Di sepanjang masa kecil saya, saya selalu berpikir bahwa melahirkan adalah konsep yang mengerikan, karena seorang perempuan harus mempertaruhkan nyawanya.
Dalam pikiran saya saat itu, mengapa saya harus mengorbankan nyawa saya demi nyawa lain yang entah apa manfaatnya?
Yang paling mengherankan bagi saya adalah dalam tatanan masyarakat, ia menjadi kewajiban yang menjadikan perempuan tidak memiliki hak untuk memilih.
Saya bertanya-tanya, mengapa seorang perempuan harus menjadi seorang ibu terlebih dahulu untuk bisa dianggap sebagai perempuan sejati yang mulia? Menurut saya, itu adalah pola pikir yang aneh, karena bagi saya, kehormatan seseorang—apapun identitas mereka—ditentukan oleh caranya bersikap serta bagaimana ia memperlakukan dirinya sendiri dan orang lain.
Kini, saya penasaran, jika hari itu, saya membiarkan orang-orang dewasa mengetahui isi pikiran saya, apakah mereka akan menyebut saya sebagai anak yang pembangkang dan menasihati saya untuk berhenti berpikir ‘sesuatu yang salah’?
Ketika saya mulai memikirkan hal-hal semacam itu, saya belum mengenal konsep-konsep atau ideologi progresif seperti feminisme maupun childfree. Beranjak remaja, saya mulai mempelajarinya secara mandiri. Sayangnya, hal itu justru sempat membuat saya terjebak dalam kutub ekstrem yang membuat saya memandang sesuatu melalui perspektif yang ‘fanatik’.
Baca Juga: Kritis Kog Dilarang? Mengkritik MBG, Ketua BEM UGM Diteror, Diancam Diculik dan Dibunuh
Setelah masa-masa itu, saya menjauhi segala hal tentang feminisme, meskipun secara ideologis saya adalah seorang ‘feminis alami’.
Memasuki masa SMA, saya akhirnya memahami, bahwa feminisme sejati pada dasarnya bukanlah tentang menjadi perempuan-perempuan yang kerap dinarasikan dalam perspektif feminis. Sebaliknya, feminisme sejati lahir dari pilihan dan penghormatan. Sayangnya, moralitas kolektif kerap menekan otonomi individu, sehingga ketika seseorang membangun nilai moralnya sendiri dan memilih berdasarkan nuraninya, ia justru dianggap menyimpang dari norma.
Norma masyarakat umumnya bersifat kolektif dan subjektif, ia dipegang dan menjadi peraturan tak tertulis yang mengikat individu dalam suatu sistem yang ketika dilanggar akan menghasilkan konsekuensi sosial. Meskipun di era modern ini, pandangan semacam itu kerap dianggap ketinggalan zaman dan tidak relevan, ia sendiri berhubungan erat dengan budaya dan gaya hidup masyarakat di lingkungan tertentu, sehingga keberadaannya sendiri sebenarnya tidak bisa dinilai hanya dari ‘benar’ atau ‘salah’.
Masalah utama yang memicu perdebatan selama ini, bukan semata-mata terjadi karena perbedaan pandangan. Sebenarnya, ini adalah ketiadaan ruang yang inklusif terhadap variasi individu, terutama secara ideologis. Masalah ini sebenarnya tidak hanya terjadi di lingkungan masyarakat tradisional, melainkan masalah umum yang terjadi di berbagai lingkungan sosial, bahkan yang paling modern sekalipun.
Sistem masyarakat cenderung terjebak pada dikotomi hitam putih yang menempatkan subjek dengan nilai yang berbeda dari nilai di lingkungannya dalam posisi yang salah secara moral. Meskipun sebenarnya itu rasional dan benar dalam sisi moral yang berbeda. Pada dasarnya, tidak ada ideologi yang paling benar ataupun paling salah, karena nilai dan relevansi sebuah ideologi sebenarnya ditentukan oleh seberapa relevan dan logis ia dalam konteks ideologi itu sendiri dan penerapannya.
Dalam feminisme yang sehat, tentu setiap subjek—terlepas dari apapun identitas gender maupun ideologisnya—memiliki hak otonomi atas pilihannya sendiri. Kritik sebenarnya lebih tepat ditujukan dalam ketiadaan penghargaan dan penghormatan atas otonomi itu.
Baca Juga: Hidup Tanpa Bahasa Ibu: Ragam Perlawanan Mama Namblong di Lembah Grime Nawa
Apakah tidak boleh seseorang marah karena harus mengikuti standar sosial yang tidak masuk akal baginya? Tidak bolehkah seorang perempuan feminis memilih peran tradisional bukan karena ‘itu memang sudah seharusnya’ tapi karena ‘itu pilihannya’? Jika masyarakat kita melihat setiap pandangan dan pilihan yang berbeda sebagai sebuah dosa, apakah mengambil hak otonomi yang diciptakan Tuhan untuk setiap individu bukanlah tindakan yang angkuh?
Keberagaman dan kehendak bebas adalah naluri alami manusia. Hal itu, sebenarnya telah tercermin melalui konsep feminisme.
Naluri anak kecil saya membuktikan, bahwa ideologi sebenarnya bersifat sangat personal dan berasal dari pengamatan sebelum terpengaruh oleh faktor eksternal. Sayangnya, ideologi sendiri kerap dijadikan alat politis dan kontrol sosial.
Kebencian atas pandangan yang berbeda, kerap kali muncul karena faktor politis, bukan logis. Maka, jika suatu ideologis dituduhkan sebagai upaya pencucian otak itu tidaklah tepat karena ideologis adalah cara pandang. Pencucian otak yang sebenarnya terjadi ketika seorang individu justru dipaksa menggenggam ideologi yang bertentangan dengan nuraninya sendiri.
Munculnya ideologi ‘perempuan wajib melahirkan’ sebenarnya muncul dari pengamatan antar generasi yang terus mengamati pola yang sama dari waktu ke waktu. Sampai akhirnya beberapa ‘kejadian anomali’ diabaikan dan dianggap sebagai penyimpangan. Meskipun sebenarnya ia adalah bagian dari probabilitas yang secara logis mungkin terjadi.
Secara biologis, reproduksi bagi manusia memang merupakan mekanisme keberlanjutan spesies. Namun manusia terus beradaptasi dengan lingkungan dan secara alami memilih ‘cara paling logis’ untuk bertahan hidup.
Kini, di tengah ancaman kerusakan lingkungan dan ketidakstabilan global, otonomi reproduksi berupa ‘childfree’ menjadi pilihan rasional ketika populasi manusia justru semakin tak terbendung di bumi. Memilih untuk tidak bereproduksi bukanlah bentuk pengingkaran terhadap takdir biologis, melainkan sebuah respons terhadap kondisi individu dan lingkungan. Dalam konteks ini, childfree atau pembatasan keturunan merupakan salah satu manifestasi dari cara manusia bertahan hidup.
Baca Juga: Wiwin Suryadinata, Ibu Korban Perkosaan Mei 1998 Yang Menolak Diam
Tidak semestinya fungsi reproduksi dijadikan alat diskriminasi, terutama bagi perempuan yang diberikan tanggung jawab sosial untuk ‘menghasilkan keturunan’.
Bereproduksi bukan hanya tentang kemuliaan, melainkan tanggung jawab besar yang menentukan bagaimana nasib umat manusia ke depannya. Kehidupan bukan tentang siapa yang bisa menghasilkan keturunan, melainkan bagaimana kehidupan berikutnya bisa hidup lebih baik, berkembang, dan berevolusi.
Ketika reproduksi disebut kodrat, perempuan menjadi objek biologis. Ketika reproduksi menjadi pilihan, perempuan menjadi subjek yang berdaulat.
Tanpa kesadaran yang otonom, memiliki anak hanya akan menjadi keinginan kolektif tanpa kesadaran akan tanggung jawab moral untuk mengelola keinginan itu dengan cara yang beradab.





Comments are closed.