Mubadalah.id – Bulan Syawal selain identik akan hari kemenangan ia memiliki keistimewaan lain. Masyarakat kerap menyebutnya bulan musim pernikahan. Jika sebagian dari kita justru menghindari bulan tertentu untuk menikah, Syawal justru terpilih menjadi waktu cocok dan pas. Banyak masyarakat muslim sengaja memilih ini bulan sebagai penanda ikatan suci mereka.
Belum genap sepekan setelah Idulfitri, lima undangan pernikahan sudah saya terima dalam bentuk fisik maupun daring. Undangan datang dari kawan dari pelbagai latar belakang: teman pesantren, kawan sekolah, dan karib semasa kuliah. Musabab termasuk salah satu hak muslim atas muslim lainnya, mayoritas undangan tadi bisa saya hadiri, tapi sisanya tidak karena alasan jarak dan waktu.
Saya tentu menyambutnya dengan turut senang dan bahagia. Bagaimana pun, pernikahan adalah penantian dari perjalanan-perjalanan mereka sebelumnya. Usaha mewujudkan jalan panjang kebahagiaan setelahnya sampai kelak. Kita bisa membaca penjelasan UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan nomor 4 huruf a bahwa tujuan perkawinan adalah membentuk keluarga yang bahagia dan kekal.
Dalam pada itu, apa yang kawan-kawan saya niatkan dalam agenda perkawinan nanti semata ikhtiar menuju tampuk kebahagiaan. Baru kemudian tersusul dengan pelbagai tujuan turunannya, semisal mendapat keturunan yang baik dan sehat.
Kiat Perkawinan Bahagia
Konsep perkawinan bahagia mengingatkan saya pada sebuah tulisan panjang dalam majalah Femina edisi 21-27 Mei 1992. Dalam rubrik Anda & Suami, Srikandi Waluyo menulis esai berjudul “Berbahagiakah Perkawinan Anda?”. Judul esai sama sekali tak memberi informasi, malah berusaha bertanya kepada pembaca.
Waluyo berusaha mengupas pelbagai anotasi mendalam bagaimana sebuah perkawinan bahagia. Betapa pun banyak lontaran definisi perkawinan bahagia atau berjuta nasihat tertulis, pada hakikatnya kriteria perkawinan bahagia itu tidak mudah. Setiap orang memiliki persepsi berbeda terhadap suatu hal. Bahagia menurut Anda, belum tentu sama dengan ukuran mereka.
Namun, Waluyo mengutip omongan psikiater & penasihat perkawinan, dr. Handojo Susanto bawah bahagia itu tergantung dari target. Target dalam pernikahan sifatnya fluktuatif. Di awal menikah targetnya amat ideal. Setelah beberapa waktu, targetnya mulai “terasa” bakal tidak tercapai, istri-suami akhirnya berusaha menurunkan capaian itu. Umpamanya tiap bulan harus terkumpul sekian jumlah uang, turun jadi “yang penting asal ada uang dulu”.
Bukan. Menurunkan target bukan hal negatif. Justru mampu membaca kesadaran, kemampuan, dan harapan adalah sikap bijak. Ini berimbas pada penghindaraan terhadap pelbagai ekspektasi yang tak tercapai. Ukur target sesuai kadar kemampuan, itu kunci bahagia menurut dr. Handojo.
Upaya memanjangkan gagasan perkawinan bahagia ini, Waluyo dengan baik hati menyajikan sederet kiat-kiat. Namun, ia menafikan tolok ukur kiat ini bila berlaku/bersesuaian dengan satu pasangan, belum tentu cocok dengan pasangan lainnya. Dalam arti ini bersifat amat subjektif, jauh dari kebakuan.
Tolok Ukur Subjektif
Kiat-kiat itu terdiri: pertama, keuangan. Hal umum dalam sebuah hubungan suami-istri membicarakan keterbukaan keuangan. Pasal 35 UU Perkawinan menjelaskan, harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama. Biasanya pembagian tugas terjadi; suami bekerja, sementara istri berperan menjadi ibu rumah tangga (atas kehendaknya).
Ada juga preseden keduanya sama-sama bekerja, sehingga masing-masing memiliki penghasilan. Penghasilan keduanya otomatis menjadi harta bersama. Apapun motif dan sumbernya keuangan keluarga sebaiknya teralokasikan dengan bijak; memenuhi segala kebutuhan keluarga.
Kedua, kepuasan seks. Ada rumus umum: sepanjang kehidupan seksual suatu pasangan masih memuaskan kedua pihak, dan masing-masing saling membutuhkan, maka kebahagiaan perkawinan bisa bertahan. Sudah jamak bahwa seks merupakan faktor penting (walau bukan terpenting) dalam mendasari kebahagiaan perkawinan.
Perkawinan yang baik, menurut dr. Handojo, terdasari atas kualitas persahabatan, saling menghormati, dan kesepakatan. Oleh karenanya, bisa mungkin, hubungan suami-istri yang baik akan mendorong kualitas seks mereka. Lain hal umpama salah satunya sudah tidak butuh, tidak puas, atau tidak sepakat, ini bisa menjadi “lampu merah” persoalan perkawinan mereka.
Ketiga, kebersamaan. Keluarga merupakan unit sosial terkecil. Di dalamnya memuat unsur-unsur antaranggotanya. Bagaimanapun keluarga mesti tergambarkan dengan domain kebersamaan. Dan, masih ada banyak kiat-kiat lain yang Waluyo dedahkan yakni: menyoal hobi; hukuman; konsisten dan konsekuen; membandingkan pasangan; berbagi angan-angan; tidak mendendam; harapan; dan saling mendukung.
Dari banyaknya kiat-kiat tersebut tidak sepenuhnya “menjamin” tolok ukur sebuah perkawinan bahagia atau tidak. Kiat-kiat itu merupakan hasil sublimasi pengalaman Waluyo mengkaji bidang ini, pun berdasar tambahan pendapat-pendapat dr. Handojo. Boleh jadi, setiap pasangan memiliki kiat tersendiri yang khas dalam mengejar konsep kebahagiaan dalam perkawinannya. Itu boleh, dan tak jadi soal.
Hal itu bisa kita lihat dari kisah unik keluarga Kliwon (50) dan Bungkik (45). Kisah ini tertuang di majalah Kartini edisi 15-29 Mei 2014. Kliwon hanya memiliki tinggi tubuh 30 cm, tapi Bungkik tidak melihat itu sebagai kekurangan. Sang istri mengatakan: “Meski tubuhnya tidak seperti kebanyakan orang, tapi dia mampu menjalankan kewajibannya sebagai suami.”
Kebahagiaan Sederhana
Ada kesahajaan dan menghargai yang Bungkik alamatkan pada Kliwon. Baginya, kebahagiaan perkawinan tidak melulu menyoal fisik. Tunaian Kliwon sebagai suami ia kerjakan sebagaimana mestinya. “Kewajiban” termaksud bukan saja tentang hal zahir, tapi batin juga. Kita bisa menarik ibrah dari perkawinan Kliwon dan Bungkik yang terbilang tidak biasa. Resep bahagia perkawinan mereka melingkupi beberapa kiat sebagaimana Waluyo tawarkan.
Bagi kawan-kawan saya yang memberi undangan di atas, bangun kebahagiaan perkawinan dengan versi terbaik kalian. Tempuh tujuan ikatan suci itu dengan bumbu kesalingan, keterbukaan, dan beragam kiat lainnya. Ejawantahkan, bahwa pernikahan yang disiapkan dengan matang (dari pelbagai sisi) menghasilkan muara kemanfaatan-kebahagiaan bagi pasangan (khususnya), pun bagi keluarga besar (umumnya).
Walhasil, pernikahan yang kalian titi dan tenun akan kembali mewujud bumerang baik. Hindari lelaku egoisme keliru yang membikin percikan persoalan terjadi. Walau bagaimana pun, pernikahan, sebisa mungkin, harus bahagia. Memangnya ada pernikahan yang tidak bahagia? Banyak. Memangnya di dunia ini ada hal yang tidak paradoks? []





Comments are closed.