktur relasi yang hierarkis antara laki-laki dan perempuan.

Namun, pendekatan tersebut juga memunculkan sejumlah kritik. Sebagian kalangan menilai bahwa pemahaman ketaatan yang bersifat mutlak dapat menutup kemungkinan adanya kesalahan dalam keputusan suami.

Dalam praktik kehidupan sehari-hari, suami sebagai manusia juga dapat mengalami kelelahan, kekeliruan, atau mengambil keputusan yang kurang tepat. Ketika konsep ketaatan ia pahami secara mutlak, ruang dialog dalam rumah tangga dapat menjadi terbatas.

Selain itu, pendekatan yang terlalu menekankan ketaatan sepihak juga berpotensi menciptakan ketimpangan dalam relasi keluarga. Dalam kondisi tertentu, ketaatan dapat berubah menjadi alat legitimasi bagi dominasi salah satu pihak dalam hubungan rumah tangga.

Perdebatan mengenai logika ketaatan sepihak tersebut terus berkembang seiring meningkatnya kesadaran masyarakat mengenai pentingnya keadilan dan komunikasi dalam relasi keluarga. []

*)Sumber Tulisan: Tiga Logika Ketaatan Istri pada Suami

Redaksi

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.