Thu,30 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Health
  3. Tips Mengatur Keuangan Pascalebaran

Tips Mengatur Keuangan Pascalebaran

tips-mengatur-keuangan-pascalebaran
Tips Mengatur Keuangan Pascalebaran
service

Menjelang lebaran, masyarakat umumnya kerap menunjukkan pola konsumtif yang tergolong tinggi. Alhasil, terdapat lonjakan pengeluaran keuangan karena adanya kebiasaan rutin di hari raya seperti menyiapkan biaya kebutuhan mudik hingga pemberian hadiah parsel ke sanak keluarga.
Bahkan pola pengeluaran yang cukup besar berlanjut hingga pascalebaran. Ketidakseimbangan tersebut patut diwaspadai. Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk lebih memperhatikan pengeluaran meski euforia perayaan momen lebaran masih berlangsung.

Ekonom Universitas Gadjah Mada, Eddy Junarsin, mengatakan pola konsumsi yang cenderung tinggi karena dipengaruhi euforia momen lebaran. Menurutnya, pola konsumsi pascalebaran secara psikologis sangat mungkin terjadi karena individu cenderung melanjutkan kebiasaan belanja dalam suasana festive atau kegembiraan.

“Sehingga pengeluaran secara tidak tersadari mungkin akan di atas normal,” ujarnya Selasa, 7 April 2026 dalam laman UGM.

Untuk mencegah pemborosan, setiap individu perlu memiliki semacam alarm “awaken” atau kesadaran. Hal ini berkaitan untuk menandai bahwa masa perayaan telah berakhir. Berangkat dari fenomena itu, pengelolaan keuangan perlu kembali dilakukan secara tertib dan strategis.

Ia juga mengungkapkan berbagai riset menunjukkan rasio ideal tabungan atau investasi berada pada kisaran 10–20 persen dari pendapatan bersih (take-home pay). Sementara itu, rasio cicilan utang (debt service ratio), kecuali cicilan KPR, sebaiknya tidak melebihi 35 persen dari pendapatan.

“Debt service ratio adalah rasio pembayaran cicilan terhadap take-home pay,” jelasnya.

Lebih lanjut, Eddy mendorong masyarakat, khususnya mahasiswa, untuk mulai memahami dan mempraktikkan investasi sejak dini. Hal ini dapat dilakukan melalui kelas-kelas di bidang manajemen keuangan dan teori portofolio, serta dengan memanfaatkan platform investasi yang tersedia. Dalam praktiknya, analisis investasi dapat dilakukan melalui pendekatan analisis fundamental maupun teknikal.

Selain itu, ia menyebutkan pentingnya peran asuransi sebagai instrumen perlindungan finansial. Menurutnya, asuransi kesehatan, kendaraan, maupun jenis lainnya berfungsi sebagai mekanisme manajemen risiko melalui risk sharing.

Oleh karenanya, ketika terjadi peristiwa tidak terduga, beban finansial dapat diminimalkan karena sebagian besar risiko ditanggung oleh pihak asuransi. “Jika ada peristiwa risiko, seseorang ditanggung hingga persentase tertentu, misalnya sampai 80 persen. Jadi, ini merupakan suatu praktik yang lumrah dan penting,” ungkapnya.

Eddy mengingatkan perihal kondisi global yang penuh ketidakpastian atau sering disebut sebagai VUCA (volatile, uncertain, complex, ambiguous). Masyarakat perlu lebih bijak dan strategis dalam mengelola keuangan, baik secara pribadi maupun dalam usaha. Ia menekankan pentingnya menjaga agar pengeluaran tidak melebihi pendapatan, kecuali untuk kebutuhan investasi.

Selain itu, ia menyarankan agar pola investasi saat ini tidak mesti berorientasi terlalu jangka panjang karena perubahan iklim dan instrumen investasi yang sangat cepat. Eddy justru menyarankan pada fokus kebutuhan yang bersifat vital dan taktis. “Pupuk persatuan di dalam komunitas, kurangi perdebatan atau konflik yang tidak konstruktif,” katanya.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.