Tuberkulosis (TB atau TBC) masih menjadi salah satu persoalan kesehatan masyarakat terbesar di Indonesia. Data Kementerian Kesehatan RI menunjukkan kasus TBC diestimasikan mencapai 1.060.000 kasus per tahun.
Dengan jumlah kasus yang makin marak dan meningkat, Indonesia menempati peringkat kedua sebagai negara dengan jumlah kasus TBC terbanyak di dunia setelah India. Meski berbagai upaya telah dilakukan, angka kasus TBC yang diperkirakan masih tinggi dan belum sepenuhnya terdeteksi menunjukkan kondisi ini memerlukan penanganan yang tidak hanya dengan intervensi medis. Tapi juga pendekatan sosial, edukatif, dan struktural yang lebih luas.
Dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM), Rina Triasih, menyoroti masih lebarnya kesenjangan antara estimasi jumlah kasus TBC dengan kasus yang berhasil ditemukan di Indonesia. Ia menjelaskan kondisi ini menjadi indikator utama upaya deteksi kasus belum optimal.
“Sehingga banyak pasien yang masih berada di luar sistem layanan kesehatan dan berpotensi terus menularkan penyakit di lingkungan sekitarnya,” katanya dalam keterangan ke Prohealth Selasa, 7 April 2026.
Menurutnya, estimasi kasus TBC di Indonesia mencapai sekitar satu juta kasus. Namun hingga saat ini baru sekitar beberapa ratus ribu kasus yang teridentifikasi dan tercatat secara medis.
Ia menegaskan selisih angka ini bukan sekadar persoalan data. Bagi dia, ini mencerminkan adanya hambatan nyata di lapangan. Seperti rendahnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri sejak muncul gejala awal, keterbatasan akses terhadap fasilitas kesehatan, hingga kurangnya literasi masyarakat dalam mengenali tanda-tanda TBC.
“Prediksinya mencapai 1 juta, tetapi yang sudah pasti diprediksi oleh dokter-dokter hanya mencapai beberapa ratus ribu, tetapi masih banyak sekali pasien di luar sana yang TBC dan belum ditemukan atau diobati oleh pihak dokter,” katanya.
Rina menjelaskan pasien yang belum terdiagnosis berpotensi besar menjadi sumber penularan baru. Hal ini menyebabkan jumlah kasus terus meningkat, terutama setelah pandemi COVID-19. Peningkatan ini, menurutnya, dapat disebabkan oleh dua hal, yakni bertambahnya jumlah kasus atau meningkatnya efektivitas pemerintah dalam menemukan kasus tersembunyi.
“Waktu COVID, jumlah kasus TBC yang ditemukan itu tidak banyak, tetapi pasca COVID itu justru meningkat,” ujarnya.
Sebagai bagian dari Pusat Kedokteran Tropis UGM, Rina turut terlibat dalam pengembangan strategi Active Case Finding (ACF). Yakni metode penemuan kasus secara aktif di masyarakat. Program ini, yang diinisiasi oleh Zero TB Yogyakarta sejak 2020 di bawah naungan UGM.
Pogram ini dilakukan dengan mendatangi langsung masyarakat menggunakan fasilitas X-Ray keliling untuk mendeteksi TBC, baik pada individu bergejala maupun tidak. “Kami menjemput pasiennya dan bukan menunggu pasiennya ke rumah sakit atau puskesmas,” jelas Rina.
Ia menambahkan metode ini terbukti efektif dalam menemukan kasus-kasus yang sebelumnya tidak terdeteksi. Seiring waktu, program ini juga mulai mendapat dukungan dari pemerintah melalui penyediaan alat dan fasilitas yang lebih memadai.
Tantangan besar juga muncul dari kasus TBC resisten obat. Rina menjelaskan kondisi ini terjadi akibat pengobatan yang tidak tuntas, sehingga kuman mengalami mutasi. Dengan demikian, TBC jenis ini membutuhkan pengobatan yang lebih kompleks, dengan durasi lebih panjang dan jumlah obat yang lebih banyak.
“Biasanya memang dua bulan itu sudah terlihat dan sudah merasa baikan. Nah, mungkin karena mereka sudah merasa sehat, mereka tidak melanjutkan pengobatan dan itu merupakan risiko untuk menjadi TBC resisten obat,” paparnya.
Ia menegaskan penanggulangan TBC tidak bisa hanya berfokus pada aspek medis. Faktor sosial seperti stigma, tingkat pendidikan, kondisi ekonomi, dan lingkungan tempat tinggal turut berperan besar dalam penyebaran penyakit ini.
“Misalnya pasien TBC pulang ke rumah dengan kondisi rumah yang kumuh dan sempit, otomatis orang-orang di dalamnya akan terkena juga dan kasus TBC tidak sembuh-sembuh,” jelasnya.
Untuk itu, Rina menekankan pentingnya pendekatan edukasi yang inovatif dan menyentuh langsung masyarakat. Ia menyarankan agar edukasi tidak hanya dilakukan melalui media konvensional seperti poster atau flyer. Tapi juga melalui pendekatan yang lebih interaktif, seperti menghadirkan penyintas TBC dalam talkshow atau kampanye berulang yang mudah diingat masyarakat.
Selain itu, Rina juga menggarisbawahi tantangan geografis Indonesia yang menyebabkan ketimpangan akses layanan kesehatan, terutama di luar Pulau Jawa. Kondisi ini menjadi hambatan dalam pemerataan deteksi dan pengobatan TBC di seluruh wilayah.
Sebagai langkah strategis, Rina merekomendasikan pendekatan komprehensif melalui tiga pilar utama, yakni Search, Treat, and Prevent. “Search mencari pasiennya dan mendeteksi mereka dengan cepat. Treat memberikan pengobatan yang adekuat sampai sembuh total. Prevent melakukan tindakan pencegahan dan edukasi,” katanya.
Ia optimistis dengan kolaborasi berbagai pihak dan pelaksanaan strategi ini secara masif, target eliminasi TBC pada tahun 2030 dapat tercapai.





Comments are closed.