Mubadalah.id – Istilah difabel, cacat bukan hanya sekedar kata dan istilah, akan tetapi mencerminkan nilai dan pandangan masyarakat. Bahasa merupakan alat komunikasi untuk bisa berdialetika antara satu subjek dengan subjek yang lain. Sebab bahasa mempunyai kekuatan yang besar untuk mempengaruhi manusia, membentuk pola pikir (mindset), perilaku, cara pandang serta interaksi sosial.
Bahkan struktur bahasa bisa mempengaruhi proses mental untuk memperoleh pengetahuan, pemahaman mengingat, merasakan, merencanakan, dan memecah masalah. Pemilihan diksi kata dapat memicu emosi, imajinasi dan tindakan seseorang.
Difabel bukan hanya sekedar kata, akan tetapi mencerminkan nilai dan pandangan masyarakat. Pilihan kata dapat menghadirkan rasa hormat, tetapi juga bisa melukai tanpa kita sadari.
Di dalam kehidupan sehari-hari, masing sangat sering kita mendengar istilah cacat untuk menyebut sesorang yang memiliki keterbatasan akan fisik ataupun mental. Kata cacat memiliki citra yang kurang baik.
Kata Cacat di Masyarakat
Pada masyarakat, kata cacat sering dipahami sebagai sesuatu yang rusak, tidak sempurna, atau tidak normal. Tanpa masyarakat sadari, penggunaan istilah tersebut mengandung konotasi negatif serta berpotensi membuat sesorang merasa direndahkan, dipandang berbeda serta bisa mereduksi martabat individu yang bersangkutan.
Namun berbeda dengan istilah difabel, ia berasal dari kata different ability yang berarti kemampuan yang berbeda atau dalam frasa bahasa Inggris “differently abled people” yang berarti orang dengan kemampuan berbeda.
Banyak istilah yang merujuk pada sesorang yang memiliki keterbatasan tertentu seperti kata disabilitas (disability) yang artinya ketidakmampuan atau keterbatasan fungsi tertentu, baik fisik, intelektual, mental, maupun sensorik. Dengan demikian, keduanya sama-sama merujuk pada individu yang memiliki keterbatasan.
Diksi kata Difabel mempunyai penekanan bahwa setiap individu atau sesorang memiliki kemampuan, hanya saja bentuk kemampuannya tidak selalu sama dengan orang lain. Kata Difabel tidak mamandang seseorang sebagai orang yang “kurang”, namun sebagai individu yang mempunyai cara yang berbeda dalam menjalani kehidupan. Hal tersebut punya letak yang berbeda dari aspek kemanusianya.
Penggunaan kata istilah difabel membantu mengubah cara berpikir (mindset) masyarakat. Jika kita menyebut seseorang sebagai “cacat”, fokus kita sering tertuju pada kekurangannya.
Namun, ketika kita menyebut “difabel”, perhatian kita lebih tertuju pada potensi dan kemampuannya. Perubahan sudut pandang ini sangat penting, karena dukungan sosial sering lahir dari cara kita melihat orang lain.
Lebih Membangun Rasa Percaya diri dan Empati
Selain itu juga, istilah tersebut lebih manusiawi dan dapat membantu membangun rasa percaya diri. Para penyandang disabilitas atau difabel tidak ingin mendapat belas kasihan, namun mereka ingin kita hargai, dan lihat sebagai manusia yang utuh, bukan sebagai kekurangan yang menempel pada diri mereka.
Istilah kata difabel (disabilitas) sudah banyak yang menerima terutama pada Undang-undang No.8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Hal tersebut menunjukan bahwa pemerintah pun mulai sadar akan pentingnya kata, bahasa, istilah yang lebih menghormati manusia. Perubahan kata bukan sekedar tren namun merupakan bagian untuk membangun keadilan sosial.
Masyarakat perlu memahami bahwa mengganti istilah tidaklah cukup. Perubahan istilah harus terikuti oleh perubahan sikap. Percuma saja menggunakan kata difabel, disabilitas, jika masih ada diskriminasi terhadap pendidikan, pelayanan, serta pekerjaan. Bahasa merupakan langkah awal, tetapi tindakan nyata adalah tujuan.
Pada akhirnya, memilih istilah difabel dibandingkan cacat bukan soal benar atau salah secara bahasa. Hal tersebut adalah soal rasa hormat dan empati. Kita diajak untuk melihat manusia sebagai manusia, bukan sebagai kekurangannya. Setiap orang memiliki kelebihan dan keterbatasan masing-masing. Tidak ada manusia yang benar-benar sempurna.
Karena itu, mari mulai dari hal sederhana yaitu memilih kata yang lebih baik. Dengan bahasa yang lebih manusiawi, kita ikut membangun masyarakat yang lebih adil, lebih terbuka, dan lebih menghargai perbedaan. Sebab perubahan besar sering kali bisa kita mulai dari kata-kata kecil. All big things come from small beginnings (James Clear, Atomic Habits). []
*)Artikel ini merupakan hasil dari Mubadalah goes to Community Purwokerto, kerjasama Media Mubadalah dengan LP2M Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto.





Comments are closed.