Mon,27 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Refleksi Tradisi Lebaran Idulfitri

Refleksi Tradisi Lebaran Idulfitri

refleksi-tradisi-lebaran-idulfitri
Refleksi Tradisi Lebaran Idulfitri
service

Mubadalah.id – Kita baru saja merayakan tradisi ketupat, di mana ini adalah fenomena budaya dan religius yang sangat lekat dengan masyarakat Muslim di Asia Tenggara, khususnya di Indonesia. Tradisi lebaran ini biasanya menjadi simbol utama perayaan Hari Raya Idulfitri.

Secara historis, terkenal mulai masa Sunan Kalijaga, salah satu tokoh Wali Songo, yang menyebarkan Islam di Jawa. Beliau menggunakan ketupat sebagai sarana dakwah untuk mendekatkan ajaran Islam dengan budaya lokal masyarakat agraris yang saat itu sudah akrab dengan anyaman janur.

Makna filosofis, yaitu Ngaku Lepat: Artinya “mengakui kesalahan”. Sejalan dengan tradisi sungkeman atau saling memaafkan. Laku Papat: Artinya “empat tindakan”. Lebaran  yaitu pintu ampunan terbuka lebar. Luberan yaitu melimpah, simbol sedekah bagi yang tidak mampu. Leburan  yaitu dosa dan kesalahan yang lebur atau habis. Laburan yaitu berasal dari kata kapur atau putih, simbol kembali suci kembali ke fitrah.

Ketupat dalam Simbolisme Anyaman

Anyaman janur yang rumit dan saling tumpang tindih melambangkan kerumitan kesalahan manusia. Namun, ketika anyaman itu terbuka, isinya adalah nasi putih bersih, yang melambangkan kesucian hati setelah memohon ampunan dari dosa.

Perayaan ini dilakukan satu minggu setelah 1 Syawal, biasanya 8 Syawal, tepat setelah menyelesaikan puasa sunah Syawal selama enam hari. Pada hari tersebut, masyarakat memasak ketupat dalam jumlah besar untuk berbagi kepada tetangga dan kerabat.

Ketupat dibuat dari beras yang terisikan ke dalam anyaman daun kelapa muda bernama janur berbentuk jajaran genjang atau persegi, lalu direbus dalam waktu lama. Biasanya tersaji dengan makanan lainnya sebgaai pendamping.

Tradisi Petasan yang Mematikan

Tradisi mercon  atau petasan dan balon udara tradisional merupakan bagian dari kemeriahan Hari Raya Idulfitri di Indonesia. Kedua tradisi ini memiliki akar budaya yang kuat namun saat ini menghadapi tantangan besar terkait regulasi keamanan.

Petasan merupakan simbol “kemenangan” dan kegembiraan setelah sebulan penuh berpuasa. Tradisi ini dulunya adalah budaya Tionghoa yang masuk ke Nusantara. Suara dentuman petasan atau mercon adalah cara untuk menyemarakkan suasana hari kemenangan.

Petasan atau mercon menyala tepat setelah kumandang takbir malam takbiran, setelah salat Idulfitri, atau selama seminggu pertama bulan Syawal. Meskipun berbahaya, menyalakan petasan adalah cara untuk menarik perhatian dan menciptakan suasana “ramai” dalam perayaan komunal di desa-desa.

Tradisi Balon Udara Tradisional

Tradisi balon udara populer di wilayah Jawa. Simbol pelepasan, pada saat menerbangkan balon udara raksasa yang terbuat dari kertas minyak melambangkan pelepasan rasa syukur dan doa-doa ke langit. Pembuatan balon ini melibatkan pemuda-pemuda desa yang bekerja bakti selama berminggu-minggu sebelum Lebaran. Sebuah ajang gotong royong mempererat silaturahmi antar warga.

Balon udara sering bersamaan dengan rentetan petasan yang akan meledak saat balon sudah mencapai ketinggian tertentu di udara. Larangan pembuatan dan penggunaan petasan atau mercon berdaya ledak tinggi melalui Undang-Undang Darurat No. 12 Tahun 1951.

Pemerintah sudah memberikan alternatif modern berupa festival balon yang tertambat dengan tali. Untuk melestarikan budaya tanpa membahayakan keselamatan, daerah seperti Pekalongan dan Wonosobo kini rutin mengadakan festival balon udara tambat. Balon-balon dengan motif batik dan warna-warni yang indah tetap bisa menjadi hiburan sebagai atraksi wisata lokal.

Rentetan Berita Musibah di Hari Raya 2026

Momen Idulfitri 2026 kembali memberitakan sejumlah insiden tragis akibat petasan di berbagai daerah. Berdasarkan laporan terbaru hingga akhir Maret 2026, berikut adalah beberapa kejadian menonjol yang berujung petaka pada 24 Maret 2026. Seorang bocah berusia 10 tahun berinisial MA, warga Desa Ketringan, Kecamatan Jiken, Blora, meninggal dunia setelah menyalakan petasan jumbo.

Korban menemukan petasan berdiameter 10 cm di sebuah selokan. Saat dinyalakan di halaman rumah, petasan tersebut meledak dengan daya ledak tinggi. Korban meninggal akibat kerusakan organ dalam dan luka bakar serius. Dua temannya yang berada di lokasi juga mengalami luka-luka di bagian kaki.

Ledakan terjadi pula di Pekalongan  pada 21 Maret 2026. Insiden besar terjadi di Kelurahan Noyontaansari, Pekalongan, saat sekelompok remaja merakit petasan jumbo untuk persiapan Lebaran. Sebanyak 9 orang terluka, dengan 4 di antaranya mengalami luka parah dan harus dilarikan ke rumah sakit. Selain korban jiwa, ledakan tersebut menyebabkan kerusakan fisik pada rumah yang digunakan sebagai tempat meracik.

Petasan Balon Udara di Semarang  pada 21 Maret 2026, meledak di atas atap rumah warga di Kecamatan Tembalang, Semarang. Meskipun tidak ada korban jiwa karena pemilik rumah sedang mudik, ledakan tersebut menghancurkan atap genteng dan plafon rumah. Polisi mengamankan sisa bahan peledak seberat 0,5 kg dari lokasi.

Terjadi pula luka bakar di Kediri dan Grobogan pada Maret 2026. Tiga pemuda mengalami luka bakar parah saat merakit petasan di kebun bambu. Salah satu korban terlaporkan mengalami cedera berat pada jari tangan. Seorang pemuda berusia 19 tahun terkena ledakan saat mengisi bubuk petasan ke dalam cetakan dengan cara dipukul. Korban mengalami luka bakar dan patah tulang lengan.

Terjadi pula insiden di Festival Perahu Beganduang, Kuansing pada 26 Maret 2026. Tiga pelajar terluka akibat ledakan petasan jumbo saat acara adat Perahu Beganduang di Kuantan Singingi. Salah satu korban kehilangan empat jari tangan kanannya akibat ledakan tersebut.

Hukum Merawat Tradisi dalam Islam

Dalam ushul fikih dan kaidah fikih, prinsip untuk merawat hal baik dan mengambil hal baru yang lebih baik sering kali dirangkum dalam sebuah kaidah yang sangat populer di kalangan pesantren dan akademisi:

المُحَافَظَةُ عَلَى القَدِيمِ الصَّالِحِ وَالأَخْذُ بِالجَدِيدِ الأَصْلَحِ

“Al-muhafazhatu ‘alal qadimish shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah.”

Artinya: “Memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik.”

Kaidah ini merupakan ruh dari moderasi Islam (tawasuth), yang memungkinkan agama tetap relevan dengan perubahan zaman tanpa kehilangan jati dirinya. Merawat tradisi kuliner ketupat misalnya.

Konsep ini bersandar pada beberapa pilar berikut: Al-‘Adah al-Muhakkamah (Adat sebagai Pertimbangan Hukum),  yaitu kaidah: العادة محكمة (Al-‘Adatu Muhakkamah)

Artinya: “Adat istiadat dapat ditetapkan sebagai hukum”. Relevansinya adalah suatu tradisi mengandung kebaikan dan tidak bertentangan dengan syariat, maka tradisi tersebut harus kita jaga.

Kedua adalah Al-Maslahah al-Mursalah. Prinsip ini menekankan pada penetapan hukum berdasarkan kemaslahatan yang tidak ada dalil spesifik yang melarang maupun memerintahkannya.

Adapun menghilangkan tradisi petasan dengan berpedoman pada kaidah Sadd adz-Dzari’ah  atau menutup jalan kerusakan), dan kaidah: درء المفاسد مقدم على جلب المصالح. Yaitu mencegah kerusakan lebih kita utamakan daripada mengambil kemaslahatan. Dalam konteks petasan atau balon udara meskipun ada unsur hiburan, namun karena dampak kerusakannya jauh lebih besar yaitu mengancam nyawa dan harta, maka tradisi tersebut wajib terhapus.

Apakah tradisi Petasan dan balon udara akan terus kita rawat sementara selalu saja setiap tahunnya muncul berita musibah akibat ledakan petasan. Mengapa kita tidak merawat tradisi lebaran yang aman dan menyenangkan bukan yang mengancam nyawa. []

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.