Dari hanya enam ekor liar pada 2001, jalak bali kini perlahan pulih — setelah gagal lewat pendekatan konservasi top-down, burung endemik Bali ini kembali berbiak berkat keterlibatan masyarakat dan perlindungan berbasis adat. Awig-awig adat terbukti lebih efektif dari hukum formal. Di Nusa Penida, aturan adat mampu menekan perburuan hingga 1.200% lebih efektif dibanding hukum pidana, menjadikan pulau di selatan Bali ini pusat kebangkitan populasi jalak bali. Para mantan pemburu kini beralih profesi menjadi pemandu ekowisata dan penjaga habitat, menunjukkan bahwa konservasi bisa berjalan beriringan dengan peningkatan ekonomi masyarakat. Sejumlah desa di Bali Daratan pun kini mulai mengadopsi jalak bali sebagai simbol budaya dan peluang ekonomi, misalnya “Kampung Jalak Bali” di Tengkudak hingga “Segitiga Emas” di Bongan yang memadukan konservasi, budaya, dan pendidikan. Dua orang pemuda turun dari sepeda motornya di sebuah kebun kelapa yang berada di Pulau Nusa Penida, Bali. Mereka memilah-milah daun kelapa yang gugur, lalu beralih mengamati tajuk pohon. Mereka kemudian menunggu dalam keheningan. Jelang hampir 20 menit berselang, tampak kilatan putih dari sebuah lubang di tajuk kelapa. Seekor curik atau jalak bali (Leucopsar Rothschildi) menjulurkan kepalanya dari rongga pohon dan melesat sebelum ia hinggap di dahan terdekat. Beberapa saat kemudian, pasangannya menyusul. Mereka bergantian merawat sarang dan mencari makan. Sarang lubang alami ini terletak di samping kotak sarang buatan yang menjadi sarang kedua yang pernah tercatat di Nusa Penida. Jalak bali sendiri, adalah salah satu burung paling langka di dunia, dan merupakan endemik di Pulau Bali. Dalam sebuah masa, spesies burung ini pernah hanya tinggal…This article was originally published on Mongabay
Awig-Awig dan Jalak Bali: Saat Aturan Adat Lebih Efektif Lindungi Spesies Endemik dari Kepunahan
Awig-Awig dan Jalak Bali: Saat Aturan Adat Lebih Efektif Lindungi Spesies Endemik dari Kepunahan





Comments are closed.