Di tengah perubahan lanskap media yang kian cepat, jurnalisme Indonesia menghadapi berbagai tekanan, mulai dari disrupsi digital, model bisnis yang belum stabil, hingga meningkatnya risiko terhadap keselamatan jurnalis. Dalam situasi ini, kebutuhan akan ruang refleksi dan pertemuan lintas pelaku media menjadi semakin mendesak.
Pesta Media 2026 digelar pada 11–12 April di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta menghadirkannya sebagai upaya untuk menjawab kebutuhan itu. Acara ini dirancang tidak hanya sebagai perayaan, tapi juga sebagai ruang bertukar gagasan antara jurnalis, pegiat media, dan publik luas.
Ketua Panitia Pesta Media, Irsyan Hasyim, mengatakan Pesta Media dihadirkan sebagai ruang yang lebih terbuka dan reflektif di tengah situasi media yang kian menantang.
“Di tengah tekanan ekonomi dan politik yang semakin terasa dalam ekosistem pers, kami berharap Pesta Media bisa menjadi ruang bersama untuk merumuskan arah ke depan, mulai dari memperkuat kebebasan pers hingga mendorong kesejahteraan jurnalis,” ujar Irsyan pada Kamis, 9 April 2026.
Ketua AJI Jakarta ini menyatakan kegiatan ini menggandeng berbagai pihak mulai dari media, kampus, hingga organisasi masyarakat sipil. Sejumlah isu krusial direncanakan akan menjadi bagian dari rangkaian acara. Mulai dari krisis iklim, disinformasi digital, hingga kerentanan jurnalis dalam menjalankan kerja-kerja peliputan. Diskusi, pemutaran film, dan lokakarya akan menjadi medium untuk membuka percakapan lintas perspektif.
Selama dua hari pelaksanaan, Taman Ismail Marzuki akan diisi beragam aktivitas di berbagai ruang yang membahas isu-isu kunci seperti masa depan jurnalisme di era kecerdasan buatan, peliputan lingkungan, hingga pendekatan storytelling yang lebih empatik.
Berbagai sesi juga akan menyoroti tantangan jurnalisme hari ini, dari perspektif jurnalis perempuan hingga tekanan struktural seperti model bisnis media dan dinamika sosial-politik yang lebih luas, menjadikan Pesta Media sebagai ruang untuk melihat krisis media secara lebih utuh.
Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen Indonesia, Nany Afrida, menilai jurnalisme hari ini memang berada dalam tekanan yang kompleks dan berlapis. Ia menyebut, krisis ekonomi media telah melemahkan fondasi kerja jurnalistik, ditandai dengan menyusutnya ruang redaksi dan meningkatnya jumlah jurnalis yang kehilangan pekerjaan.
“Data AJI mencatat sekitar 1.000 jurnalis mengalami pemutusan hubungan kerja sejak 2024. Mereka yang masih bertahan pun sering kali harus bekerja dalam kondisi yang serba terbatas,” kata Nany kepada Prohealth.
Di sisi lain, ia menambahkan, intimidasi, kekerasan, dan kriminalisasi terhadap jurnalis masih terus terjadi, baik di ruang fisik maupun digital. Sepanjang 2025 saja, AJI mencatat sedikitnya 91 kasus kekerasan terhadap jurnalis.
“Situasi ini menciptakan lingkungan kerja yang tidak aman dan jauh dari prinsip kebebasan pers,” ujar Nany.
Foto: Nany Afrida, Ketua AJI Indonesia/Sumber: Istimewa
Menurutnya, tekanan itu juga berkelindan dengan menguatnya praktik sensor. Ketika kepentingan ekonomi, politik, dan keamanan saling bertemu, jurnalis kerap berada dalam posisi rentan untuk menahan atau mengubah liputan.
“Akibatnya, publik kehilangan akses pada informasi yang utuh dan kritis. Dalam jangka panjang, ini tidak hanya melemahkan fungsi kontrol media, tetapi juga merusak kualitas demokrasi,” katanya.
Selain itu, jurnalisme juga menghadapi krisis kepercayaan publik. Disinformasi yang masif, polarisasi politik, serta praktik jurnalisme yang tidak berintegritas membuat publik semakin sulit membedakan informasi yang dapat dipercaya.
“Ini menunjukkan krisis jurnalisme bukan sekadar soal berita, tetapi krisis struktural yang mencakup aspek ekonomi, regulasi, hingga perlindungan terhadap jurnalis,” ujar Nany.
Dalam konteks ini, ia menilai kehadiran ruang seperti Pesta Media menjadi penting, tidak hanya sebagai forum diskusi, tetapi juga sebagai ruang konsolidasi dan solidaritas.
“Melalui ruang seperti ini, jurnalis bisa memperkuat kapasitas, merawat nilai-nilai profesi, sekaligus membangun kembali kepercayaan publik. Jurnalisme yang merdeka dan berkualitas hanya bisa tumbuh dalam ekosistem yang sehat dan didukung bersama,” ungkapnya.
Pandangan serupa juga disampaikan Ketua Komisi Hukum dan Perundang-undangan Dewan Pers, Abdul Manan. Ia melihat maraknya tekanan dan campur tangan terhadap media tidak dapat dipisahkan dari kondisi yang lebih luas.
“Maraknya tekanan, meningkatnya kekerasan, dan praktik swasensor bukan peristiwa yang berdiri sendiri. Ini merupakan gejala dari menyempitnya ruang kebebasan sipil seiring terjadinya regresi demokrasi,” ujarnya pada Prohealth.
Eks Ketua Umum AJI Indonesia ini menilai kegiatan seperti Pesta Media memiliki peran yang lebih dari sekadar forum diskusi. “Kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang literasi dan peningkatan kapasitas, tetapi juga forum untuk memperkuat solidaritas dan membangun kesadaran bersama bahwa masa depan media dan pekerjanya merupakan tanggung jawab bersama,” kata Manan.
Jurnalis muda yang tinggal di Jakarta seperti Anggita Raisa juga merasakan langsung dampak perubahan di industri media. Ia berencana mengikuti Pesta Media untuk menilai situasi saat ini membuat generasi baru menghadapi tantangan yang tidak mudah.
“Sekarang sangat sulit untuk generasi kami masuk ke media, terutama media arus utama. PHK di industri media sedang tinggi, sementara kami sudah menyiapkan keterampilan yang dibutuhkan untuk era digital,” ujarnya pada Kamis, 9 April 2026.
Ia menambahkan, bahkan bagi jurnalis muda yang sudah bekerja, rasa tidak aman tetap ada. “Mereka yang sudah masuk redaksi pun sering merasa was-was, karena bisa saja sewaktu-waktu terkena dampak. Di lapangan, kami juga menghadapi risiko, termasuk ketika berhadapan dengan aparat,” kata Anggita.
Meski demikian, ia melihat masih ada peluang yang bisa dijajaki, terutama melalui kerja-kerja berbasis komunitas dan kolaborasi. Melalui Pesta Media, ia berharap dapat menemukan ruang untuk belajar sekaligus mencari kemungkinan baru.
“Saya berharap ada diskusi yang bisa menjawab krisis industri media saat ini, termasuk membuka peluang kolaborasi, terutama bagi jurnalis daerah, dan peluang pendanaan yang lebih luas,” ujarnya.
Selain diskusi, Pesta Media juga akan menghadirkan pendekatan yang lebih beragam dalam menyampaikan isu, termasuk melalui film, lokakarya, dan storytelling berbasis pengalaman komunitas. Upaya ini diharapkan dapat memperluas cara publik memahami isu-isu yang selama ini mungkin terasa jauh atau kompleks.
Sejumlah pertunjukan seni dan musik juga akan menjadi bagian dari rangkaian acara, termasuk penampilan The Jansen dan The Brandals yang populer di kalangan orang muda. Kehadiran elemen ini diharapkan dapat menghadirkan suasana yang lebih cair dan inklusif, sekaligus membuka ruang interaksi yang lebih luas antara jurnalis dan publik. Jika ingin mengikuti rangkaian acara, segera daftarkan dirimu melalui tautan registrasi di masing-masing sesi,





Comments are closed.